Jujur sejak kecil saya takut demit. Walaupun pernah nyantri yang kamarnya bersebelahan dengan kuburan terbesar di Jawa Tengah yaitu kuburan Bonoloyo, tetap saja sampai sekarang saya takut demit. Suamiku sering meledeki “apal Qur’an wedi demit”. Bagiku takut demit bukan soal tipisnya iman, tapi pengalaman masa kecil yang sering ditakut-takuti demit. Dari situ aku berkeyakinan, orang dewasa memang harus berhati-hati dengan apa yang disampaikan kepada anak. Jangan sekali-kali menanggap sepele niatan “bercanda” yang dampaknya bisa dibawa seumur hidup seseorang. Pepatah mengatakan mengajari seseorang di waktu kecil ibarat memahat di atas batu. Begitulah kira-kira jadinya. Kejadian di masa kecil meskipun tidak bisa diingat secara keseluruhannya, menjadi inner voice (suara dalam) anak kecil yang telah tumbuh dewasa, dan berdampak pada laku hidupnya, termasuk bagaimana membuat keputusan besar dalam hidupnya. Sebagaimana saya pernah menulis tentang demit sebagai cara penanaman kepatuh...
Tak lama setelah menulis tentang definisi malu yang terinspirasi dari bukunya Brene Brown berjudul the gift imperfection: tak apa-apa tak sempurna, bahwa malu bisa sangat destruktif dan menyerang harga diri manusia, aku kepikiran hal lain. Ada berbagai konteks definisi malu yang kita sendiri sudah akrab, dan tentu saja masing-masingnya perlu didudukkan secara proporsional. Dalam Islam, kata malu dikenal dengan istilah الحَيَاء ( Al-Haya’ ), yang berakar dari kata الحَيَاة ( Al-Hayah ) yang berarti kehidupan., banyak hadis menyebut rasa malu ini sebagai sebuah hal yang baik dan ciri orang beriman. “'Jika engkau tidak malu, maka berbuatlah sesukamu.'"; "Malu-lah kalian kepada Allah dengan sebenar-benarnya malu." Kami menjawab: "Wahai Rasulullah, sungguh kami merasa malu, walhamdulillah." Beliau bersabda: "Bukan sekadar itu. Malu kepada Allah dengan sebenar-benarnya adalah engkau menjaga kepala beserta apa yang dipikirkannya, menjaga perut...