Skip to main content

Posts

Menulislah Seperti Bicara pada Teman Dekat" — Pelajaran Menulis dari A.S. Laksana

 Kata Tony Buzan, penemu mind mapping, rahasia mengasah kreativitas adalah dengan mendekatkan tangan ke otak, alias menulis. Itu kenapa sekarang aku mulai membiasakan menulis. Menulis ide apa saja yang melintas di kepalaku.  Keinginan menulis sebenarnya sudah lama ada, tapi baru akhir akhir ini aja terwujud. Dulunya aku pemalu dan tidak percaya diri, sekarang memberanikan menulis di blog pribadi, jurnal harian, review pengalaman membaca buku di IG dan juga wa status.  Dulu polanya selalu sama: tulis satu kalimat, baca ulang, ragu, lalu hapus. Tulis lagi, hapus lagi. Akhire tidak pernah jadi-jadi. Sampai aku ketemu buku creative writing mas A.S Laksana. Kata beliau, menulislah seperti kamu sedang berbicara dengan teman dekatmu. Tulis saja, tidak perlu menunggu mood atau punya ide menulis, karena salah satu cara memancing mood dan ide adalah dengan menulis itu sendiri. Menulis memang bukan keterampilan yang berdiri sendiri. Ia tumbuh dari kebiasaan-kebiasaan lain, salah sat...
Recent posts

Mengenal Sifat Syiddah: Seri Modul Tahsin Juz 30

  Syiddah Pengertian Secara Bahasa (Etimologi) Secara bahasa, Syiddah ( الشِّدَّةُ ) memiliki arti Al-Quwwah ( القُوَّةُ ), yang berarti kuat atau keras. Pengertian Secara Istilah (Terminologi Tajwid) Secara istilah ilmu tajwid, Syiddah adalah tertahannya aliran suara secara sempurna saat mengucapkan suatu huruf. Hal ini terjadi karena penutupan makhraj (tempat keluarnya huruf) yang sangat rapat dan kuat, sehingga suara tidak bisa mengalir melewatinya. Sebagai lawan dari sifat Rakhawah (mengalirnya suara), sifat syiddah mengharuskan pembacanya memberikan tekanan yang kuat pada makhraj kedelapan hurufnya ( أَجِدُ قَطٍ بَكَتْ ) sebelum akhirnya suara tersebut dilepaskan, dipantulkan (pada huruf Qalqalah), atau disertai hembusan nafas (pada huruf Hams).   Contoh huruf syiddah   No Huruf Syiddah Contoh 1 Contoh 2 Contoh 3 1 Hamzah ( أ / ء ) يَوْمَ يَفِرُّ ال...

Belajar Mencintai Rutinitas dari Haruki Murakami

  Karya Haruki Murakami berjudul What I Talk About When I Talk About Running adalah salah satu buku yang menginspirasiku untuk mencintai rutinitas. Kalau Haruki memilih lari dan menulis, maka saya memilih ngaji, berjalan kaki sambil menikmati musik, juga membaca buku dan menulis. Setidaknya ada tiga point yang aku garis bawahi dari buku itu: Pertama, "pain is inevitable. suffering is optional." (rasa sakit itu tidak bisa dihindari, namun, penderitaan adalah pilihan); Kedua, "If I can find a reason not to run, I can find a million. All I can do is keep on running." (Jika aku mencari alasan untuk tidak berlari, aku bisa menemukan sejuta alasan. Yang bisa kulakukan hanyalah terus berlari.) dan ketiga "I just run. I run in a void. Or maybe I should put it the other way: I run in order to acquire a void." (Aku hanya berlari. Aku berlari dalam kekosongan. Atau mungkin sebaliknya: aku berlari untuk mendapatkan kekosongan itu). Aku mencoba merefleksikan buk...

Ketika anak tidak lancar menghafal: antara tidak mau, tidak tahu, dan tidak mampu

  Pagi tadi aku mengeluh sama pak suami tentang hafalan anakku dan juga pengajaran tahfidz di sekolah mereka. Menurutku, harus ada jeda yang cukup untuk memantapkan hafalan sebelum menambah yang baru. Setidaknya itu yang aku pelajari selama menjadi penghafal Quran. Apalah gunanya kuantitas yang banyak tanpa kualitas, pikirku begitu. Tapi suamiku menjawab dengan sangat sederhana “aku malah setuju, anak ki ya perlu merasa pernah hafal dulu”. Aku jadi tertampar dengan jawaban itu, aku yang pernah menyelesaikan hafalan Quran 15tahun yang lalu pun sapai sekarang masih jatuh bangun untuk menjaga hafalan.   Ikut daurah sana-sini, itu pun masih lepas sana lepas sini. Mengapa aku meminta hafalan yang kuat dari anak yang baru mulai menghafal Quran, dan dari mereka yang sebenarnya tidak tahu tujuan dan manfaat dari menghafalkan Quran itu sendiri. Jujur aku merasa bersalah kadang memperlihatkan kejengkelan di depan mereka. Aku jadi ingat salah satu nasihat guruku bahwa yang dibangun ada...

Belajar menerima dari buku cerita anak "the house at Pooh Corner"

  Tidak mudah membaca buku cerita anak-anak, karena untuk memahaminya, kita harus melepaskan atribut dan cara berpikir "kedewasaan" kita, dan menggantinya dengan sudut pandang khas anak-anak. Tapi begitu itu berhasil dilakukan, kita akan menemukan kepolosan, kejujuran dan ketulusan mereka. Aku akan tunjukkan betapa menariknya membaca buku anak-anak bagi orang dewasa. Ada salah satu percakapan yang begitu membekas yang kudapatkan dari buku "the house at Pooh Corner" karya A.A Milne. Jujur beberapa hari setelah selesai baca buku itu aku terus saja kepikiran. Yaitu percakapan antara Christopher Robin dan Eeyore: “rumah seperti apa?” “rumah biasa” “siapa penghuninya” “Aku. Paling tidak, kupikir aku penghuninya. Tapi, ternyata bukan. Lagi pula, tidak semua orang bisa punya rumah." kepolosan Eeyor mengingatkan kita bahwa bangunan fisik hanyalah tempat tinggal, tetapi rumah adalah rasa aman, tempat pulang, dan ruang di mana kamu merasa cukup menjadi diri...