Skip to main content

Ketika anak tidak lancar menghafal: antara tidak mau, tidak tahu, dan tidak mampu

 

Pagi tadi aku mengeluh sama pak suami tentang hafalan anakku dan juga pengajaran tahfidz di sekolah mereka. Menurutku, harus ada jeda yang cukup untuk memantapkan hafalan sebelum menambah yang baru. Setidaknya itu yang aku pelajari selama menjadi penghafal Quran. Apalah gunanya kuantitas yang banyak tanpa kualitas, pikirku begitu. Tapi suamiku menjawab dengan sangat sederhana “aku malah setuju, anak ki ya perlu merasa pernah hafal dulu”. Aku jadi tertampar dengan jawaban itu, aku yang pernah menyelesaikan hafalan Quran 15tahun yang lalu pun sapai sekarang masih jatuh bangun untuk menjaga hafalan.  Ikut daurah sana-sini, itu pun masih lepas sana lepas sini. Mengapa aku meminta hafalan yang kuat dari anak yang baru mulai menghafal Quran, dan dari mereka yang sebenarnya tidak tahu tujuan dan manfaat dari menghafalkan Quran itu sendiri.

Jujur aku merasa bersalah kadang memperlihatkan kejengkelan di depan mereka. Aku jadi ingat salah satu nasihat guruku bahwa yang dibangun adalah kecintaan pada Quran, bukan rasa trauma. Menghafal Quran adalah perjalanan yang sangat panjang dan tak berujung. Memberi mereka sensasi kebahagiaan mendorong mereka mencari sensasi kebahagiaan berikutnya dan menjaga keberlanjutan usaha mereka. Memaksa mereka untuk segera mempunyai hafalan yang baik secara instan justru membunuh kecintaan mereka dan mungkin meninggalkan trauma seumur hidup pada mereka.

Kata dr. Andreas Kurniawan dalam bukunya “seorang anak yang bersembunyi di balik topeng super hero”: bedakan antara tidak tahu, tidak mau dan tidak mampu. Kadang kita terlalu cepat menghakimi seseorang, seperti: rumah berantakan? pemiliknya tidak mau membereskan; seorang murid yang mendapat nilai jelek? dia tidak mau belajar; pengendara mobil melanggar lampu merah? dia tidak mau mengikuti aturan. Dalam bukunya itu, beliau juga memberi analogi sederhana: bayangkan ada seorang anak yang biasanya pintar berenang tiba-tiba gelagapan, melambai-lambaikan tangannya meminta tolong di sebuah kolam renang. Bagaimana jadinya kalau orang-orang berpikir tidak mau menolong karena anak tersebut biasanya bisa berenang.  Padahal, bisa saja anak itu memang bisa berenang,  tapi saat itu dia tidak bisa berenang? Mungkin kakinya tiba-tiba keram sehingga tidak bisa berenang? Atau mungkin dia kehabisan energi? Atau mungkin dia hanya mampu berenang di kolam yang dangkal? Jadi walaupun dia tahu dan mau untuk berenang, ternyata dia tidak mampu untuk itu.

Ah, aku sendiri yang sudah menjalani proses menghafal puluhan tahun, merasa kesulitan dengan surat dengan ayat yang pendek-pendek. Dan tidak setiap waktu aku bisa lancar, ada kalanya mood sedang tidak baik, atau lelah, jadinya hafalan berantakan. Ah mungkin benar, kemarahan kita kadang adalah pantulan dari ketidakmampuan kita sendiri. Pada akhirnya, aku harus mengakui kesalahan itu, dan lagi-lagi anak-anak adalah pemaaf yang paling tulus.

Comments

Popular posts from this blog

Makhraj Bibir dan Maratibul Ghunnah

Perlu diketahui terlebih dahulu makhraj secara bahasa adalah tempat keluar, sedangkan secara istilah tajwid ia merujuk kepada tempat keluarnya huruf dan pembeda antara satu huruf dengan huruf yang lain. Ada perbedaan pendapat ul ama mengenai Jumlah Makhraj: Pendapat Imam Khalil bin Ahmad & Imam Ibnu al-Jazari: Terdapat 17 makhraj secara khusus. Ini adalah pendapat yang paling masyhur. Pendapat Imam Sibawayh: Terdapat 16 makhraj (beliau menggugurkan makhraj Al-Jauf dan memasukkan huruf mad ke makhraj lain). Pendapat Imam Al-Farra & Al-Qutrub: Terdapat 14 makhraj (menggabungkan makhraj Lam, Nun, dan Ra ke dalam satu tempat). 17 makhraj khusus tersebut dikelompokkan kepada 5 bahagian utama: Al-Jauf (Rongga Mulut & Tenggorokan): Tempat keluar bagi 3 huruf Mad (Alif, Wau, Ya). Al-Halq (Tenggorokan): Terbahagi kepada 3 makhraj khusus (Pangkal, Tengah, dan Ujung tenggorokan). Al-Lisan (Lidah): Bahagian paling banyak, ...

Me Time: Insting Bertahan Hidup atau Keegoisan?

                 Sebagai ibu dengan tiga orang anak, saya tahu pentingnya me time untuk menjaga kewarasan. Saya senang menghabiskan waktu untuk jalan-jalan sendiri, sekedar jogging di lapangan atau jalan-jalan dan membaca di toko buku. Perasaan bebas dan menjadi diri sendiri muncul, tapi anehnya, setelah itu perasaan kualahan kembali muncul ketika berhadapan dengan realitas keriuhan anak-anak. Terkadang muncul pikiran bahwa memberi jarak dengan meninggalkan anak-anak barang sejenak adalah sebuah keegoisan. Namun, setelah saya pikir lagi, rasa bersalah ini mungkin salah satu produk dari benturan nilai zaman. Sebagai generasi milenial, saya mungkin dididik sedikit berbeda dengan generasi sebelumnya (Gen X atau baby boomer), salah satunya lebih terbuka soal mengejar cita-cita dan peran ibu pekerja. Namun faktanya, label "ibu yang baik" adalah ibu yang menghabiskan seluruh waktu, energi, dan pikirannya demi anak dan keluarga tanpa sisa, teta...

Mengapa Surah Al-Kautsar Menggunakan Kata An-Nahr? (Menelusuri kandungan, hubungan dengan surah sebelumnya dan peristiwa di balik ayatnya)

  Surah al kautsar merupakan surat terpendek dalam Al Qur’an. Mengapa bukan surah Al Ashr yang sama-sama tiga ayat? Hal ini karena kata-kata penyusun Al Ashr masih lebih banyak dibandingkan surah Al Kautsar. Dari segi tempat turun, surah ini lebih mashur dikenal sebagai surat Makiyyah, turun di kota Makkah, atau sebelum Rasulullah berhijrah ke Madinah. Sebagaimana karakteristik surat Makiyyah yang cenderung pendek-pendek, surah ini pun begitu. Para ulama menyebut surah ini berkaitan dengan peristiwa meninggalnya putra Rasul yaitu Abdullah. Ketika itu para pemuka kafir Quraish mengejek Rasul “terputus keturunannya”, karena bagi masyarakat Quraish, tidak memiliki anak laki-laki adalah sebuah aib. Hal ini dijawab langsung oleh Allah dengan ayat ketiga: اِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْاَبْتَرُ ࣖ   “Sesungguhnya orang yang membencimu, dialah yang terputus”. Namun sebagian ulama lain menyebut surah ini sebagai surah Madaniyah, turun di Madinah, hal ini karena surah ini berkaitan dengan pe...