Pagi-pagi dibuat merenung oleh tulisan mbak Desi Anwar di bukunya “Hidup Sederhana: Hadir di Sini dan Saat ini” tentang kesuksesan. Kata beliau: kita sering merasa kita sudah tahu apa itu sukses. Sukses adalah sesuatu yang kita inginkan dan siap kita kerjakan selama hidup kita. Setiap orang mengatakan ingin sukses, dan hanya bila sudah sukses akan senang dan puas. Tapi jika ditanya apa itu sukses, kita mendefinisikannya dengan cara membandingkan diri dengan orang lain dan keadaan mereka. Kita pikir, sukses berarti memiliki lebih banyak benda dari tetangga, digaji dengan gaji lebih tinggi dari rekan kerja, punya posisi dan karier yang lebih baik ketimbang teman-teman, juga rumah dan mobil yang lebih ketimbang anggota keluarga lain. Padahal definisi ini akan membuatnya menjadi sesuatu yang tidak dapat dicapai dan dipenuhi, karena akan ada orang yang mendapat “sukses” lebih dan lebih lagi. Nggak akan kurang-kurang kalau kita mencari yang lebih. Jadi mau sampai kapan mengejar g...
Tiba-tiba aku teringat dengan bahasan Prof Khomarudin Hidayat tentang metafora pintu dalam buku beliau penjara-penjara kehidupan. Kehidupan manusia itu selalu berurusan dengan pintu. Di rumah, ada pintu rumah, pintu kamar tidur, pintu kamar mandi. Keluar rumah, kita melewati pintu pagar, kemudian masuk ke pintu mobil dan seterusnya yang lain. Ada kalanya pintu itu mudah untuk kita dapati tempat keluarnya, tapi ada pintu yang begitu kita masuk, kita terjebak dalam labirin yang sulit sekali ditembus untuk mencari jalan keluar. Gampangnya saja, ketika kita salah masuk pintu tol saja, perjalanan kita bisa jadi semakin jauh bahkan kesasar. Tapi ini tidak hanya soal pintu tol, tapi juga pintu kehidupan yang bisa berpengaruh pada arah jalan hidup kita, ada pintu rumah tangga, pintu karier, pintu relasi, hingga pintu pilihan moral. Hakikatnya manusia adalah makhluk yang rapuh, itu kenapa, Rasulullah senantiasa mengajarkan doa-doa dan dzikir-dzikir, agar hari-hari kita selalu terbi...