Tadi sore aku menikmati sukun godok di rumah ibu. Ternyata, sukun godok rasanya tak kalah nikmat dengan yang digoreng. Beberapa kali aku menawari anak-anakku untuk mencicipinya, tapi mereka semua enggan. Kalau dipikir-pikir, anak-anak sekarang memang kurang mengenal ragam makanan tradisional. Mereka kurang diperkenalkan, sehingga menjadi asing bagi mereka. Ditambah tampilan makanan tradisional biasanya tidak semenarik jajanan dan kudapan anak-anak zaman sekarang. Padahal, di balik makanan sederhana yang kelihatannya kurang menarik itu, sering kali tersimpan sejarah yang sangat panjang. Aku jadi ingat salah satu ulasan buku menarik berjudul “Buku Mustika Rasa: Resep Masakan Indonesia Warisan Sukarno” yang terbit pertama kali tahun 1967. Buku tersebut diprakarsai oleh Sukarno, dibantu istri beliau bernama Ibu Hartini. Ibu Hartini ini salah satu istri Sukarno, yang konon cerita dinikahi karena kemahirannya memasak sayur lodeh, masakan khas Jawa Tengah. Ibaratnya dari lidah ...
Kata Tony Buzan, penemu mind mapping, rahasia mengasah kreativitas adalah dengan mendekatkan tangan ke otak, alias menulis. Itu kenapa sekarang aku mulai membiasakan menulis. Menulis ide apa saja yang melintas di kepalaku. Keinginan menulis sebenarnya sudah lama ada, tapi baru akhir akhir ini aja terwujud. Dulunya aku pemalu dan tidak percaya diri, sekarang memberanikan menulis di blog pribadi, jurnal harian, review pengalaman membaca buku di IG dan juga wa status. Dulu polanya selalu sama: tulis satu kalimat, baca ulang, ragu, lalu hapus. Tulis lagi, hapus lagi. Akhire tidak pernah jadi-jadi. Sampai aku ketemu buku creative writing mas A.S Laksana. Kata beliau, menulislah seperti kamu sedang berbicara dengan teman dekatmu. Tulis saja, tidak perlu menunggu mood atau punya ide menulis, karena salah satu cara memancing mood dan ide adalah dengan menulis itu sendiri. Menulis memang bukan keterampilan yang berdiri sendiri. Ia tumbuh dari kebiasaan-kebiasaan lain, salah sat...