Dalam sebuah acara akhirussanah di sebuah TK, saya diberi kesempatan memberikan sambutan. Di hadapan para orang tua yang hadir, saya mengutip perkataan seorang filsuf bernama Jean-Jacques Rousseau: "Masa kanak-kanak adalah waktu untuk menyemai benih, bukan untuk memanen buah. Biarkan mereka belajar melalui kegembiraan.". Untuk memeperjelas maksud saya mengutip perkataan tersebut, saya memberi permisalah dua jenis tanaman yang berbeda cara bertumbuh: pohon musiman (seperti pisang atau sayur-sayuran) dan pohon bambu. Jika kita menanam sayur atau pisang, dalam hitungan minggu atau bulan, hasilnya sudah bisa langsung kita panen dan nikmati. Namun, ketika yang kita tanam adalah benih bambu, jangan pernah berharap bisa melihat hasilnya dengan cepat. Tanaman bambu membutuhkan waktu empat hingga lima tahun penyiraman dan pemupukan setiap hari. Pada masa itu, ia tidak akan menunjukkan pertumbuhan yang berarti di atas tanah. Di permukaan, ia tampak jalan di tempat, lambat, bahkan...
Sebagai orang tua, pernahkah mengalami kejadian ketika sedang terburu-buru karena ada urusan penting dan mendesak, anak-anak justru melambat? seakan-akan mereka sedang menantang ledakan emosi kita sebagai orang tua. Ibarat kartu domino pertama terjatuh, akan ada rentetan domino lain yang ikut berjatuhan. Kejadian semacam itu mungkin sering kali terjadi dan sangat menguras energi emosi. Jadi kalau ada yang menasehati “ngak papa, lima tahun lagi sudah tidak lagi, tinggal sabar” kayaknya kurang bijak juga, karena ngak mungkin juga kan menyuruh orang tua menahan napas selama 5 tahun dalam budaya yang menuntut kewarasan setiap hari. Orang tua juga butuh solusi sistem, bukan sekadar romantisasi masa depan. Dari segi orang tua, mengapa sih keterlambatan terasa begitu mengancam bagi mereka?. Menurut para sosiolog, manusia modern hidup dalam budaya social acceleration (percepatan sosial), di mana waktu telah dikomodifikasi menjadi mata uang baru yang merepresentasikan uang, reputasi, ...