Skip to main content

Sukun Godok dan Ingatan Sejarah yang Terlupakan

 

Tadi sore aku menikmati sukun godok di rumah ibu. Ternyata, sukun godok rasanya tak kalah nikmat dengan yang digoreng. Beberapa kali aku menawari anak-anakku untuk mencicipinya, tapi mereka semua enggan. Kalau dipikir-pikir, anak-anak sekarang memang kurang mengenal ragam makanan tradisional. Mereka kurang diperkenalkan, sehingga menjadi asing bagi mereka. Ditambah tampilan makanan tradisional biasanya tidak semenarik jajanan dan kudapan anak-anak zaman sekarang.

Padahal, di balik makanan sederhana yang kelihatannya kurang menarik itu, sering kali tersimpan sejarah yang sangat panjang. Aku jadi ingat salah satu ulasan buku menarik berjudul “Buku Mustika Rasa: Resep Masakan Indonesia Warisan Sukarno” yang terbit pertama kali tahun 1967. Buku tersebut diprakarsai oleh Sukarno, dibantu istri beliau bernama Ibu Hartini. Ibu Hartini ini salah satu istri Sukarno, yang konon cerita dinikahi karena kemahirannya memasak sayur lodeh,  masakan khas Jawa Tengah. Ibaratnya dari lidah turun ke hati. Sukarno memang terkenal picky eater, kemanapun beliau pergi, yang dicari adalah masakan khas nusantara, dan kesukaan beliau adalah sayur lodeh, tempe bacem, tempe goreng, ikan asin, sambal terasi, bagar hiu, sate ayam, nasi jagung, tiwul, kue pais pisang, singkong rebus atau goreng, ubi rebus atau goreng, buah sawo, dan kopi hitam.

Buku Mustika Rasa ini memuat lebih dari 1.600 resep masakan, dan disusun oleh Lembaga Makanan Rakyat (LMR) yang dipimpin Dr. Poorwo Soedarmo (Bapak Gizi Indonesia) kala itu. Dalam penyusunannya, petugas lapangan dikirim ke seluruh penjuru Nusantara untuk mencatat resep tradisional. Fokus utamanya bukan sekadar resep, tapi membangun diversifikasi pangan local, dengan memanfaatkan ubi, singkong, sagu, jagung, ganyong, tales, hingga sukun yang tidak kalah kandungan gizi dibanding beras.

Salah satu latar belakang penyusunan buku ini sebenarnya adalah krisis ekonomi, ditambah krisis pangan pada masa itu. Sekitar tahun 1960-1966-an, Indonesia mengalami kemerosotan ekonomi parah dengan angka inflasi yang melonjak drastis (mencapai puncaknya hingga lebih dari 600% pada 1965–1966). Kas negara kosong dan mata uang Rupiah mengalami devaluasi tajam. Pada saat yang sama, wilayah-wilayah sentra lumbung padi seperti Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur juga dilanda kekeringan ekstrem serta serangan hama tikus yang masif. Selain itu. meletusnya Gunung Agung di Bali pada tahun 1963 juga merusak ribuan hektar lahan pertanian. Terjadi wabah gizi buruk dimana-mana, dan Indonesia akhirnya mengimpor beras.

 Sayangnya, visi diversifikasi pangan ini kandas di era Orde Baru. Di bawah pemerintahan Presiden Soeharto, terjadi politik penyeragaman pangan secara masif melalui program Revolusi Hijau. Padi dikonstruksikan sebagai simbol kemajuan, modernitas, dan "makanan orang beradab". Secara tidak langsung, kebijakan ini memarginalkan bahan pangan pokok Nusantara lainnya, seperti sagu di timur, jagung di Nusa Tenggara, serta ubi dan sukun di Jawa, yang perlahan diberi stigma sebagai makanan orang miskin atau makanan kelas bawah. Penyeragaman pangan demi ambisi swasembada beras saat itu harus dibayar mahal hari ini. Kita terjebak dalam ketergantungan impor beras dan gandum yang tinggi, sekaligus kehilangan taste memory pada generasi muda. Anak-anak kita tumbuh asing dengan cita rasa tanah airnya sendiri.

Kembali pada sukun godok yang saya makan tadi, di balik sukun yang digodok ataupun digoreng, ada sejarah panjang dan warisan leluhur yang perlu kita perkenalkan pada generasi selanjutnya. Tanpa mengenal sejarah bangsanya, anak negeri bisa limbung dan linglung dalam berjalan. Dan pada akhirnya, meja makan tidak hanya dapat menjadi ruang untuk mengenalkan sejarah, tapi juga membentuk karakter anak-anak, untuk belajar menyukai, menghargai, dan mensyukuri apa pun yang tersaji tanpa banyak menuntut.

Comments

Popular posts from this blog

Makhraj Bibir dan Maratibul Ghunnah

Perlu diketahui terlebih dahulu makhraj secara bahasa adalah tempat keluar, sedangkan secara istilah tajwid ia merujuk kepada tempat keluarnya huruf dan pembeda antara satu huruf dengan huruf yang lain. Ada perbedaan pendapat ul ama mengenai Jumlah Makhraj: Pendapat Imam Khalil bin Ahmad & Imam Ibnu al-Jazari: Terdapat 17 makhraj secara khusus. Ini adalah pendapat yang paling masyhur. Pendapat Imam Sibawayh: Terdapat 16 makhraj (beliau menggugurkan makhraj Al-Jauf dan memasukkan huruf mad ke makhraj lain). Pendapat Imam Al-Farra & Al-Qutrub: Terdapat 14 makhraj (menggabungkan makhraj Lam, Nun, dan Ra ke dalam satu tempat). 17 makhraj khusus tersebut dikelompokkan kepada 5 bahagian utama: Al-Jauf (Rongga Mulut & Tenggorokan): Tempat keluar bagi 3 huruf Mad (Alif, Wau, Ya). Al-Halq (Tenggorokan): Terbahagi kepada 3 makhraj khusus (Pangkal, Tengah, dan Ujung tenggorokan). Al-Lisan (Lidah): Bahagian paling banyak, ...

Me Time: Insting Bertahan Hidup atau Keegoisan?

                 Sebagai ibu dengan tiga orang anak, saya tahu pentingnya me time untuk menjaga kewarasan. Saya senang menghabiskan waktu untuk jalan-jalan sendiri, sekedar jogging di lapangan atau jalan-jalan dan membaca di toko buku. Perasaan bebas dan menjadi diri sendiri muncul, tapi anehnya, setelah itu perasaan kualahan kembali muncul ketika berhadapan dengan realitas keriuhan anak-anak. Terkadang muncul pikiran bahwa memberi jarak dengan meninggalkan anak-anak barang sejenak adalah sebuah keegoisan. Namun, setelah saya pikir lagi, rasa bersalah ini mungkin salah satu produk dari benturan nilai zaman. Sebagai generasi milenial, saya mungkin dididik sedikit berbeda dengan generasi sebelumnya (Gen X atau baby boomer), salah satunya lebih terbuka soal mengejar cita-cita dan peran ibu pekerja. Namun faktanya, label "ibu yang baik" adalah ibu yang menghabiskan seluruh waktu, energi, dan pikirannya demi anak dan keluarga tanpa sisa, teta...

Mengapa Surah Al-Kautsar Menggunakan Kata An-Nahr? (Menelusuri kandungan, hubungan dengan surah sebelumnya dan peristiwa di balik ayatnya)

  Surah al kautsar merupakan surat terpendek dalam Al Qur’an. Mengapa bukan surah Al Ashr yang sama-sama tiga ayat? Hal ini karena kata-kata penyusun Al Ashr masih lebih banyak dibandingkan surah Al Kautsar. Dari segi tempat turun, surah ini lebih mashur dikenal sebagai surat Makiyyah, turun di kota Makkah, atau sebelum Rasulullah berhijrah ke Madinah. Sebagaimana karakteristik surat Makiyyah yang cenderung pendek-pendek, surah ini pun begitu. Para ulama menyebut surah ini berkaitan dengan peristiwa meninggalnya putra Rasul yaitu Abdullah. Ketika itu para pemuka kafir Quraish mengejek Rasul “terputus keturunannya”, karena bagi masyarakat Quraish, tidak memiliki anak laki-laki adalah sebuah aib. Hal ini dijawab langsung oleh Allah dengan ayat ketiga: اِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْاَبْتَرُ ࣖ   “Sesungguhnya orang yang membencimu, dialah yang terputus”. Namun sebagian ulama lain menyebut surah ini sebagai surah Madaniyah, turun di Madinah, hal ini karena surah ini berkaitan dengan pe...