Kalau kamu suka baca buku-buku self improvement dari penulis-penulis Barat, kamu bakal nggak asing dengan kalimat-kalimat semacam: jadilah diri sendiri, masa bodoh dengan orang lain, jadilah otentik. Kalau dibaca memang menjadikan kita bersemangat dan seperti ada bisikan atau inner-voice semacam “ini lo yang aku pingin”. Bulan ini (agustus 2026) aku menyelesaikan membaca the gifts of imperfection karya Brene Brown, dan disaat yang sama karena ada kebutuhan untuk mengajar materi kuliah Islam dan Budaya Jawa, saya juga membaca bukunya etika Jawa: sebuah analisa falsafi tentang kebijaksanaan hidup Jawa, karya Prof Franz Magnis Suseno, dari situ aku menyadari bahwa perbedaan budaya itu jangan saling dipertentangkan dan dibanding-bandingkan, karena berangkat dari realitas yang berbeda. Jangan sampai kita silau dengan budaya luar dan merendahkan nilai falsafi kehidupan nyata kita sendiri. Ingat kawan, bukan rumput tetangga yang lebih hijau, tapi rumput yang dirawat dengan baik...
Jujur sejak kecil saya takut demit. Walaupun pernah nyantri yang kamarnya bersebelahan dengan kuburan terbesar di Jawa Tengah yaitu kuburan Bonoloyo, tetap saja sampai sekarang saya takut demit. Suamiku sering meledeki “apal Qur’an wedi demit”. Bagiku takut demit bukan soal tipisnya iman, tapi pengalaman masa kecil yang sering ditakut-takuti demit. Dari situ aku berkeyakinan, orang dewasa memang harus berhati-hati dengan apa yang disampaikan kepada anak. Jangan sekali-kali menanggap sepele niatan “bercanda” yang dampaknya bisa dibawa seumur hidup seseorang. Pepatah mengatakan mengajari seseorang di waktu kecil ibarat memahat di atas batu. Begitulah kira-kira jadinya. Kejadian di masa kecil meskipun tidak bisa diingat secara keseluruhannya, menjadi inner voice (suara dalam) anak kecil yang telah tumbuh dewasa, dan berdampak pada laku hidupnya, termasuk bagaimana membuat keputusan besar dalam hidupnya. Sebagaimana saya pernah menulis tentang demit sebagai cara penanaman kepatuh...