Skip to main content

Tentang Malu: Satu Kata Memikul Tiga Fungsi

 


Tak lama setelah menulis tentang definisi malu yang terinspirasi dari bukunya Brene Brown berjudul the gift imperfection: tak apa-apa tak sempurna, bahwa malu bisa sangat destruktif dan menyerang harga diri manusia, aku kepikiran hal lain. Ada berbagai konteks definisi malu yang kita sendiri sudah akrab, dan tentu saja masing-masingnya perlu didudukkan secara proporsional.

Dalam Islam, kata malu dikenal dengan istilah الحَيَاء (Al-Haya’), yang berakar dari kata الحَيَاة (Al-Hayah) yang berarti kehidupan., banyak hadis menyebut rasa malu ini sebagai sebuah hal yang baik dan ciri orang beriman.

“'Jika engkau tidak malu, maka berbuatlah sesukamu.'";

"Malu-lah kalian kepada Allah dengan sebenar-benarnya malu." Kami menjawab: "Wahai Rasulullah, sungguh kami merasa malu, walhamdulillah." Beliau bersabda: "Bukan sekadar itu. Malu kepada Allah dengan sebenar-benarnya adalah engkau menjaga kepala beserta apa yang dipikirkannya, menjaga perut beserta apa yang dimasukannya, serta selalu mengingat kematian dan kebinasaan. Barang siapa menginginkan kehidupan akhirat, ia akan meninggalkan perhiasan dunia. Siapa yang melakukan hal itu, sungguh ia telah malu kepada Allah dengan sebenar-benarnya.".

Bahasan tentang malu juga banyak dijelaskan para ulama: Ibnul Qayyim melihat malu tumbuh dari perpaduan cinta (mahabbah) dan pengagungan (ta'zhim) kepada Allah; Al-Ghazali memaknainya sebagai rem spiritual hasil dari muraqabah (kesadaran senantiasa diawasi Allah) untuk menahan nafsu sebelum terwujud menjadi tindakan immoril. Sedangkan Imam An-Nawawi menyebut hakikat malu sebagai dorongan internal yang secara aktif menuntun seseorang untuk meninggalkan keburukan sekaligus menjaga hak-hak sesama agar tidak terabaikan.

Di masyarakat jawa, malu juga menjadi salah satu kurikulum penting dalam pendidikan keluarga Jawa. Kalau kamu tertarik membacanya bisa langsung baca bukunya etika jawa karya Franz Magnis Suseno. Jadi menurut beliau, ada dua model penertiban sosial ala masyarakat Jawa: melalui pengulangan secara terus menerus, dan menjadikan rasa malu untuk rem perilaku. Bagi masyarakat Jawa, sejak kecil anak diajari nilai-nilai moral lewat pengulangan norma tutur kata dan perilaku (“Aja rame-rame”, “Matur nuwun, Mbah”). Jika anak membangkang, kontrol awal yang digunakan sering kali dikaitkan dengan narasi gaib atau pengawasan tak kasat mata untuk menanamkan rasa takut dan kepatuhan awal. Begitu melewati usia balita, metode penertiban bergeser secara signifikan. Anak mulai diajarkan tata krama dengan meletakkan cermin "rasa malu" pada tatapan orang lain. Konsep “Isin” (malu) diaktifkan melalui perspektif komunal: apa kata tetangga nanti?, ora elok, atau malu sama saudara. Bagi masyarakat Jawa, menjadi hal yang sangat memalukan untuk memperlihatkan emosi yang meluap-luap, dan berbicara secara “to the point”, ada ungah-unguh aturan yang diajarkan, termasuk soal basa-basi atau “etok etok” tanya seseorang yang lewat di depan rumah, yang jelas-jelas mau ke pasar.

Jadi kalau mau disederhanakan, definisi malu itu bisa beragam, Brene Brown melihat malu dari sudut pandang psikologis internal, bagaimana kita berdamai dengan ketidaksempurnaan diri agar tidak terjebak dalam shame cycle. Ajaran Islam menempatkan malu sebagai navigasi moral spiritual untuk menjaga martabat dan batas etik di hadapan Tuhan dan sesama. Sedangkan dalam Tradisi Jawa, malu merupakan alat  penjaga stabilitas sosial untuk memastikan setiap individu mampu membaca posisi dirinya di tengah komunitas agar harmoni tetap terjaga.

Saya jadi ingat bahasan Uda Ivan Lanin dalam bukunya recehan bahasa bahwa kata bisa memikul dua dunia yang bertolak belakang tanpa saling meniadakan. Contohnya, kata bisa (homonim). Ingat kan, jaman sekolah diajari ada yang namanya homonim (tulisan dan pengucapan sama tapi beda arti) dan homofon (sama pengucapan tapi tulisan dan arti nya beda). Kata bisa bisa berarti "dapat" dan juga "racun", pengucapannya sama sama "bisa". Jadi bisa yang bermakna “dapat” diserap dari bahasa Jawa, sedangkan yang bermakna “racun” disertap dari bahasa Sanskerta. Begitu juga dengan kata sambat. Sambat bisa bermakna menyambung, minta tolong dan juga mengeluh.

Pada akhirnya, kata 'malu' itu mirip seperti kata 'sambat' atau 'bisa' tadi. Malu bisa jadi cermin agar kita bisa berdamai dengan diri sendiri, jadi benteng iman agar tidak mudah terjerumus pada hal-hal yang dibenci Allah, sekaligus jadi rem etis agar kita bisa menjaga ketentraman masyarakat. Tinggal gimana pintar-pintarnya kita nempatin kapan malu itu menyehatkan, dan kapan malu justru perlu kita pangkas.

 

Comments

Popular posts from this blog

Makhraj Bibir dan Maratibul Ghunnah

Perlu diketahui terlebih dahulu makhraj secara bahasa adalah tempat keluar, sedangkan secara istilah tajwid ia merujuk kepada tempat keluarnya huruf dan pembeda antara satu huruf dengan huruf yang lain. Ada perbedaan pendapat ul ama mengenai Jumlah Makhraj: Pendapat Imam Khalil bin Ahmad & Imam Ibnu al-Jazari: Terdapat 17 makhraj secara khusus. Ini adalah pendapat yang paling masyhur. Pendapat Imam Sibawayh: Terdapat 16 makhraj (beliau menggugurkan makhraj Al-Jauf dan memasukkan huruf mad ke makhraj lain). Pendapat Imam Al-Farra & Al-Qutrub: Terdapat 14 makhraj (menggabungkan makhraj Lam, Nun, dan Ra ke dalam satu tempat). 17 makhraj khusus tersebut dikelompokkan kepada 5 bahagian utama: Al-Jauf (Rongga Mulut & Tenggorokan): Tempat keluar bagi 3 huruf Mad (Alif, Wau, Ya). Al-Halq (Tenggorokan): Terbahagi kepada 3 makhraj khusus (Pangkal, Tengah, dan Ujung tenggorokan). Al-Lisan (Lidah): Bahagian paling banyak, ...

Me Time: Insting Bertahan Hidup atau Keegoisan?

                 Sebagai ibu dengan tiga orang anak, saya tahu pentingnya me time untuk menjaga kewarasan. Saya senang menghabiskan waktu untuk jalan-jalan sendiri, sekedar jogging di lapangan atau jalan-jalan dan membaca di toko buku. Perasaan bebas dan menjadi diri sendiri muncul, tapi anehnya, setelah itu perasaan kualahan kembali muncul ketika berhadapan dengan realitas keriuhan anak-anak. Terkadang muncul pikiran bahwa memberi jarak dengan meninggalkan anak-anak barang sejenak adalah sebuah keegoisan. Namun, setelah saya pikir lagi, rasa bersalah ini mungkin salah satu produk dari benturan nilai zaman. Sebagai generasi milenial, saya mungkin dididik sedikit berbeda dengan generasi sebelumnya (Gen X atau baby boomer), salah satunya lebih terbuka soal mengejar cita-cita dan peran ibu pekerja. Namun faktanya, label "ibu yang baik" adalah ibu yang menghabiskan seluruh waktu, energi, dan pikirannya demi anak dan keluarga tanpa sisa, teta...

Mengapa Surah Al-Kautsar Menggunakan Kata An-Nahr? (Menelusuri kandungan, hubungan dengan surah sebelumnya dan peristiwa di balik ayatnya)

  Surah al kautsar merupakan surat terpendek dalam Al Qur’an. Mengapa bukan surah Al Ashr yang sama-sama tiga ayat? Hal ini karena kata-kata penyusun Al Ashr masih lebih banyak dibandingkan surah Al Kautsar. Dari segi tempat turun, surah ini lebih mashur dikenal sebagai surat Makiyyah, turun di kota Makkah, atau sebelum Rasulullah berhijrah ke Madinah. Sebagaimana karakteristik surat Makiyyah yang cenderung pendek-pendek, surah ini pun begitu. Para ulama menyebut surah ini berkaitan dengan peristiwa meninggalnya putra Rasul yaitu Abdullah. Ketika itu para pemuka kafir Quraish mengejek Rasul “terputus keturunannya”, karena bagi masyarakat Quraish, tidak memiliki anak laki-laki adalah sebuah aib. Hal ini dijawab langsung oleh Allah dengan ayat ketiga: اِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْاَبْتَرُ ࣖ   “Sesungguhnya orang yang membencimu, dialah yang terputus”. Namun sebagian ulama lain menyebut surah ini sebagai surah Madaniyah, turun di Madinah, hal ini karena surah ini berkaitan dengan pe...