Descartes pernah berkata, membaca buku bagus ibarat bercakap-cakap dengan para pemikir hebat masa lalu. Lewat untaian kata, buku dapat menjelma sebagai jembatan kebijaksanaan, tempat khazanah keilmuan dirawat dan diwariskan dari generasi ke generasi. Oleh karena itu, orang tua yang membacakan buku kepada anak-anak mereka sejak dini, sedang menyerahkan 'kunci emas' kepada anak-anak mereka untuk membuka gerbang dunia yang tak terbatas: dunia imajinasi, ilmu pengetahuan, dan empati. Uniknya, bagi anak-anak, gerbang dunia itu tidak hanya lewat ensiklopedia, tapi juga fabel. Ada beberapa fabel favorit anak saya, diantaranya seri franklin karya Paulette Bourgeois dan kisah Benyamin Kelinci karya Beatrix Potter. Tapi kali ini bahas Benyamin Kelinci dulu. Jadi ceritanya Benjamin adalah seekor kelinci cerdik dengan tingkat kepercayan diri yang baik. Gaya berpakaiannya nyentrik, ia memakai topi rajut wol longgar, tradisional khas Skotlandia, berbentuk bulat dan agak ceper berwarna hi...
Sebagai ibu dengan tiga orang anak, saya tahu pentingnya me time untuk menjaga kewarasan. Saya senang menghabiskan waktu untuk jalan-jalan sendiri, sekedar jogging di lapangan atau jalan-jalan dan membaca di toko buku. Perasaan bebas dan menjadi diri sendiri muncul, tapi anehnya, setelah itu perasaan kualahan kembali muncul ketika berhadapan dengan realitas keriuhan anak-anak. Terkadang muncul pikiran bahwa memberi jarak dengan meninggalkan anak-anak barang sejenak adalah sebuah keegoisan. Namun, setelah saya pikir lagi, rasa bersalah ini mungkin salah satu produk dari benturan nilai zaman. Sebagai generasi milenial, saya mungkin dididik sedikit berbeda dengan generasi sebelumnya (Gen X atau baby boomer), salah satunya lebih terbuka soal mengejar cita-cita dan peran ibu pekerja. Namun faktanya, label "ibu yang baik" adalah ibu yang menghabiskan seluruh waktu, energi, dan pikirannya demi anak dan keluarga tanpa sisa, teta...