Pagi tadi aku mengeluh sama pak suami tentang hafalan anakku dan juga pengajaran tahfidz di sekolah mereka. Menurutku, harus ada jeda yang cukup untuk memantapkan hafalan sebelum menambah yang baru. Setidaknya itu yang aku pelajari selama menjadi penghafal Quran. Apalah gunanya kuantitas yang banyak tanpa kualitas, pikirku begitu. Tapi suamiku menjawab dengan sangat sederhana “aku malah setuju, anak ki ya perlu merasa pernah hafal dulu”. Aku jadi tertampar dengan jawaban itu, aku yang pernah menyelesaikan hafalan Quran 15tahun yang lalu pun sapai sekarang masih jatuh bangun untuk menjaga hafalan. Ikut daurah sana-sini, itu pun masih lepas sana lepas sini. Mengapa aku meminta hafalan yang kuat dari anak yang baru mulai menghafal Quran, dan dari mereka yang sebenarnya tidak tahu tujuan dan manfaat dari menghafalkan Quran itu sendiri. Jujur aku merasa bersalah kadang memperlihatkan kejengkelan di depan mereka. Aku jadi ingat salah satu nasihat guruku bahwa yang dibangun ada...
Tidak mudah membaca buku cerita anak-anak, karena untuk memahaminya, kita harus melepaskan atribut dan cara berpikir "kedewasaan" kita, dan menggantinya dengan sudut pandang khas anak-anak. Tapi begitu itu berhasil dilakukan, kita akan menemukan kepolosan, kejujuran dan ketulusan mereka. Aku akan tunjukkan betapa menariknya membaca buku anak-anak bagi orang dewasa. Ada salah satu percakapan yang begitu membekas yang kudapatkan dari buku "the house at Pooh Corner" karya A.A Milne. Jujur beberapa hari setelah selesai baca buku itu aku terus saja kepikiran. Yaitu percakapan antara Christopher Robin dan Eeyore: “rumah seperti apa?” “rumah biasa” “siapa penghuninya” “Aku. Paling tidak, kupikir aku penghuninya. Tapi, ternyata bukan. Lagi pula, tidak semua orang bisa punya rumah." kepolosan Eeyor mengingatkan kita bahwa bangunan fisik hanyalah tempat tinggal, tetapi rumah adalah rasa aman, tempat pulang, dan ruang di mana kamu merasa cukup menjadi diri...