Skip to main content

Posts

Tentang Malu: Satu Kata Memikul Tiga Fungsi

  Tak lama setelah menulis tentang definisi malu yang terinspirasi dari bukunya Brene Brown berjudul the gift imperfection: tak apa-apa tak sempurna, bahwa malu bisa sangat destruktif dan menyerang harga diri manusia, aku kepikiran hal lain. Ada berbagai konteks definisi malu yang kita sendiri sudah akrab, dan tentu saja masing-masingnya perlu didudukkan secara proporsional. Dalam Islam, kata malu dikenal dengan istilah الحَيَاء ( Al-Haya’ ), yang berakar dari kata الحَيَاة ( Al-Hayah ) yang berarti kehidupan., banyak hadis menyebut rasa malu ini sebagai sebuah hal yang baik dan ciri orang beriman. “'Jika engkau tidak malu, maka berbuatlah sesukamu.'"; "Malu-lah kalian kepada Allah dengan sebenar-benarnya malu." Kami menjawab: "Wahai Rasulullah, sungguh kami merasa malu, walhamdulillah." Beliau bersabda: "Bukan sekadar itu. Malu kepada Allah dengan sebenar-benarnya adalah engkau menjaga kepala beserta apa yang dipikirkannya, menjaga perut...
Recent posts

Not too much, just enough

Ada perbedaan antara rasa malu (shame) dan rasa bersalah (guilt). Sederhananya, "saya buruk" adalah contoh rasa malu, sedangkan "saya melakukan sesuatu yang buruk" adalah contoh rasa bersalah. Perbedaan keduanya terletak pada fokus penilaiannya. Rasa bersalah berfokus pada perilaku, "saya melakukan kesalahan", sehingga mendorong introspeksi, permohonan maaf, dan ruang untuk perbaikan. Sebaliknya, rasa malu berfokus pada identitas, "saya adalah kesalahan", yang secara perlahan menghakimi keberadaan diri, mengikis harga diri, dan memicu dorongan untuk bersembunyi. Jadi kalau ditanya mana diantara keduanya yang lebih berbahaya, mungkin jawabannya adalah rasa malu. Rasa malu seringkali muncul didasar lubuk hati kita sebagai pertentangan batin kita sendiri, dan menjadi suara batin kita. Menjadikan kita rentan, dan baperan, hehehe.... (Menunjuk diri sendiri). Jika kamu perempuan yang juga menjalankan peran sebagai pribadi, istri, dan ibu, coba renungka...

Pemancing Waduk Cengklik: Sekadar Hobi atau Penyambung Hidup?

Aku terkadang menyempatkan duduk-duduk sekedar makan soto dan minum es teh di dekat waduk Cengklik. Setiap kesana aku selalu penasaran dengan bapak bapak yang jejer-jejer mancing, ada juga yang mancingnya sambil nyebur ke air. Sebenarnya mereka sekedar menjalankan hobi atau justru memang itulah profesi, mata pencaharian mereka.  Jika itu hobi, apakah mereka mencari ketenangan dan kesunyian?. Jika sekedar hobi, waduk dengan segala hiruk pikuknya memang memberikan ketenangan tanpa syarat. Kalau itu hobi, memancing seharian memang bukan tentang mengumpulkan ikan, tapi cara mereka menjeda tuntutan, entah dari tekanan pekerjaan, ekspektasi sosial, atau hiruk-pikuk kehidupan di rumah yang membuat mereka ingin "lari" sejenak dari peran sehari-hari. Tapi jika itu pencaharian, pemandangan bapak bapak mancing seharian itu berubah jadi potret kerasnya perjuangan manusia. Disudut yang lain ada orang-orang yang duduk makan-makan berhaha hihi, ada juga anak-anak muda berdandan rapi selfie ...

Belajar dari Mereka yang Terlempar ke Jalan

  Masjid tempatku mengaji dulu dekat dengan sebuah sungai. Pagi sampai malam sering banyak anak-anak punk yang tidur berjejeran di semak-semak pinggir sungai tersebut. Dulu aku berpikir "sekeras apa hidup mereka, kok hidupnya cuma disia-siakan saja". Pertanyaan yang kalau dipikir-pikir lebih ke judgment daripada rasa ibu.   Tapi setelah melihat banyaknya hal semacam itu, perspektifku tentang mereka pun berubah. Banyak orang tidak punya banyak pilihan dalam hidup mereka. Bisa saja hidup menggelandang adalah satu-satunya cara aman mereka untuk hidup. Kita tidak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi pada mereka. Jerat lingkaran kemiskinan struktural itu nyata adanya. Aku jadi ingat, jaman sekolah MA dulu, sepekan tiga kali aku dan teman-temanku ditugaskan mengajar TPA dikawasan dekat tempat prostitusi. Kalau ada pepatah mengatakan "tidak ada pencuri yang pingin anaknya jadi pencuri" menurutku tidak selalu benar. Aku tahu sendiri, anak-anak yang kami ajarkan ngaji, ny...

Mau Sampai Kapan Mengejar Garis Finis Orang Lain?

Pagi-pagi dibuat merenung oleh tulisan mbak Desi Anwar di bukunya “Hidup Sederhana: Hadir di Sini dan Saat ini” tentang kesuksesan. Kata beliau: kita sering merasa kita sudah tahu apa itu sukses. Sukses adalah sesuatu yang kita inginkan dan siap kita kerjakan selama hidup kita. Setiap orang mengatakan ingin sukses, dan hanya bila sudah sukses akan senang dan puas. Tapi jika ditanya apa itu sukses, kita mendefinisikannya dengan cara membandingkan diri dengan orang lain dan keadaan mereka.  Kita pikir, sukses berarti memiliki lebih banyak benda dari tetangga, digaji dengan gaji lebih tinggi dari rekan kerja, punya posisi dan karier yang lebih baik ketimbang teman-teman, juga rumah dan mobil yang lebih ketimbang anggota keluarga lain. Padahal definisi ini akan membuatnya menjadi sesuatu yang tidak dapat dicapai dan dipenuhi, karena akan ada orang yang mendapat “sukses” lebih dan lebih lagi. Nggak akan kurang-kurang kalau kita mencari yang lebih. Jadi   mau sampai kapan mengejar g...

Awas Salah Masuk Pintu: Metafora Pintu Kehidupan dan Rahasia Perlindungan Surah An Nas

  Tiba-tiba aku teringat dengan bahasan Prof Khomarudin Hidayat tentang metafora pintu dalam buku beliau penjara-penjara kehidupan.   Kehidupan manusia itu selalu berurusan dengan pintu. Di rumah, ada pintu rumah, pintu kamar tidur, pintu kamar mandi. Keluar rumah, kita melewati pintu pagar, kemudian masuk ke pintu mobil dan seterusnya yang lain. Ada kalanya pintu itu mudah untuk kita dapati tempat keluarnya, tapi ada pintu yang begitu kita masuk, kita terjebak dalam labirin yang sulit sekali ditembus untuk mencari jalan keluar. Gampangnya saja, ketika kita salah masuk pintu tol saja, perjalanan kita bisa jadi semakin jauh bahkan kesasar. Tapi ini tidak hanya soal pintu tol, tapi juga pintu kehidupan yang bisa berpengaruh pada arah jalan hidup kita, ada pintu rumah tangga, pintu karier, pintu relasi, hingga pintu pilihan moral. Hakikatnya manusia adalah makhluk yang rapuh, itu kenapa, Rasulullah senantiasa mengajarkan doa-doa dan dzikir-dzikir, agar hari-hari kita selalu terbi...

Sukun Godok dan Ingatan Sejarah yang Terlupakan

  Tadi sore aku menikmati sukun godok di rumah ibu. Ternyata, sukun godok rasanya tak kalah nikmat dengan yang digoreng. Beberapa kali aku menawari anak-anakku untuk mencicipinya, tapi mereka semua enggan. Kalau dipikir-pikir, anak-anak sekarang memang kurang mengenal ragam makanan tradisional. Mereka kurang diperkenalkan, sehingga menjadi asing bagi mereka. Ditambah tampilan makanan tradisional biasanya tidak semenarik jajanan dan kudapan anak-anak zaman sekarang. Padahal, di balik makanan sederhana yang kelihatannya kurang menarik itu, sering kali tersimpan sejarah yang sangat panjang. Aku jadi ingat salah satu ulasan buku menarik berjudul “Buku Mustika Rasa: Resep Masakan Indonesia Warisan Sukarno” yang terbit pertama kali tahun 1967. Buku tersebut diprakarsai oleh Sukarno, dibantu istri beliau bernama Ibu Hartini. Ibu Hartini ini salah satu istri Sukarno, yang konon cerita dinikahi karena kemahirannya memasak sayur lodeh,   masakan khas Jawa Tengah. Ibaratnya dari lidah ...