Masjid tempatku mengaji dulu dekat dengan sebuah sungai. Pagi sampai malam sering banyak anak-anak punk yang tidur berjejeran di semak-semak pinggir sungai tersebut. Dulu aku berpikir "sekeras apa hidup mereka, kok hidupnya cuma disia-siakan saja". Pertanyaan yang kalau dipikir-pikir lebih ke judgment daripada rasa ibu. Tapi setelah melihat banyaknya hal semacam itu, perspektifku tentang mereka pun berubah. Banyak orang tidak punya banyak pilihan dalam hidup mereka. Bisa saja hidup menggelandang adalah satu-satunya cara aman mereka untuk hidup. Kita tidak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi pada mereka. Jerat lingkaran kemiskinan struktural itu nyata adanya. Aku jadi ingat, jaman sekolah MA dulu, sepekan tiga kali aku dan teman-temanku ditugaskan mengajar TPA dikawasan dekat tempat prostitusi. Kalau ada pepatah mengatakan "tidak ada pencuri yang pingin anaknya jadi pencuri" menurutku tidak selalu benar. Aku tahu sendiri, anak-anak yang kami ajarkan ngaji, ny...
Pagi-pagi dibuat merenung oleh tulisan mbak Desi Anwar di bukunya “Hidup Sederhana: Hadir di Sini dan Saat ini” tentang kesuksesan. Kata beliau: kita sering merasa kita sudah tahu apa itu sukses. Sukses adalah sesuatu yang kita inginkan dan siap kita kerjakan selama hidup kita. Setiap orang mengatakan ingin sukses, dan hanya bila sudah sukses akan senang dan puas. Tapi jika ditanya apa itu sukses, kita mendefinisikannya dengan cara membandingkan diri dengan orang lain dan keadaan mereka. Kita pikir, sukses berarti memiliki lebih banyak benda dari tetangga, digaji dengan gaji lebih tinggi dari rekan kerja, punya posisi dan karier yang lebih baik ketimbang teman-teman, juga rumah dan mobil yang lebih ketimbang anggota keluarga lain. Padahal definisi ini akan membuatnya menjadi sesuatu yang tidak dapat dicapai dan dipenuhi, karena akan ada orang yang mendapat “sukses” lebih dan lebih lagi. Nggak akan kurang-kurang kalau kita mencari yang lebih. Jadi mau sampai kapan mengejar g...