Tak lama setelah menulis tentang definisi malu yang terinspirasi dari bukunya Brene Brown berjudul the gift imperfection: tak apa-apa tak sempurna, bahwa malu bisa sangat destruktif dan menyerang harga diri manusia, aku kepikiran hal lain. Ada berbagai konteks definisi malu yang kita sendiri sudah akrab, dan tentu saja masing-masingnya perlu didudukkan secara proporsional. Dalam Islam, kata malu dikenal dengan istilah الحَيَاء ( Al-Haya’ ), yang berakar dari kata الحَيَاة ( Al-Hayah ) yang berarti kehidupan., banyak hadis menyebut rasa malu ini sebagai sebuah hal yang baik dan ciri orang beriman. “'Jika engkau tidak malu, maka berbuatlah sesukamu.'"; "Malu-lah kalian kepada Allah dengan sebenar-benarnya malu." Kami menjawab: "Wahai Rasulullah, sungguh kami merasa malu, walhamdulillah." Beliau bersabda: "Bukan sekadar itu. Malu kepada Allah dengan sebenar-benarnya adalah engkau menjaga kepala beserta apa yang dipikirkannya, menjaga perut...
Ada perbedaan antara rasa malu (shame) dan rasa bersalah (guilt). Sederhananya, "saya buruk" adalah contoh rasa malu, sedangkan "saya melakukan sesuatu yang buruk" adalah contoh rasa bersalah. Perbedaan keduanya terletak pada fokus penilaiannya. Rasa bersalah berfokus pada perilaku, "saya melakukan kesalahan", sehingga mendorong introspeksi, permohonan maaf, dan ruang untuk perbaikan. Sebaliknya, rasa malu berfokus pada identitas, "saya adalah kesalahan", yang secara perlahan menghakimi keberadaan diri, mengikis harga diri, dan memicu dorongan untuk bersembunyi. Jadi kalau ditanya mana diantara keduanya yang lebih berbahaya, mungkin jawabannya adalah rasa malu. Rasa malu seringkali muncul didasar lubuk hati kita sebagai pertentangan batin kita sendiri, dan menjadi suara batin kita. Menjadikan kita rentan, dan baperan, hehehe.... (Menunjuk diri sendiri). Jika kamu perempuan yang juga menjalankan peran sebagai pribadi, istri, dan ibu, coba renungka...