Skip to main content

Menulislah Seperti Bicara pada Teman Dekat" — Pelajaran Menulis dari A.S. Laksana

 Kata Tony Buzan, penemu mind mapping, rahasia mengasah kreativitas adalah dengan mendekatkan tangan ke otak, alias menulis. Itu kenapa sekarang aku mulai membiasakan menulis. Menulis ide apa saja yang melintas di kepalaku. 

Keinginan menulis sebenarnya sudah lama ada, tapi baru akhir akhir ini aja terwujud. Dulunya aku pemalu dan tidak percaya diri, sekarang memberanikan menulis di blog pribadi, jurnal harian, review pengalaman membaca buku di IG dan juga wa status. 

Dulu polanya selalu sama: tulis satu kalimat, baca ulang, ragu, lalu hapus. Tulis lagi, hapus lagi. Akhire tidak pernah jadi-jadi. Sampai aku ketemu buku creative writing mas A.S Laksana. Kata beliau, menulislah seperti kamu sedang berbicara dengan teman dekatmu. Tulis saja, tidak perlu menunggu mood atau punya ide menulis, karena salah satu cara memancing mood dan ide adalah dengan menulis itu sendiri.

Menulis memang bukan keterampilan yang berdiri sendiri. Ia tumbuh dari kebiasaan-kebiasaan lain, salah satunya membaca. Tapi, punya niat dan bahan bacaan saja kayaknya belum cukup, jika masih ada palang rintangan tinggi  yang menghalangi kita menulis.

Fumio Sasaki dalam bukunya hello habits bilang, setidaknya ada tiga bentuk rintangan yang bisa menghalangi kita memulai kebiasaan baru, yaitu rintangan jarak dan waktu, rintangan prosedur, dan rintangan psikologis.

Pertama, rintangan jarak dan waktu. Dulu aku berpikir menulis butuh suasana khusus: meja rapi, laptop menyala, dan waktu luang yang lapang. Ternyata menunggu momen "sempurna" itu hanya membuat tulisan tak pernah selesai. Tulis di mana saja dan kapan saja. Banyak penulis hebat menyelesaikan karyanya di sela-sela ruang tunggu bandara, riuhnya gerbong kereta, atau jeda singkat di tengah kesibukan. Menggunakan ponsel pintar atau secarik kertas dan pena pun tak masalah. Menulis tidak menunggu waktu luang, kuncinya bukan cari-cari waktu, tapi make time kata Jake Knapp.

Kedua, rintangan prosedur. Rintangan ini sering kali menjelma menjadi dorongan untuk langsung tampil sempurna. Kata mas A.A Laksana, menulislah tanpa menyensor diri untuk tampil sempurna. Tulisan "jelek" bisa jadi draft awal, toh masih ada kesempatan untuk menyunting dan memperbaiki draft tersebut. Tulis saja dengan cepat. Dengan begitu kita melepaskan beban-beban untuk tampil sempurna.

Kata suamiku yang seorang penulis, cari saja penulis yang menurutmu bagus, ikuti alur bagaimana cara mereka menulis. Aku sendiri suka tulisan reflektif yang mengalir. Beberapa penulis yang banyak menginspirasiku diantaranya tulisan-tulisan mbak Desi Anwar, mas Andreas Kurniawan dan juga Prof Khomarudin Hidayat.

Ketiga, rintangan psikologis. Inilah benteng terberat yang sering membuat kita ragu: rasa malu, rasa takut dihakimi, atau bayangan bahwa tulisan kita akan jadi bahan tertawaan. Ingat, seorang penulis profesional diawali dengan menjadi penulis amatiran dulu. Jadi jangan khawatir berlebihan.

Ingat ya, seperti yang tadi sudah saya singgung di awal, tulisan yang sempurna adalah tulisan yang tidak pernah ditulis. Dan ini adalah salah satu tulisan yang tidak sempurna itu, hehe

Comments

Popular posts from this blog

Makhraj Bibir dan Maratibul Ghunnah

Perlu diketahui terlebih dahulu makhraj secara bahasa adalah tempat keluar, sedangkan secara istilah tajwid ia merujuk kepada tempat keluarnya huruf dan pembeda antara satu huruf dengan huruf yang lain. Ada perbedaan pendapat ul ama mengenai Jumlah Makhraj: Pendapat Imam Khalil bin Ahmad & Imam Ibnu al-Jazari: Terdapat 17 makhraj secara khusus. Ini adalah pendapat yang paling masyhur. Pendapat Imam Sibawayh: Terdapat 16 makhraj (beliau menggugurkan makhraj Al-Jauf dan memasukkan huruf mad ke makhraj lain). Pendapat Imam Al-Farra & Al-Qutrub: Terdapat 14 makhraj (menggabungkan makhraj Lam, Nun, dan Ra ke dalam satu tempat). 17 makhraj khusus tersebut dikelompokkan kepada 5 bahagian utama: Al-Jauf (Rongga Mulut & Tenggorokan): Tempat keluar bagi 3 huruf Mad (Alif, Wau, Ya). Al-Halq (Tenggorokan): Terbahagi kepada 3 makhraj khusus (Pangkal, Tengah, dan Ujung tenggorokan). Al-Lisan (Lidah): Bahagian paling banyak, ...

Me Time: Insting Bertahan Hidup atau Keegoisan?

                 Sebagai ibu dengan tiga orang anak, saya tahu pentingnya me time untuk menjaga kewarasan. Saya senang menghabiskan waktu untuk jalan-jalan sendiri, sekedar jogging di lapangan atau jalan-jalan dan membaca di toko buku. Perasaan bebas dan menjadi diri sendiri muncul, tapi anehnya, setelah itu perasaan kualahan kembali muncul ketika berhadapan dengan realitas keriuhan anak-anak. Terkadang muncul pikiran bahwa memberi jarak dengan meninggalkan anak-anak barang sejenak adalah sebuah keegoisan. Namun, setelah saya pikir lagi, rasa bersalah ini mungkin salah satu produk dari benturan nilai zaman. Sebagai generasi milenial, saya mungkin dididik sedikit berbeda dengan generasi sebelumnya (Gen X atau baby boomer), salah satunya lebih terbuka soal mengejar cita-cita dan peran ibu pekerja. Namun faktanya, label "ibu yang baik" adalah ibu yang menghabiskan seluruh waktu, energi, dan pikirannya demi anak dan keluarga tanpa sisa, teta...

Mengapa Surah Al-Kautsar Menggunakan Kata An-Nahr? (Menelusuri kandungan, hubungan dengan surah sebelumnya dan peristiwa di balik ayatnya)

  Surah al kautsar merupakan surat terpendek dalam Al Qur’an. Mengapa bukan surah Al Ashr yang sama-sama tiga ayat? Hal ini karena kata-kata penyusun Al Ashr masih lebih banyak dibandingkan surah Al Kautsar. Dari segi tempat turun, surah ini lebih mashur dikenal sebagai surat Makiyyah, turun di kota Makkah, atau sebelum Rasulullah berhijrah ke Madinah. Sebagaimana karakteristik surat Makiyyah yang cenderung pendek-pendek, surah ini pun begitu. Para ulama menyebut surah ini berkaitan dengan peristiwa meninggalnya putra Rasul yaitu Abdullah. Ketika itu para pemuka kafir Quraish mengejek Rasul “terputus keturunannya”, karena bagi masyarakat Quraish, tidak memiliki anak laki-laki adalah sebuah aib. Hal ini dijawab langsung oleh Allah dengan ayat ketiga: اِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْاَبْتَرُ ࣖ   “Sesungguhnya orang yang membencimu, dialah yang terputus”. Namun sebagian ulama lain menyebut surah ini sebagai surah Madaniyah, turun di Madinah, hal ini karena surah ini berkaitan dengan pe...