Skip to main content

Mengapa Surah Al-Kautsar Menggunakan Kata An-Nahr? (Menelusuri kandungan, hubungan dengan surah sebelumnya dan peristiwa di balik ayatnya)

 


Surah al kautsar merupakan surat terpendek dalam Al Qur’an. Mengapa bukan surah Al Ashr yang sama-sama tiga ayat? Hal ini karena kata-kata penyusun Al Ashr masih lebih banyak dibandingkan surah Al Kautsar. Dari segi tempat turun, surah ini lebih mashur dikenal sebagai surat Makiyyah, turun di kota Makkah, atau sebelum Rasulullah berhijrah ke Madinah. Sebagaimana karakteristik surat Makiyyah yang cenderung pendek-pendek, surah ini pun begitu. Para ulama menyebut surah ini berkaitan dengan peristiwa meninggalnya putra Rasul yaitu Abdullah. Ketika itu para pemuka kafir Quraish mengejek Rasul “terputus keturunannya”, karena bagi masyarakat Quraish, tidak memiliki anak laki-laki adalah sebuah aib. Hal ini dijawab langsung oleh Allah dengan ayat ketiga: اِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْاَبْتَرُ ࣖ  “Sesungguhnya orang yang membencimu, dialah yang terputus”. Namun sebagian ulama lain menyebut surah ini sebagai surah Madaniyah, turun di Madinah, hal ini karena surah ini berkaitan dengan penyembelihan pada Idul Adha, dan sebagian lain menyebut juga penyembelihan untuk aqiqah, yang secara resmi disyariatkan dan dipraktikkan pada periode Madinah.

Dari segi penamaan, surah Al Kautsar bisa juga disebut dengan surah An Nahr, yang diambil dari ayat ke-2 فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْۗ . . An Nahr sendiri dalam tradisi kebahasaan arab  identik dengan penyembelihan unta, bukan kambing, sapi atau domba yang menggunakan istilah Adz-Dzabh (الذَّبْح). Al Biqai menjelaskan penyembelihan unta merupakan puncak kemurahan dan anugerah di kalangan masyarakat arab ketika itu. Para pembesar Quraish memang dikenal gemar menyembelih unta sebagai simbol puncak kedermawanan. Sebagaimana yang terekam dalam sejarah sebelum perang badar, bahwa pemuka Quraish menyembelih 9-10 unta per hari untuk dibagi-bagikan. Sudah terbayang kan “kedermawaan” semacam apa yang digambarkan dengan pemilihan kata ini.

Diantara pemuka Quraish yang gemar melakukan penyembelihan unta untuk dibagi-bagi adalah Abu Jahal dan Abdul Muthalib, kakek Rasul. Abdul Muthalib sendiri memiliki beberapa julukan Siqayah (penyedia air zam-zam), rifadah (penyedia makan) juga disebut fayyad (melipah kebaikannya). Abdul Muthalib biasa menyembelih unta di perbukitan agar jika masih ada sisa bisa dinikmati para hewan liar.

Dari segi urut-urutan surah, surah sebelum Al Kautsar adalah surah Al Maun. Quraish Shihab menyebut jika surah sebelumnya (surah Al Maun) mengecam dan mengancam neraka bagi mereka yang berakhlak buruk, yang kikir dan tak mau membantu walau dalam hal-hal kecil, pada surah Al Kautsar Allah memuji Rasul yang mencapai puncak akhlak yang mulia dan menjanjikan untuk beliau aneka anugerah yang banyak:  اِنَّآ اَعْطَيْنٰكَ الْكَوْثَرَۗ  Sesungguhnya Kami telah memberimu (Nabi Muhammad) nikmat yang banyak.

Ada beberapa perbedaan tentang nikmat yang banyak, yang disebut “al kautsar”, sebagaian menyebut nama sungai di syurga, sebagian lain menyebut nikmat keturunan yang banyak, hal ini dikaitkan dengan sebab turunnya surah. Keturunan dari jalur anak cucu as-Sayyidah Fatimah, putri Rasulullah. Diketahui dalam sejarah, Sayyidina Hasan cucu Rasulullah memiliki sebelas orang anak lelaki, sedangkan Husain memiliki sembilan orang anak laki-laki. Meskipun keluarga Sayyidina Husain dan putra-putranya tewas terbunuh di Karbala, salah seorang putra beliau Zainal Abidin yang ketika itu masih kecil luput dari pembunuhan, dan dari beliau lahir keturunan yang banyak.

Maka jika al kautsar dimaksud adalah nama sungai di syurga, maka yang dikatakan ibtar (terputus) pada ayat ketiga yaitu yang membenci Rasul akan terputus dan tidak menikmati surga dan juga sungai alKautsar. Sedangkan jika al kautsar adalah keturunan, maka pembenci Rasul terputus keturunannya. Bukan berarti mereka tidak memiliki anak tetapi keturunan merea terputus dari misi yang selalu diperjuangkan semasa hidup mereka. Sebagaimana ikrimah yang tidak mau mengikuti jejak ayahnya Abu Jahal dalam membenci Rasul. Ikrimah dulunya memang mengikuti jejak ayahnya dalam memusuhi Rasul, ia tercatat memimpin perang Uhud dari pihak kafir, namun setelah mendapat hidayah pasca fathu makkah, ia menjadi salah satu pembela nabi, dan menjadi syahid di perang Yarmuk. Demikian pula contoh lain seperti Khalid putra Walid ibn al Mughirah, yang justru menjadi panglima Islam, sang Saifullah al Maslul (pedang Allah yang terhunus).

Selain bahasan di atas, surah ini mengandung perintah فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْۗ “Maka, laksanakanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah!”. Ibnu Abbas mengaitkannya dengan perintah shalat Idul Adha. Sedangkan yang lain mengaitkannya dengan peritah beribadah secara umum. Demikian pesan tegas dari surah ini, beribadah kepada Allah dan berkurban dengan kebaikan-kebaikan terbaik yang bisa dilakukan. Wallahu a’lam.

Comments

Popular posts from this blog

Makhraj Bibir dan Maratibul Ghunnah

Perlu diketahui terlebih dahulu makhraj secara bahasa adalah tempat keluar, sedangkan secara istilah tajwid ia merujuk kepada tempat keluarnya huruf dan pembeda antara satu huruf dengan huruf yang lain. Ada perbedaan pendapat ul ama mengenai Jumlah Makhraj: Pendapat Imam Khalil bin Ahmad & Imam Ibnu al-Jazari: Terdapat 17 makhraj secara khusus. Ini adalah pendapat yang paling masyhur. Pendapat Imam Sibawayh: Terdapat 16 makhraj (beliau menggugurkan makhraj Al-Jauf dan memasukkan huruf mad ke makhraj lain). Pendapat Imam Al-Farra & Al-Qutrub: Terdapat 14 makhraj (menggabungkan makhraj Lam, Nun, dan Ra ke dalam satu tempat). 17 makhraj khusus tersebut dikelompokkan kepada 5 bahagian utama: Al-Jauf (Rongga Mulut & Tenggorokan): Tempat keluar bagi 3 huruf Mad (Alif, Wau, Ya). Al-Halq (Tenggorokan): Terbahagi kepada 3 makhraj khusus (Pangkal, Tengah, dan Ujung tenggorokan). Al-Lisan (Lidah): Bahagian paling banyak, ...

Menatap Dunia Lewat Jendela Chika: Cara Anak-Anak Menyembuhkan Kedewasaan Kita yang Melelahkan

  “That window was his view of the world, while to me it was a pane of glass” (b aginya, jendela itu adalah caranya memandang dunia, sementara bagiku, itu hanyalah pembatas kaca. Kalimat ini adalah salah satu bagian dari buku mitch albom berjudul Finding Chika: A Little Girl, an Earthquake, and the Making of a Family , sebuah memoar tentang babak kehidupan mitch bersama salah satu anak yang ia selamatkan dari gempa bumi di Haiti, dan anak itu menderita tumor ganas.   Cerita sedikit tentang buku ini, Mitch menceritakan kejadian-kejadian tak terduga yang justu mengantarkan pada pengalaman-pengalaman baru dalam kehidupannya. Ia membawa Chika dari Haiti ke Amerika untuk mendapatkan pengobatan, tetapi dalam waktu yang sangat singkat, ia menyadari bahwa dengan menjadi “orang tua” (meskipun bukan untuk anak kandungnya), kehidupuan seseorang bisa berubah dan memiliki tujuan hidup sejak saat itu. Mitch Albom memang terkenal dengan tulisan-tulisan sederhana yang begitu menyentuh. Kara...