Tidak mudah membaca buku cerita anak-anak, karena untuk memahaminya, kita harus melepaskan atribut dan cara berpikir "kedewasaan" kita, dan menggantinya dengan sudut pandang khas anak-anak. Tapi begitu itu berhasil dilakukan, kita akan menemukan kepolosan, kejujuran dan ketulusan mereka. Aku akan tunjukkan betapa menariknya membaca buku anak-anak bagi orang dewasa. Ada salah satu percakapan yang begitu membekas yang kudapatkan dari buku "the house at Pooh Corner" karya A.A Milne. Jujur beberapa hari setelah selesai baca buku itu aku terus saja kepikiran. Yaitu percakapan antara Christopher Robin dan Eeyore: “rumah seperti apa?” “rumah biasa” “siapa penghuninya” “Aku. Paling tidak, kupikir aku penghuninya. Tapi, ternyata bukan. Lagi pula, tidak semua orang bisa punya rumah." kepolosan Eeyor mengingatkan kita bahwa bangunan fisik hanyalah tempat tinggal, tetapi rumah adalah rasa aman, tempat pulang, dan ruang di mana kamu merasa cukup menjadi diri...
Akhir-akhir ini saya cukup tertarik membaca sastra klasik, salah satunya harimau! Harimau! karya Muchtar Lubis. Ini buku kedua beliau yang saya baca setelah buku jalan tak ada ujung, yang menceritakan perjalanan dan perang batin guru Isa melewati perjuangan tanpa ujung meraih kemerdekaan, termasuk kemerdekaan atas ketakutan dirinya sendiri. Dua buku tersebut sebenarnya sangat berkesan luar biasa bagiku, namun ada beberapa bagaian yang membuat kurang nyaman ketika membaca harimau! Harimau!. Jadi, buku harimau! Harimau! menceritakan berbagai rupa-rupa karakter dan tabiat manusia, supaya kita tidak mudah terpukau terhadap seseorang yang terlihat sempurna, penuh kharismatik dan kaya akan pengalaman hidup, dan sebaliknya, tak boleh menyepelekan orang yang terasa bisa-bisa saja. Dalam hal ini saya sepakat bahwa Mochtar Lubis memang sangat genius dalam membedah psikologi manusia, ketakutan, dan kemunafikan. Bagian yang kurang nyaman adalah ketika Muchtar Lubis menggambarkan sosok be...