Sebagai orang tua, pernahkah mengalami kejadian ketika sedang terburu-buru karena ada urusan penting dan mendesak, anak-anak justru melambat? seakan-akan mereka sedang menantang ledakan emosi kita sebagai orang tua. Ibarat kartu domino pertama terjatuh, akan ada rentetan domino lain yang ikut berjatuhan. Kejadian semacam itu mungkin sering kali terjadi dan sangat menguras energi emosi. Jadi kalau ada yang menasehati “ngak papa, lima tahun lagi sudah tidak lagi, tinggal sabar” kayaknya kurang bijak juga, karena ngak mungkin juga kan menyuruh orang tua menahan napas selama 5 tahun dalam budaya yang menuntut kewarasan setiap hari. Orang tua juga butuh solusi sistem, bukan sekadar romantisasi masa depan. Dari segi orang tua, mengapa sih keterlambatan terasa begitu mengancam bagi mereka?. Menurut para sosiolog, manusia modern hidup dalam budaya social acceleration (percepatan sosial), di mana waktu telah dikomodifikasi menjadi mata uang baru yang merepresentasikan uang, reputasi, ...
Descartes pernah berkata, membaca buku bagus ibarat bercakap-cakap dengan para pemikir hebat masa lalu. Lewat untaian kata, buku dapat menjelma sebagai jembatan kebijaksanaan, tempat khazanah keilmuan dirawat dan diwariskan dari generasi ke generasi. Oleh karena itu, orang tua yang membacakan buku kepada anak-anak mereka sejak dini, sedang menyerahkan 'kunci emas' kepada anak-anak mereka untuk membuka gerbang dunia yang tak terbatas: dunia imajinasi, ilmu pengetahuan, dan empati. Uniknya, bagi anak-anak, gerbang dunia itu tidak hanya lewat ensiklopedia, tapi juga fabel. Ada beberapa fabel favorit anak saya, diantaranya seri franklin karya Paulette Bourgeois dan kisah Benyamin Kelinci karya Beatrix Potter. Tapi kali ini bahas Benyamin Kelinci dulu. Jadi ceritanya Benjamin adalah seekor kelinci cerdik dengan tingkat kepercayan diri yang baik. Gaya berpakaiannya nyentrik, ia memakai topi rajut wol longgar, tradisional khas Skotlandia, berbentuk bulat dan agak ceper berwarna hi...