Sebagai ibu dengan tiga orang anak, saya tahu pentingnya me time untuk menjaga kewarasan. Saya senang menghabiskan waktu untuk jalan-jalan sendiri, sekedar jogging di lapangan atau jalan-jalan dan membaca di toko buku. Perasaan bebas dan menjadi diri sendiri muncul, tapi anehnya, setelah itu perasaan kualahan kembali muncul ketika berhadapan dengan realitas keriuhan anak-anak. Terkadang muncul pikiran bahwa memberi jarak dengan meninggalkan anak-anak barang sejenak adalah sebuah keegoisan. Namun, setelah saya pikir lagi, rasa bersalah ini mungkin salah satu produk dari benturan nilai zaman. Sebagai generasi milenial, saya mungkin dididik sedikit berbeda dengan generasi sebelumnya (Gen X atau baby boomer), salah satunya lebih terbuka soal mengejar cita-cita dan peran ibu pekerja. Namun faktanya, label "ibu yang baik" adalah ibu yang menghabiskan seluruh waktu, energi, dan pikirannya demi anak dan keluarga tanpa sisa, tetap menjadi keyakinan di masyarakat umum.
Beban
kultural inilah yang akhirnya sering menyelinap menjadi rasa bersalah, lalu
dengan mudah memberi label "egois" saat kita ingin bernapas sejenak.
Namun, jika ditselusuri lebih dalam, kata "egois" atau selfish
sebenarnya memiliki sejarah panjang. Kata Selfish awalnya diperkenalkan teolog
Presbiterian (salah satu aliran dalam Kristen Protestan di Inggris/Skotlandia) pada
abad ke-17, ketika terjadi perang saudara dan masyarakat disana semakin
individualis. Kaum Presbiterian membutuhkan kata yang dapat memiliki konotasi negatif
untuk mengkritik moral individualis jemaatnya. Disini, tindakan selfish dinggap
dosa. Kemudian dalam perjalanan selajutnya, seorang filsuf Thomas Hobbes memperkenalkan
konsep kepentingan diri sendiri (self-interest) sebagai sesuatu yang
menggerakkan manusia. Disini selfish tidak lagi dipandang sekadar dosa tapi
juga insting bertahan hidup yang alami. Setelah itu, pada abad ke 18, Adam
Smith memperkenalkan konsep selfish dari sudut pandang positif. Dalam sudut
pandang ekonomi, ketika semua orang mengejar keuntungan pribadi (self-interest),
secara tidak sengaja mereka malah memajukan perekonomian masyarakat luas
melalui pasar bebas (konsep invisible hand). Adam Smith memperkenalkan batas
antara selfish (egois yang merugikan) dan self-interest
(kepentingan diri yang rasional) mulai dipisahkan.
Meminjam analogi
invisible hand (tangan tak terlihat) milik Adam Smith, jika dalam
ekonomi, mengejar self-interest bisa memajukan masyarakat, maka dalam
keluarga, ibu yang merawat dirinya sendiri sebenarnya sedang menyelamatkan
seluruh rumah. Alih-alih memaksakan diri menjadi "ibu yang baik"
versi masyarakat yang harus habis tanpa sisa, yang justru menyisakan lelah dan
frustrasi yang ujung-ujungnya tumpah menjadi amarah di rumah, me time adalah
"investasi" yang rasional.
Namun, kita
harus jujur menarik batas antara me time sebagai kepentingan diri yang
rasional (self-interest) dengan melarikan diri sebagai keegoisan yang
merugikan (selfish). Mungkin jawabannya terletak pada intensi dan efek
setelahnya. Me time sejatinya berfokus pada restorasi (jeda untuk
mengisi ulang rasa kualahan yang manusiawi) sebaliknya, melarikan diri adalah penghindaran
(evasi) karena enggan menghadapi tanggung jawab atau konflik di rumah.
Efeknya pun kontras, alih-alih merasa pulih, seseorang justru akan merasa
semakin enggan pulang, memperpanjang waktu pergi tanpa batas yang jelas, dan
memandang rumah layaknya sebuah penjara yang mengekang. Memang benar apa yang
ditulis Mitch Albom di buku Finding Chika, menjadi orang tua itu berarti
harus belajar meluruhkan keegoisan, tapi, meluruhkan ego bukan berarti membiarkn
diri kita habis tak bersisa.
Comments
Post a Comment