Skip to main content

Makhraj Bibir dan Maratibul Ghunnah

Perlu diketahui terlebih dahulu makhraj secara bahasa adalah tempat keluar, sedangkan secara istilah tajwid ia merujuk kepada tempat keluarnya huruf dan pembeda antara satu huruf dengan huruf yang lain. Ada perbedaan pendapat ulama mengenai Jumlah Makhraj:

  • Pendapat Imam Khalil bin Ahmad & Imam Ibnu al-Jazari: Terdapat 17 makhraj secara khusus. Ini adalah pendapat yang paling masyhur.
  • Pendapat Imam Sibawayh: Terdapat 16 makhraj (beliau menggugurkan makhraj Al-Jauf dan memasukkan huruf mad ke makhraj lain).
  • Pendapat Imam Al-Farra & Al-Qutrub: Terdapat 14 makhraj (menggabungkan makhraj Lam, Nun, dan Ra ke dalam satu tempat).

17 makhraj khusus tersebut dikelompokkan kepada 5 bahagian utama:

  1. Al-Jauf (Rongga Mulut & Tenggorokan): Tempat keluar bagi 3 huruf Mad (Alif, Wau, Ya).
  2. Al-Halq (Tenggorokan): Terbahagi kepada 3 makhraj khusus (Pangkal, Tengah, dan Ujung tenggorokan).
  3. Al-Lisan (Lidah): Bahagian paling banyak, mempunyai 10 makhraj khusus untuk 18 huruf.
  4. Asy-Syafatain (Dua Bibir): Mempunyai 2 makhraj khusus untuk 4 huruf (Fa, Ba, Mim, Wau).
  5. Al-Khaisyum (Rongga Hidung): Tempat bagi bunyi Ghunnah (dengung), bukan tempat keluar huruf secara zat tetapi tempat keluar sifat bunyi.
Pada bagian ini akan dibahas makhraj syafatain.

Secara bahasa, Asy-Syafatain (الشفتين) artinya dua bibir. Dalam ilmu tajwid, makhraj ini merujuk kepada tempat keluarnya huruf-huruf hijaiyah yang diproses melalui pergerakan bibir atas dan bibir bawah. Terdapat 4 huruf yang keluar dari kawasan ini, yang dibagi dalam dua kategori utama: (a) melibatkan satu Bibir (Bibir Bawah dengan Gigi) Kategori ini hanya melibatkan satu huruf yaitu: Fa (ف): Keluar daripada perut bibir bawah yang bersentuhan dengan ujung gigi seri atas; dan (b) melibatkan dua bibir (Pertemuan Bibir Atas & Bawah). Kategori ini melibatkan tiga huruf Waw (و), Ba (ب) dan Mim (م):

Huruf Fa (ف)

Huruf Fa (ف) keluar daripada  bagian dalam bibir bawah bertemu dengan ujung gigi seri atas (dua gigi depan atas). Bagian dalam bibir adalah bagian yang tidak terlihat ketika mulut tertutup secara normal. Huruf ini memiliki ciri khas yaitu sangat "berangin" dan "ringan" (rikhwah), sehingga dalam pengucapannya, udara akan terasa mengalir (Hamas) dan suara juga mengalir (Rakhawah) di antara celah gigi dan bibir. Sebagai huruf yang lemah, maka jika kita meletakkan dua jari di tenggorokan lalu mengucapkan huruf ini semisal “afff”, tidak akan terasa getaran di bawah jari tersebut. Secara umum, huruf ini mudah, dan memiliki sifat suara yang lunak, rendah, terbuka dan lemah.

Dalam pengucapan huruf ini, sebagian orang sering kali tidak menempelkan gigi seri atas pada bibir bawah, melainkan hanya mempertemukan kedua bibir, sehingga terbaca P atau V , dan hal ini mengakibatkan pelafalan yang kurang sempurna.

Mari Praktikkan!

الْفَلَقِ

نَفَّاثَاتِ فِي

كَيْفَ فَعَلَ

الْفِيْلِ

فَصَلِّ لِرَبِّكَ

الْفَجْرٍِ

فَلْيَعْبُدُوا رَبَّ

فِيهَا خَالِدِيْنَ

أَفْوَاجًا فَسَبِّحْ

فَتْحُ

فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ

فَذَلِكَ الَّذِي

فَمَنْ يَعْمَلْ

فِيهَا سُرُرٌ

فَأُمُّهُ هَاوِيَةٌ

 

 Huruf Wau (و)

Huruf Wawu (و) keluar dengan cara memuncungkan atau membulatkan kedua bibir ke arah depan dengan tetap menyisakan sedikit ruang terbuka di tengahnya. Dalam ilmu tajwid, huruf Wawu (non-mad) memiliki karakteristik yang khas yaitu terasa "lembut" dan "licin". Sehingga, dalam menyebut huruf Wawu, napas akan tertahan (Jahar) namun suara tetap mengalir (Rikhawah) melalui celah bulatan bibir tersebut tanpa adanya hambatan yang kaku.

Perlu menjadi perhatian, tidak sempurna pengucapan huruf ini kecuali dengan membulatkan (memonyongkan) kedua bibir, sehingga ketika huruf ini berjejer bersamaan, seperti وَوَضَعْنَا  diperlukan kehati-hatian, dan tidak boleh tergesa-gesa.

Mari Praktikkan!

وَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ

وَقَبَ وَمِنْ

يُرَاؤُوْنَ وَيَمْنَعُونَ

وَيْلٌ لِكُلِّ

الْقَوْمُ وَالْمَلَائِكَةُ

كَوْثَرَ فَصَلِّ

وَالْعَصْرِ إِنَّ

مَوَازِينُهُ فَهُوَ

وُجُوْهٌ يَوْمَئِذٍ

وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ

وَالسَّمَاءِ وَالطَّارِقِ

وَالضُّحَىٰ وَاللَّيْلِ

وَزَيْتُونًا وَنَخْلًا

وَفَاكِهَةً وَأَبًّا

وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ

 

Huruf Ba (ب)

Huruf Ba (ب) keluar melalui makhraj syafawi, yaitu dengan merapatkan bibir atas dan bawah secara kuat dan sempurna. Dalam ilmu tajwid, huruf Ba memiliki karakter yang tegas karena menyatukan dua sifat kuat: Jahr (tertahannya aliran napas) dan Syiddah (tertahannya aliran suara).

Perpaduan kedua sifat ini menyebabkan suara tertahan secara total saat bibir merapat, yang kemudian harus dilepaskan dengan tekanan udara hingga menghasilkan pantulan yang disebut Qalqalah (saat sukun). Karakteristik ini berbeda dengan huruf "B" dalam bahasa Indonesia; pada huruf Ba, pantulan harus muncul dengan jelas karena sifat kuatnya yang sulit untuk ditahan.

Kekeliruan umum dalam melafalkan Ba adalah menyertakan hembusan napas (hamas) sehingga terdengar seperti huruf "P". Fenomena ini sering dijumpai pada pembacaan basmalah, di mana kata "Bi" keliru diucapkan menjadi "Pi" (Pismillah) atau justru sengau menyerupai huruf Mim (Mismillah). Oleh karena itu, ketepatan makhraj dan penjagaan sifat jahr sangat diperlukan untuk menjaga kemurnian bunyinya.

بِسْمِ اللَّهِ

رَبِّ الْفَلَقِ

لَهَبٍ وَتَبَّ

تَبَّتْ يَدَا

عَبَدْتُمْ

أَبَابِيْلَ

بِالْمُؤْمِنِينَ

لَبِثُوا فِيهَا

بَنَيْنَا فَوْقَكُمْ

الْبُرُوْجِ

بِحِجَارَةٍ مِنْ

بِالدِّيْنِ

بَيْنِ الصُّلْبِ

بَارِزُونَ لِلَّهِ

بِمَا يَعْمَلُونَ

 

 Huruf Mim (Mim)

Huruf Mim (م) terbentuk melalui kolaborasi dua makhraj yang bekerja secara bersamaan. Bagian pertama adalah makhraj syafawi, yaitu merapatnya kedua bibir secara sempurna. Bagian kedua adalah makhraj khaisyumi, yaitu suara yang keluar melalui rongga hidung yang dikenal sebagai Ghunnah.

Gabungan antara rapatnya bibir dan getaran di rongga hidung inilah yang membentuk karakter huruf Mim. Oleh karena itu, sifat ghunnah tidak akan pernah terlepas dari huruf ini, meskipun durasi panjangnya bervariasi tergantung hukum tajwidnya. Tingkatan panjang ghunnah (maratibul ghunnah) terbagi menjadi:

  • Akmal (Paling Sempurna): Pada Mim dan Nun yang bertasydid (musyaddadah) atau idgham.
  • Kamilah (Sempurna): Pada pembacaan samar (ikhfa).
  • Naqishah (Kurang): Pada Mim dan Nun sukun yang dibaca jelas (izhar), seperti pada kata An’amta.
  • Anqash (Paling Kurang/Pendek): Pada huruf Mim dan Nun yang berharakat (ma, mu, mi atau na, nu, ni).

Mari Praktikkan!

مَالِكِ يَوْمِ

الْمُسْتَقِيْمَ صِرَاطَ

مَلِكِ النَّاسِ

مِثْقَالَ ذَرَّةٍ

مَوَازِينُهُ فَأُمُّهُ

مَاعُوْنَ الَّذِينَ

مَأْكُوْلٍ فَجَعَلَهُمْ

تَرْمِيْهِمْ بِحِجَارَةٍ

لَمْ يَلِدْ

مَالًا وَعَدَّدَهُ

مِّن مَّسَدٍ

مَنْ بَخِلَ

مَطْلَعِ الْفَجْرِ

أَمْ لَمْ

مُّسْتَقِيْمٌ هَذَا

 

Contoh Ghunnah Tingkatan Akmal

عَمَّ يَتَسَآءَلُونَ

مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ

ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ

إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ

فَأُمُّهُ هَاوِيَةٌ

فِى جِيْدِهَا حَبْلٌ

مِّن مَّسَدٍ

إِنَّآ أَعْطَيْنَاكَ

مِمَّا خَلَقَ

كَلَّآ إِنَّهَا

جَزَآءً مِّن رَّبِّكَ

عَمَّن تَوَلَّىٰ

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ

لَتَرَوُنَّ الْجَحِيمَ

لَتُسْـَٔلُنَّ يَوْمَئِذٍ

 

Ghunah Tingkatan Akmal pada Idgham

فَمَن يَعْمَلْ

لَهَبٍ وَتَبَّ

مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا

جُوعٍ وَءَامَنَهُم

وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ

مَّن بَخِلَ

نَارًا وَتَبَّ

مَلِكًا نُّقَـٰتِلْ

شَرًّا يَرَهُ

سِرَاجًا وَهَّاجًا

عَامِلَةٌ نَّاصِبَةٌ

نُّطْفَةٍ خَلَقَهُ

غُثَآءً أَحْٰوَى

مِّن مَّادٍّ

خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ

 

Ghunnah Tingkatan Kamilah

مِن شَرِّ

مَن طَغَىٰ

أَنزَلْنَاهُ فِي

خَلَقَ الْإِنسَانَ

كِرَامًا كَاتِبِينَ

یَتِیمًا فَـَٔاوَىٰ

صَفًّا صَفًّا

لَنَسْفَعًا بِالنَّاصِيَةِ

أَمْرًا زَكِيًّا

أَن كَانَ

فَانصَبْ

عَن صَلَاتِهِمْ

نَارًا تَلَظَّىٰ

نُطْفَةٍ خَلَقَهُ

لِيُنذِرَ بَأْسًا

 

Ghunnah Tingkatan Naqisah

أَلَمْ يَجْعَلْ

وَانْحَرْ فَصَلِّ

لَمْ يَلِدْ

أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ

عَنْ صَلَاتِهِمْ

هُمْ فِيهَا

أَمْ لَمْ

لَمْ يَكُنِ

وَمِنْ شَرِّ

مِنْ خَوْفٍ

كَيْدَهُمْ فِي

مِنْ أَهْلِ

أَنْ رَآهُ

فَأَمَّا مَنْ

أَلَمْ نَشْرَحْ

 

Ghunnah Tingkatan Anqas

نَارٌ حَامِيَةٌ

مَاءً ثَجَّاجًا

نَعِيمٍ لَفِي

مَتَاعًا لَّكُمْ

نَاشِطَاتِ وَالنَّا

مَالِكِ يَوْمِ

مَلِكِ النَّاسِ

مَوَازِينُهُ فَأُمُّهُ

مَاعُوْنَ الَّذِينَ

مَطْلَعِ الْفَجْرِ

نَادِيَهُ فَلْيَدْعُ

مَرَاضِعَ حَرَّمْنَا

نَقْعًا فَأَثَرْنَ

مَعَ الْعُسْرِ

نَشَاطًا وَزَادَكَ

Comments

Popular posts from this blog

Me Time: Insting Bertahan Hidup atau Keegoisan?

                 Sebagai ibu dengan tiga orang anak, saya tahu pentingnya me time untuk menjaga kewarasan. Saya senang menghabiskan waktu untuk jalan-jalan sendiri, sekedar jogging di lapangan atau jalan-jalan dan membaca di toko buku. Perasaan bebas dan menjadi diri sendiri muncul, tapi anehnya, setelah itu perasaan kualahan kembali muncul ketika berhadapan dengan realitas keriuhan anak-anak. Terkadang muncul pikiran bahwa memberi jarak dengan meninggalkan anak-anak barang sejenak adalah sebuah keegoisan. Namun, setelah saya pikir lagi, rasa bersalah ini mungkin salah satu produk dari benturan nilai zaman. Sebagai generasi milenial, saya mungkin dididik sedikit berbeda dengan generasi sebelumnya (Gen X atau baby boomer), salah satunya lebih terbuka soal mengejar cita-cita dan peran ibu pekerja. Namun faktanya, label "ibu yang baik" adalah ibu yang menghabiskan seluruh waktu, energi, dan pikirannya demi anak dan keluarga tanpa sisa, teta...

Mengapa Surah Al-Kautsar Menggunakan Kata An-Nahr? (Menelusuri kandungan, hubungan dengan surah sebelumnya dan peristiwa di balik ayatnya)

  Surah al kautsar merupakan surat terpendek dalam Al Qur’an. Mengapa bukan surah Al Ashr yang sama-sama tiga ayat? Hal ini karena kata-kata penyusun Al Ashr masih lebih banyak dibandingkan surah Al Kautsar. Dari segi tempat turun, surah ini lebih mashur dikenal sebagai surat Makiyyah, turun di kota Makkah, atau sebelum Rasulullah berhijrah ke Madinah. Sebagaimana karakteristik surat Makiyyah yang cenderung pendek-pendek, surah ini pun begitu. Para ulama menyebut surah ini berkaitan dengan peristiwa meninggalnya putra Rasul yaitu Abdullah. Ketika itu para pemuka kafir Quraish mengejek Rasul “terputus keturunannya”, karena bagi masyarakat Quraish, tidak memiliki anak laki-laki adalah sebuah aib. Hal ini dijawab langsung oleh Allah dengan ayat ketiga: اِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْاَبْتَرُ ࣖ   “Sesungguhnya orang yang membencimu, dialah yang terputus”. Namun sebagian ulama lain menyebut surah ini sebagai surah Madaniyah, turun di Madinah, hal ini karena surah ini berkaitan dengan pe...