Aku terkadang menyempatkan duduk-duduk sekedar makan soto dan minum es teh di dekat waduk Cengklik. Setiap kesana aku selalu penasaran dengan bapak bapak yang jejer-jejer mancing, ada juga yang mancingnya sambil nyebur ke air. Sebenarnya mereka sekedar menjalankan hobi atau justru memang itulah profesi, mata pencaharian mereka. Jika itu hobi, apakah mereka mencari ketenangan dan kesunyian?. Jika sekedar hobi, waduk dengan segala hiruk pikuknya memang memberikan ketenangan tanpa syarat. Kalau itu hobi, memancing seharian memang bukan tentang mengumpulkan ikan, tapi cara mereka menjeda tuntutan, entah dari tekanan pekerjaan, ekspektasi sosial, atau hiruk-pikuk kehidupan di rumah yang membuat mereka ingin "lari" sejenak dari peran sehari-hari. Tapi jika itu pencaharian, pemandangan bapak bapak mancing seharian itu berubah jadi potret kerasnya perjuangan manusia. Disudut yang lain ada orang-orang yang duduk makan-makan berhaha hihi, ada juga anak-anak muda berdandan rapi selfie ...
Masjid tempatku mengaji dulu dekat dengan sebuah sungai. Pagi sampai malam sering banyak anak-anak punk yang tidur berjejeran di semak-semak pinggir sungai tersebut. Dulu aku berpikir "sekeras apa hidup mereka, kok hidupnya cuma disia-siakan saja". Pertanyaan yang kalau dipikir-pikir lebih ke judgment daripada rasa ibu. Tapi setelah melihat banyaknya hal semacam itu, perspektifku tentang mereka pun berubah. Banyak orang tidak punya banyak pilihan dalam hidup mereka. Bisa saja hidup menggelandang adalah satu-satunya cara aman mereka untuk hidup. Kita tidak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi pada mereka. Jerat lingkaran kemiskinan struktural itu nyata adanya. Aku jadi ingat, jaman sekolah MA dulu, sepekan tiga kali aku dan teman-temanku ditugaskan mengajar TPA dikawasan dekat tempat prostitusi. Kalau ada pepatah mengatakan "tidak ada pencuri yang pingin anaknya jadi pencuri" menurutku tidak selalu benar. Aku tahu sendiri, anak-anak yang kami ajarkan ngaji, ny...