Skip to main content

Posts

Belajar Mencintai Rutinitas dari Haruki Murakami

  Karya Haruki Murakami berjudul What I Talk About When I Talk About Running adalah salah satu buku yang menginspirasiku untuk mencintai rutinitas. Kalau Haruki memilih lari dan menulis, maka saya memilih ngaji, berjalan kaki sambil menikmati musik, juga membaca buku dan menulis. Setidaknya ada tiga point yang aku garis bawahi dari buku itu: Pertama, "pain is inevitable. suffering is optional." (rasa sakit itu tidak bisa dihindari, namun, penderitaan adalah pilihan); Kedua, "If I can find a reason not to run, I can find a million. All I can do is keep on running." (Jika aku mencari alasan untuk tidak berlari, aku bisa menemukan sejuta alasan. Yang bisa kulakukan hanyalah terus berlari.) dan ketiga "I just run. I run in a void. Or maybe I should put it the other way: I run in order to acquire a void." (Aku hanya berlari. Aku berlari dalam kekosongan. Atau mungkin sebaliknya: aku berlari untuk mendapatkan kekosongan itu). Aku mencoba merefleksikan buk...
Recent posts

Ketika anak tidak lancar menghafal: antara tidak mau, tidak tahu, dan tidak mampu

  Pagi tadi aku mengeluh sama pak suami tentang hafalan anakku dan juga pengajaran tahfidz di sekolah mereka. Menurutku, harus ada jeda yang cukup untuk memantapkan hafalan sebelum menambah yang baru. Setidaknya itu yang aku pelajari selama menjadi penghafal Quran. Apalah gunanya kuantitas yang banyak tanpa kualitas, pikirku begitu. Tapi suamiku menjawab dengan sangat sederhana “aku malah setuju, anak ki ya perlu merasa pernah hafal dulu”. Aku jadi tertampar dengan jawaban itu, aku yang pernah menyelesaikan hafalan Quran 15tahun yang lalu pun sapai sekarang masih jatuh bangun untuk menjaga hafalan.   Ikut daurah sana-sini, itu pun masih lepas sana lepas sini. Mengapa aku meminta hafalan yang kuat dari anak yang baru mulai menghafal Quran, dan dari mereka yang sebenarnya tidak tahu tujuan dan manfaat dari menghafalkan Quran itu sendiri. Jujur aku merasa bersalah kadang memperlihatkan kejengkelan di depan mereka. Aku jadi ingat salah satu nasihat guruku bahwa yang dibangun ada...

Belajar menerima dari buku cerita anak "the house at Pooh Corner"

  Tidak mudah membaca buku cerita anak-anak, karena untuk memahaminya, kita harus melepaskan atribut dan cara berpikir "kedewasaan" kita, dan menggantinya dengan sudut pandang khas anak-anak. Tapi begitu itu berhasil dilakukan, kita akan menemukan kepolosan, kejujuran dan ketulusan mereka. Aku akan tunjukkan betapa menariknya membaca buku anak-anak bagi orang dewasa. Ada salah satu percakapan yang begitu membekas yang kudapatkan dari buku "the house at Pooh Corner" karya A.A Milne. Jujur beberapa hari setelah selesai baca buku itu aku terus saja kepikiran. Yaitu percakapan antara Christopher Robin dan Eeyore: “rumah seperti apa?” “rumah biasa” “siapa penghuninya” “Aku. Paling tidak, kupikir aku penghuninya. Tapi, ternyata bukan. Lagi pula, tidak semua orang bisa punya rumah." kepolosan Eeyor mengingatkan kita bahwa bangunan fisik hanyalah tempat tinggal, tetapi rumah adalah rasa aman, tempat pulang, dan ruang di mana kamu merasa cukup menjadi diri...

Dari Sastra Klasik ke Lirik Pejabat: Mengapa Budaya Merendahkan Perempuan Tak Pernah Mati

Akhir-akhir ini saya cukup tertarik membaca sastra klasik, salah satunya harimau! Harimau! karya Muchtar Lubis. Ini buku kedua beliau yang saya baca setelah buku jalan tak ada ujung, yang menceritakan perjalanan dan perang batin guru Isa melewati perjuangan tanpa ujung meraih kemerdekaan, termasuk kemerdekaan atas ketakutan dirinya sendiri. Dua buku   tersebut sebenarnya sangat berkesan luar biasa bagiku, namun ada beberapa bagaian yang membuat kurang nyaman ketika membaca harimau! Harimau!. Jadi, buku harimau! Harimau! menceritakan berbagai rupa-rupa karakter dan tabiat manusia, supaya kita tidak mudah terpukau terhadap seseorang yang terlihat sempurna, penuh kharismatik dan kaya akan pengalaman hidup, dan sebaliknya, tak boleh menyepelekan orang yang terasa bisa-bisa saja. Dalam hal ini saya sepakat bahwa Mochtar Lubis memang sangat genius dalam membedah psikologi manusia, ketakutan, dan kemunafikan. Bagian yang kurang nyaman adalah ketika Muchtar Lubis menggambarkan sosok be...

Guru Isa, Kim Ji-young, dan Otak Emak-Emak yang Kelebihan Beban

  Pagi-pagi aku dibikin melow ketika membaca perkataan guru Isa di buku “jalan tak ada ujung”, karya Muchtar Lubis yang isinya begini "Bukankah tiga puluh lima tahun umur yang baik? Orang tidak terlalu muda untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang bisa dibikin menyesal setelah melakukannya, dan tidak terlalu tua untuk tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang jika tidak dilakukan di kemudian hari akan membawa rasa sedikit sayu, sedikit menyesal, dan pertanyaan, mengapa tidak aku lakukan dulu?" Kebetulan sekali, usiaku di tahun 2026 ini 35th menuju 36th di bulan November nanti. Suamiku tahu betul aku sering merasa “tertinggal” dibanding teman-temanku, utamanya terkait karier, yang kalau dipikir-pikir itu juga atas keputusan dan pilihanku sendiri. Dibalik pencapaian-pencapaianku, dapat menyelesaikan pendidikan doktoral, pendidikan tertinggi, menyelesaikan hapalan quran meskipun masih terus tertatih-tatih, dan hal-hal lain yang senantiasa menghiburku, tapi apalah dayaku ketika ...

Masa Kanak-Kanak: Waktu Menyemai Benih, Bukan Memaksa Panen

  Dalam sebuah acara akhirussanah di sebuah TK, saya diberi kesempatan memberikan sambutan. Di hadapan para orang tua yang hadir, saya mengutip perkataan seorang filsuf bernama Jean-Jacques Rousseau: "Masa kanak-kanak adalah waktu untuk menyemai benih, bukan untuk memanen buah. Biarkan mereka belajar melalui kegembiraan.". Untuk memeperjelas maksud saya mengutip perkataan tersebut, saya memberi permisalah dua jenis tanaman yang berbeda cara bertumbuh: pohon musiman (seperti pisang atau sayur-sayuran) dan pohon bambu. Jika kita menanam sayur atau pisang, dalam hitungan minggu atau bulan, hasilnya sudah bisa langsung kita panen dan nikmati. Namun, ketika yang kita tanam adalah benih bambu, jangan pernah berharap bisa melihat hasilnya dengan cepat. Tanaman bambu membutuhkan waktu empat hingga lima tahun penyiraman dan pemupukan setiap hari. Pada masa itu, ia tidak akan menunjukkan pertumbuhan yang berarti di atas tanah. Di permukaan, ia tampak jalan di tempat, lambat, bahkan...

Efek Domino Ketergesaan Orang Tua: Mengapa Anak Justru Melambat Saat Kita Buru-Buru?

  Sebagai orang tua, pernahkah mengalami kejadian ketika sedang terburu-buru karena ada urusan penting dan mendesak, anak-anak justru melambat? seakan-akan mereka sedang menantang ledakan emosi kita sebagai orang tua. Ibarat kartu domino pertama terjatuh, akan ada rentetan domino lain yang ikut berjatuhan. Kejadian semacam itu mungkin sering kali terjadi dan sangat menguras energi emosi. Jadi kalau ada yang menasehati “ngak papa, lima tahun lagi sudah tidak lagi, tinggal sabar” kayaknya kurang bijak juga, karena ngak mungkin juga kan menyuruh orang tua menahan napas selama 5 tahun dalam budaya yang menuntut kewarasan setiap hari. Orang tua juga butuh solusi sistem, bukan sekadar romantisasi masa depan. Dari segi orang tua, mengapa sih keterlambatan terasa begitu mengancam bagi mereka?. Menurut para sosiolog, manusia modern hidup dalam budaya social acceleration (percepatan sosial), di mana waktu telah dikomodifikasi menjadi mata uang baru yang merepresentasikan uang, reputasi, ...