Skip to main content

Dari Sastra Klasik ke Lirik Pejabat: Mengapa Budaya Merendahkan Perempuan Tak Pernah Mati


Akhir-akhir ini saya cukup tertarik membaca sastra klasik, salah satunya harimau! Harimau! karya Muchtar Lubis. Ini buku kedua beliau yang saya baca setelah buku jalan tak ada ujung, yang menceritakan perjalanan dan perang batin guru Isa melewati perjuangan tanpa ujung meraih kemerdekaan, termasuk kemerdekaan atas ketakutan dirinya sendiri. Dua buku  tersebut sebenarnya sangat berkesan luar biasa bagiku, namun ada beberapa bagaian yang membuat kurang nyaman ketika membaca harimau! Harimau!. Jadi, buku harimau! Harimau! menceritakan berbagai rupa-rupa karakter dan tabiat manusia, supaya kita tidak mudah terpukau terhadap seseorang yang terlihat sempurna, penuh kharismatik dan kaya akan pengalaman hidup, dan sebaliknya, tak boleh menyepelekan orang yang terasa bisa-bisa saja. Dalam hal ini saya sepakat bahwa Mochtar Lubis memang sangat genius dalam membedah psikologi manusia, ketakutan, dan kemunafikan.

Bagian yang kurang nyaman adalah ketika Muchtar Lubis menggambarkan sosok bernama Siti Rubiyah, wanita muda yang cantik jelita tapi kesepian, istri wak Hitam. Menurutku ada semacam “titik buta" (blind spot) ketika beliau menulis tentang perempuan. Peran perempuan dalam cerita ini hanya sebagai objektifikasi dan Instrumental. Siti Rubiyah adalah pusat godaan dari para lelaki pencari getah garet dalam rupa-rupa cerita utama buku ini. Eksplorasi fisik sensual muncul, tapi lebih menonjolkan sudut pandang para laki-laki yang tergoda. Nyaris sedikit sekali digambarkan perasaan perempuan sebagai manusia utuh yang punya ketakutan, mimpi, atau kesedihan karena terjebak dengan suami tua yang sakit. Dia hanya ditulis sebagai properti naratif, sebuah lanskap fisik yang sensual, yang fungsinya dalam cerita semata-mata untuk menguji sejauh mana keimanan dan kemunafikan para tokoh lelaki.

Aku jadi ingat beberapa waktu lalu (Juni 2026), Bupati Purwakarta, Saepul Bahri membuat lagu berjudul lalaki langit (lelaki langit) yang sangat-sangat merendahkan perempuan. Arti liriknya seperti ini “Terimakasih Tuhan. Sudah menciptakaaku jadi laki-laki. Andai saja Jadi perempuan. SMP kelas 3 sudah keguguran tujuh kali.  Terimakasih Tuhan. Tidak usah keluyuran mencari apotek, karena telat datang bulan...” liriknya masih panjang tapi saya tak sudi menuliskannya disini. Walaupun disangkal dengan cara apapun, nyatanya budaya misogini (kebencian atau perendahan terhadap perempuan yang mengakar di masyarakat) tidak pernah benar-benar hilang, ia hanya berganti rupa. Dan ketika figur otoritas menormalisasi objektifikasi perempuan semacam lirik bapak bupati itu, mereka sesungguhkan sedang melanggengkan cara pandang itu.

Sebagai pembaca perempuan dan juga ibu dari anak perempuan, saya menolak hanya menikmati cerita yang menyudutkan perempuan. Saya tidak ingin anak perempuan saya tumbuh menjadi sosok "Siti Rubiyah" baru. Perempuan yang pasif, sunyi, dan eksistensinya hanya didefinisikan oleh pandangan laki-laki di sekelilingnya. Perempuan sama dengan laki-laki, berhak memiliki kedaulatan diri mereka sendiri. Tubuh, pikiran, pilihan, dan masa depannya adalah mutlak milik dirinya sendiri dan tentu harus bertanggung jawab dan dilandasi norma-norma agama. Perempuan harus tumbuh dengan kesadaran penuh bahwa dia adalah tokoh utama dalam naskah hidupnya sendiri, bukan sekadar "karakter pendukung" yang nasibnya ditentukan orang lain, dan jelas bukan sebuah "ujian moral" atau batu sandungan bagi kepatuhan laki-laki di sekitarnya. Perempuan harus berani bersuara. Kepercayaan diri mereka tidak boleh diletakkan pada seberapa elok paras atau tubuh, melainkan pada ketajaman kapasitas intelektual, ketangguhan mental, serta integritas moral yang tidak bisa dibeli. Dengan cara inilah kita dapat melahirkan generasi perempuan baru. Perempuan yang tidak lagi menjadi objek yang pasif di sudut cerita, melainkan subjek berdaya yang menuliskan sejarahnya sendiri dengan kepala tegak.

 

  

Comments

Popular posts from this blog

Makhraj Bibir dan Maratibul Ghunnah

Perlu diketahui terlebih dahulu makhraj secara bahasa adalah tempat keluar, sedangkan secara istilah tajwid ia merujuk kepada tempat keluarnya huruf dan pembeda antara satu huruf dengan huruf yang lain. Ada perbedaan pendapat ul ama mengenai Jumlah Makhraj: Pendapat Imam Khalil bin Ahmad & Imam Ibnu al-Jazari: Terdapat 17 makhraj secara khusus. Ini adalah pendapat yang paling masyhur. Pendapat Imam Sibawayh: Terdapat 16 makhraj (beliau menggugurkan makhraj Al-Jauf dan memasukkan huruf mad ke makhraj lain). Pendapat Imam Al-Farra & Al-Qutrub: Terdapat 14 makhraj (menggabungkan makhraj Lam, Nun, dan Ra ke dalam satu tempat). 17 makhraj khusus tersebut dikelompokkan kepada 5 bahagian utama: Al-Jauf (Rongga Mulut & Tenggorokan): Tempat keluar bagi 3 huruf Mad (Alif, Wau, Ya). Al-Halq (Tenggorokan): Terbahagi kepada 3 makhraj khusus (Pangkal, Tengah, dan Ujung tenggorokan). Al-Lisan (Lidah): Bahagian paling banyak, ...

Me Time: Insting Bertahan Hidup atau Keegoisan?

                 Sebagai ibu dengan tiga orang anak, saya tahu pentingnya me time untuk menjaga kewarasan. Saya senang menghabiskan waktu untuk jalan-jalan sendiri, sekedar jogging di lapangan atau jalan-jalan dan membaca di toko buku. Perasaan bebas dan menjadi diri sendiri muncul, tapi anehnya, setelah itu perasaan kualahan kembali muncul ketika berhadapan dengan realitas keriuhan anak-anak. Terkadang muncul pikiran bahwa memberi jarak dengan meninggalkan anak-anak barang sejenak adalah sebuah keegoisan. Namun, setelah saya pikir lagi, rasa bersalah ini mungkin salah satu produk dari benturan nilai zaman. Sebagai generasi milenial, saya mungkin dididik sedikit berbeda dengan generasi sebelumnya (Gen X atau baby boomer), salah satunya lebih terbuka soal mengejar cita-cita dan peran ibu pekerja. Namun faktanya, label "ibu yang baik" adalah ibu yang menghabiskan seluruh waktu, energi, dan pikirannya demi anak dan keluarga tanpa sisa, teta...

Mengapa Surah Al-Kautsar Menggunakan Kata An-Nahr? (Menelusuri kandungan, hubungan dengan surah sebelumnya dan peristiwa di balik ayatnya)

  Surah al kautsar merupakan surat terpendek dalam Al Qur’an. Mengapa bukan surah Al Ashr yang sama-sama tiga ayat? Hal ini karena kata-kata penyusun Al Ashr masih lebih banyak dibandingkan surah Al Kautsar. Dari segi tempat turun, surah ini lebih mashur dikenal sebagai surat Makiyyah, turun di kota Makkah, atau sebelum Rasulullah berhijrah ke Madinah. Sebagaimana karakteristik surat Makiyyah yang cenderung pendek-pendek, surah ini pun begitu. Para ulama menyebut surah ini berkaitan dengan peristiwa meninggalnya putra Rasul yaitu Abdullah. Ketika itu para pemuka kafir Quraish mengejek Rasul “terputus keturunannya”, karena bagi masyarakat Quraish, tidak memiliki anak laki-laki adalah sebuah aib. Hal ini dijawab langsung oleh Allah dengan ayat ketiga: اِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْاَبْتَرُ ࣖ   “Sesungguhnya orang yang membencimu, dialah yang terputus”. Namun sebagian ulama lain menyebut surah ini sebagai surah Madaniyah, turun di Madinah, hal ini karena surah ini berkaitan dengan pe...