Tidak mudah membaca
buku cerita anak-anak, karena untuk memahaminya, kita harus melepaskan atribut
dan cara berpikir "kedewasaan" kita, dan menggantinya dengan sudut
pandang khas anak-anak. Tapi begitu itu berhasil dilakukan, kita akan menemukan
kepolosan, kejujuran dan ketulusan mereka.
Aku akan tunjukkan
betapa menariknya membaca buku anak-anak bagi orang dewasa. Ada salah satu
percakapan yang begitu membekas yang kudapatkan dari buku "the house at
Pooh Corner" karya A.A Milne. Jujur beberapa hari setelah selesai baca
buku itu aku terus saja kepikiran. Yaitu percakapan antara Christopher Robin
dan Eeyore:
“rumah seperti apa?”
“rumah biasa”
“siapa penghuninya”
“Aku. Paling tidak,
kupikir aku penghuninya. Tapi, ternyata bukan. Lagi pula, tidak semua orang
bisa punya rumah."
kepolosan Eeyor mengingatkan kita bahwa bangunan fisik hanyalah tempat tinggal,
tetapi rumah adalah rasa aman, tempat pulang, dan ruang di mana kamu merasa
cukup menjadi dirimu sendiri.
Ada
banyak orang mengatakan buku (dan seri kartunnya) menyangkut berbagai penyakit
psikologis yang kita kenal dewasa ini. Misalnya, Pooh mengalami Attention Deficit
Hyperactivity Disorder (ADHD) tipe Inatentif, Obsessive-Compulsive
Disorder (OCD), dan Perilaku Makan Binge (Binge Eating), karena sangat
mudah terdistraksi, memiliki ikatan impulsif/obsesif yang sangat kuat terhadap
madu, serta kerap menunjukkan pola pikir yang berulang-ulang. Piglet, Generalized
Anxiety Disorder (GAD) / Gangguan Kecemasan, karena selalu berada dalam
kondisi cemas yang kronis, mudah terkejut, merasa tidak aman, dan senantiasa
membayangkan skenario terburuk dari setiap kejadian. Eeyore, gangguan Depresif
Persisten), karena konsisten menunjukkan pandangan hidup yang muram, energi
rendah, ketidakmampuan merasakan kesenangan, dan pemikiran pesimis. Tigger, attention
deficit hyperactivity disorder (ADHD) tipe Hiperaktif-Impulsif, karena
tidak pernah bisa diam, selalu melompat-lompat (bouncing), sangat
impulsif, serta sulit mengontrol emosi dan gerakan fisiknya. Rabbit, Obsessive-Compulsive
Personality Disorder (OCPD), karena memiliki kebutuhan ekstrem akan
keteraturan, kontrol, kebersihan, dan jadwal yang kaku. Ia sangat gampang cemas
atau marah jika rencananya bergeser sedikit saja. Owl, disleksia dan Narsisisme
(Kecenderungan Narsistik), karena berjuang keras dengan kemampuan membaca dan
mengeja (disleksia), namun ia menutupi kekurangannya dengan
kepura-puraan bahwa ia adalah sosok yang paling mahatahu di hutan (narsisisme).
Dan juga Roo yang, Autism Spectrum Disorder (ASD) atau keterikatan
bahaya akibat impulsivitas usia dini, karena Roo sering kali tidak menyadari
bahaya di sekitarnya, sangat melekat pada kantung ibunya tetapi di saat
bersamaan kerap melompat ke situasi berbahaya tanpa memperhitungkan risiko.
Namun, jika kita menengok kembali tahun pertama
terbitnya pada 1926, istilah-istilah psikiatri modern tersebut belum familiar
dan jelas bukan menjadi fokus utama A.A. Milne. Karakter-karakter binatang di
Hutan Seratus Ekar sebenarnya adalah personifikasi ekstrem dari spektrum emosi
dan sifat dasar anak-anak pada umumnya. Coba mari kita tengok sejenak ke dalam
rumah kita. Apakah anak-anak kita (atau bahkan diri kita di masa kecil) tumbuh
dengan mengarah ke sana?
1. Pencemas, merasa selalu bersalah, & melankolis (Seperti Eeyore)
Anak
dengan kecenderungan ini sering merasa serba salah, mudah mengantisipasi hal
buruk, dan menganggap dirinya adalah penyebab masalah atau beban bagi orang
lain.
- "Ini gara-gara aku ya, makanya Ibu jadi
marah?"
- "Nanti kalau aku ikutan main, gamenya pasti
jadi rusak..."
- "Aku tidak usah dibelikan mainan tidak
apa-apa kok, nanti uangnya habis..."
- "Aku pasti nanti tidak diajak main sama
teman-teman..."
2.
Impulsif, Meluap-luap, & Hiperaktif (Seperti Tigger)
Anak
dengan tipe ini bertindak lebih cepat daripada pikirannya. Antusiasme mereka
sangat tinggi, mudah terdistraksi, dan sering kali membuat janji atau klaim
yang terlalu tinggi karena terlalu bersemangat.
- "Aku bisa! Aku pasti bisa lompat dari tangga
paling atas ini, lihat ya!"
- "Aku mau main sepeda sekarang, sekarang,
sekarang!"
- "Gampang kok itu! Aku sudah jago banget,
padahal belum pernah coba!"
- (Di tengah-tengah mewarnai) "Ibu,
lihat burung di luar! Eh, aku mau makan es krim aja deh!"
3.
Penakut, Peragu, & Butuh Kepastian (Seperti Piglet)
Anak
dengan kecenderungan ini memiliki sensitivitas tinggi terhadap hal baru atau
asing (sensory processing sensitivity). Mereka butuh diyakinkan berulang
kali sebelum berani melangkah.
- "Ibu ikut berdiri di sampingku ya? Jangan
ditinggal, walau cuma sebentar."
- "Gimana kalau di dalam sana gelap? Gimana
kalau ada suara aneh?"
- "Aku mau coba... tapi kalau gagal
gimana?"
- "Teman-teman galak tidak ya sama aku?"
4.
Dominan, Sok Tahu, & Butuh Kontrol (Seperti Rabbit)
Anak
tipe ini memiliki kecenderungan kepemimpinan yang tinggi, tetapi jika tidak
diarahkan, bisa menjadi sangat kaku (rigid). Mereka merasa paling tahu
aturan dan gampang kesal jika rencananya terganggu.
- "Bukan begitu cara mainnya! Harus ikut
aturan yang aku bikin!"
- "Aku aja yang jadi pemandunya, kalian ikutan
di belakang aku ya."
- "Kan aku sudah bilang tadi! Kalian sih tidak
mau dengar kata-kataku!"
- "Jangan dipindah barangnya! Itu tempatnya di
situ, bukan di situ!"
Ketika
anak-anak mengucapkan kalimat-kalimat di atas, cerita Pooh mengingatkan kita
bahwa peran orang tua bukanlah memarahi sifat-sifat ini, melainkan menjadi
lingkungan yang aman (seperti Hutan Seratus Ekar). Penerimaan adalah
sesuatu yang digambarkan begitu baik oleh A.A Mile. Rabbit, si kelinci yang
kaku dan control freak, tidak pernah dimusuhi atau dikucilkan meskipun
ia sering kali cerewet, suka mengatur, sok tahu, dan gampang kesal jika
rencananya berantakan. Teman-temannya tetap menghargai inisiatif serta jiwa
kepemimpinannya, dan selalu melibatkan Rabbit dalam setiap acara atau misi
bersama di hutan. Begitu pula dengan Owl, si burung hantu yang sok intelektual.
Ia tidak pernah diolok-olok atau dipermalukan meskipun kerap menggunakan
kata-kata tinggi yang sebenarnya dibumbui ejaan dan pengetahuan yang
berantakan. Pooh dan teman-temannya tetap mendengarkan Owl dengan penuh rasa
hormat, mendatangi rumahnya ketika membutuhkan saran, dan memperlakukannya
sebagai sosok yang dituakan tanpa sedikit pun menghancurkan harga dirinya.
Di sisi
lain, Pooh sang tokoh utama yang pelupa dan lambat berpikir tidak pernah diejek bodoh atau dipinggirkan, biarpun ia kerap
bertindak ceroboh hanya karena terdistraksi oleh sekendi madu. Teman-temannya
justru sangat menyayangi Pooh dan menganggap kepolosannya sebagai bentuk
kearifan murni yang paling menenangkan. Penerimaan yang hangat ini juga
dirasakan oleh Kanga dan Roo, sosok ibu tunggal dan anak yang terlalu antusias.
Ketika pertama kali datang sebagai penghuni asing di Hutan Seratus Ekar, mereka
tidak pernah diasingkan. Walaupun Rabbit sempat merasa curiga pada awalnya,
lingkungan hutan dengan cepat memeluk Kanga sebagai sosok ibu yang hangat bagi
semua hewan, sekaligus menerima Roo yang kecil dan sering bertingkah nekat
tanpa batas.
Kedalaman pesan
penerimaan ini diperkuat juga lewat gaya penulisannya. A.A. Milne secara
sengaja acapkali mengabaikan tata bahasa baku, menggunakan huruf kapital di
tengah kalimat untuk kata-kata biasa, hingga menyisipkan ejaan yang keliru. Saya
kutipkan beberapa untukmu.
“Rabbit
akan menjalani hari sibuk. Begitu terbangun pagi itu, dia sudah merasa penting,
seolah-olah segalanya tergantung kepadanya. Itu hari yang tepat untuk
Mengorganisasi Sesuatu, atau untuk Menulis Pemberitahuan Bertanda Tangan
Rabbit, atau untuk Mencari Tahu Pendapat Semua Orang Soal Itu. (bab lima. tentang hari sibuk
Rabbit, dan kegiatan Christopher Robin setiap pagi).
Di bagian bab ini juga,
A.A Mile juga memberikan ilustrasi gambar stiky note bertulis: GON OUT BACKSON BISY
BACKSON, dan yang sebenarnya dimaksud adalah: Gone out, back soon, busy, back soon (sedang
keluar, segera kembali, sibuk, segera kembali). Itu adalah salah satu contoh
lain keindahan buku ini, yaitu salah eja (misspelling) yang disengaja
untuk menggambarkan bahwa Christopher Robin masih anak-anak yang belum pandai
mengeja kata. Semua eksperimen bahasa itu diciptakan bukan karena kebetulan,
melainkan sebagai bentuk undangan halus agar kita (para pembaca dewasa) dituntun
untuk memperlambat tempo, dan membaca melalui sudut pandang serta kepolosan
cara berpikir seorang anak kecil.
Dengan demikian, tugas
terbesar kita saat ini bukanlah mengubah anak-anak kita agar menjadi sempurna
sesuai standar dunia dewasa. Tugas kita yang sebenarnya adalah menjadi
"Hutan Seratus Ekar" bagi mereka, sebuah ruang aman di mana mereka
tahu bahwa apa pun sifat, ketakutan, atau kekurangan yang mereka bawa, mereka
akan selalu punya tempat untuk pulang dan diterima secara utuh.
Comments
Post a Comment