Tiba-tiba aku teringat dengan bahasan Prof Khomarudin Hidayat tentang metafora pintu dalam buku beliau penjara-penjara kehidupan. Kehidupan manusia itu selalu berurusan dengan pintu. Di rumah, ada pintu rumah, pintu kamar tidur, pintu kamar mandi. Keluar rumah, kita melewati pintu pagar, kemudian masuk ke pintu mobil dan seterusnya yang lain. Ada kalanya pintu itu mudah untuk kita dapati tempat keluarnya, tapi ada pintu yang begitu kita masuk, kita terjebak dalam labirin yang sulit sekali ditembus untuk mencari jalan keluar. Gampangnya saja, ketika kita salah masuk pintu tol saja, perjalanan kita bisa jadi semakin jauh bahkan kesasar. Tapi ini tidak hanya soal pintu tol, tapi juga pintu kehidupan yang bisa berpengaruh pada arah jalan hidup kita, ada pintu rumah tangga, pintu karier, pintu relasi, hingga pintu pilihan moral. Hakikatnya manusia adalah makhluk yang rapuh, itu kenapa, Rasulullah senantiasa mengajarkan doa-doa dan dzikir-dzikir, agar hari-hari kita selalu terbi...
Tadi sore aku menikmati sukun godok di rumah ibu. Ternyata, sukun godok rasanya tak kalah nikmat dengan yang digoreng. Beberapa kali aku menawari anak-anakku untuk mencicipinya, tapi mereka semua enggan. Kalau dipikir-pikir, anak-anak sekarang memang kurang mengenal ragam makanan tradisional. Mereka kurang diperkenalkan, sehingga menjadi asing bagi mereka. Ditambah tampilan makanan tradisional biasanya tidak semenarik jajanan dan kudapan anak-anak zaman sekarang. Padahal, di balik makanan sederhana yang kelihatannya kurang menarik itu, sering kali tersimpan sejarah yang sangat panjang. Aku jadi ingat salah satu ulasan buku menarik berjudul “Buku Mustika Rasa: Resep Masakan Indonesia Warisan Sukarno” yang terbit pertama kali tahun 1967. Buku tersebut diprakarsai oleh Sukarno, dibantu istri beliau bernama Ibu Hartini. Ibu Hartini ini salah satu istri Sukarno, yang konon cerita dinikahi karena kemahirannya memasak sayur lodeh, masakan khas Jawa Tengah. Ibaratnya dari lidah ...