Pagi tadi aku mengeluh sama pak suami tentang hafalan anakku dan juga pengajaran tahfidz di sekolah mereka. Menurutku, harus ada jeda yang cukup untuk memantapkan hafalan sebelum menambah yang baru. Setidaknya itu yang aku pelajari selama menjadi penghafal Quran. Apalah gunanya kuantitas yang banyak tanpa kualitas, pikirku begitu. Tapi suamiku menjawab dengan sangat sederhana “aku malah setuju, anak ki ya perlu merasa pernah hafal dulu”. Aku jadi tertampar dengan jawaban itu, aku yang pernah menyelesaikan hafalan Quran 15tahun yang lalu pun sapai sekarang masih jatuh bangun untuk menjaga hafalan. Ikut daurah sana-sini, itu pun masih lepas sana lepas sini. Mengapa aku meminta hafalan yang kuat dari anak yang baru mulai menghafal Quran, dan dari mereka yang sebenarnya tidak tahu tujuan dan manfaat dari menghafalkan Quran itu sendiri. Jujur aku merasa bersalah kadang memperlihatkan kejengkelan di depan mereka. Aku jadi ingat salah satu nasihat guruku bahwa yang dibangun ada...