Skip to main content

Mau Sampai Kapan Mengejar Garis Finis Orang Lain?

Pagi-pagi dibuat merenung oleh tulisan mbak Desi Anwar di bukunya “Hidup Sederhana: Hadir di Sini dan Saat ini” tentang kesuksesan. Kata beliau: kita sering merasa kita sudah tahu apa itu sukses. Sukses adalah sesuatu yang kita inginkan dan siap kita kerjakan selama hidup kita. Setiap orang mengatakan ingin sukses, dan hanya bila sudah sukses aku akan senang dan puas. Tapi jika ditanya apa itu sukses, kita mendefinisikannya dengan cara membandingkan diri dengan orang lain dan keadaan mereka. Sukses berarti memiliki lebih banyak benda dari tetangga, digaji dengan gaji lebih tinggi dari rekan kerja, punya posisi dan karier yang lebih baik ketimbang teman-teman, juga rumah dan mobil yang lebih ketimbang anggota keluarga lain. Padahal definisi ini akan membuatnya menjadi sesuatu yang tidak dapat dicapai dan dipenuhi, karena akan ada orang yang mendapat “sukses” lebih dan lebih lagi. Nggak akan kurang-kurang kalau kita mencari yang lebih. Jadi  mau sampai kapan mengejar garis finis orang lain?

Membandingkan diri dengan orang lain dan menginginkan seperti mereka memang bisa menjadi cara memotivasi diri sendiri untuk lebih bekerja keras dan lebih baik lagi. Tapi sebaiknya itu tidak dijadikan ukuran kesuksesan dan cara kita memandang diri sendiri. Sebab ukuran itu akan terus berubah dan luput dari jangkauan kita. Gampangnya seperti ini, orang yang berkeinginan memiliki uang yang banyak, maka setelah ia mencapainya, ia akan menginginkan hal yang lain. Begitu juga soal yang lain-lain. Maka dari itu, dari terjebak makna sukses yang berubah ubah, lebih baik kita menciptakan ukuran sukses kita sendiri, didasarkan pada hal-hal yang benar-benar penting dan kesejahteraan batin kita.

Karena tahun ini (2025) usiaku 35th menjelang 36th aku iseng tanya pada Gemini tentang kesuksesan perempuan berusia 35 tahun, katanya “Sukses di usia 35 tahun adalah pencapaian ketenangan batin (qana'ah) dan kesadaran diri yang matang, di mana seseorang mampu menetapkan prioritas hidup serta melepaskan diri dari dorongan membandingkan pencapaian pribadi dengan orang lain. Pada fase ini, keberhasilan tidak lagi diukur semata dari materi, melainkan dari kemampuan menjaga resiliensi emosional, merawat semangat belajar yang berkelanjutan, serta menyelaraskan berbagai peran—sebagai profesional, pendidik, maupun dalam keluarga, secara utuh dan bermakna di dalam lingkungan yang saling menguatkan.” Hal-hal yang bisa diusahakan sendiri tanpa harus menunggu validasi orang lain.

Setelah merenung sejenak, kayae kalau ditanya lagi sukses yang pingin ku capai sekarang adalah bisa menyeimbangkan peran sebagai istri, ibu tiga anak, pengajar dan juga aktivis Aisyiyah tanpa merasa kehilangan diri sendiri; tetap konsisten murojaah Al Qur’an’; punya waktu jeda untuk duduk santai menikmati baca buku tanpa kepikiran tumpukan tugas atau merasa bersalah; dan mensyukuri nikmat sehat dengan menyempatkan olahraga tiap hari dan menjaga asupan. Ternyata sukses bisa sesimpel itu, tidak perlu muluk-muluk dan bisa dicapai setiap hari. Ah rasanya lapang sekali … 

Comments

Popular posts from this blog

Makhraj Bibir dan Maratibul Ghunnah

Perlu diketahui terlebih dahulu makhraj secara bahasa adalah tempat keluar, sedangkan secara istilah tajwid ia merujuk kepada tempat keluarnya huruf dan pembeda antara satu huruf dengan huruf yang lain. Ada perbedaan pendapat ul ama mengenai Jumlah Makhraj: Pendapat Imam Khalil bin Ahmad & Imam Ibnu al-Jazari: Terdapat 17 makhraj secara khusus. Ini adalah pendapat yang paling masyhur. Pendapat Imam Sibawayh: Terdapat 16 makhraj (beliau menggugurkan makhraj Al-Jauf dan memasukkan huruf mad ke makhraj lain). Pendapat Imam Al-Farra & Al-Qutrub: Terdapat 14 makhraj (menggabungkan makhraj Lam, Nun, dan Ra ke dalam satu tempat). 17 makhraj khusus tersebut dikelompokkan kepada 5 bahagian utama: Al-Jauf (Rongga Mulut & Tenggorokan): Tempat keluar bagi 3 huruf Mad (Alif, Wau, Ya). Al-Halq (Tenggorokan): Terbahagi kepada 3 makhraj khusus (Pangkal, Tengah, dan Ujung tenggorokan). Al-Lisan (Lidah): Bahagian paling banyak, ...

Me Time: Insting Bertahan Hidup atau Keegoisan?

                 Sebagai ibu dengan tiga orang anak, saya tahu pentingnya me time untuk menjaga kewarasan. Saya senang menghabiskan waktu untuk jalan-jalan sendiri, sekedar jogging di lapangan atau jalan-jalan dan membaca di toko buku. Perasaan bebas dan menjadi diri sendiri muncul, tapi anehnya, setelah itu perasaan kualahan kembali muncul ketika berhadapan dengan realitas keriuhan anak-anak. Terkadang muncul pikiran bahwa memberi jarak dengan meninggalkan anak-anak barang sejenak adalah sebuah keegoisan. Namun, setelah saya pikir lagi, rasa bersalah ini mungkin salah satu produk dari benturan nilai zaman. Sebagai generasi milenial, saya mungkin dididik sedikit berbeda dengan generasi sebelumnya (Gen X atau baby boomer), salah satunya lebih terbuka soal mengejar cita-cita dan peran ibu pekerja. Namun faktanya, label "ibu yang baik" adalah ibu yang menghabiskan seluruh waktu, energi, dan pikirannya demi anak dan keluarga tanpa sisa, teta...

Mengapa Surah Al-Kautsar Menggunakan Kata An-Nahr? (Menelusuri kandungan, hubungan dengan surah sebelumnya dan peristiwa di balik ayatnya)

  Surah al kautsar merupakan surat terpendek dalam Al Qur’an. Mengapa bukan surah Al Ashr yang sama-sama tiga ayat? Hal ini karena kata-kata penyusun Al Ashr masih lebih banyak dibandingkan surah Al Kautsar. Dari segi tempat turun, surah ini lebih mashur dikenal sebagai surat Makiyyah, turun di kota Makkah, atau sebelum Rasulullah berhijrah ke Madinah. Sebagaimana karakteristik surat Makiyyah yang cenderung pendek-pendek, surah ini pun begitu. Para ulama menyebut surah ini berkaitan dengan peristiwa meninggalnya putra Rasul yaitu Abdullah. Ketika itu para pemuka kafir Quraish mengejek Rasul “terputus keturunannya”, karena bagi masyarakat Quraish, tidak memiliki anak laki-laki adalah sebuah aib. Hal ini dijawab langsung oleh Allah dengan ayat ketiga: اِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْاَبْتَرُ ࣖ   “Sesungguhnya orang yang membencimu, dialah yang terputus”. Namun sebagian ulama lain menyebut surah ini sebagai surah Madaniyah, turun di Madinah, hal ini karena surah ini berkaitan dengan pe...