Skip to main content

Sepi ing pamrih, ramé ing gawé, memayu hayuning bawånå.

 


Kalau kamu suka baca buku-buku self improvement dari penulis-penulis Barat, kamu bakal nggak asing dengan kalimat-kalimat semacam: jadilah diri sendiri, masa bodoh dengan orang lain, jadilah otentik. Kalau dibaca memang menjadikan kita bersemangat dan seperti ada bisikan atau inner-voice semacam “ini lo yang aku pingin”. Bulan ini (agustus 2026) aku menyelesaikan membaca the gifts of imperfection karya Brene Brown, dan disaat yang sama karena ada kebutuhan untuk mengajar materi kuliah Islam dan Budaya Jawa, saya juga membaca bukunya etika Jawa: sebuah analisa falsafi tentang kebijaksanaan hidup Jawa, karya Prof Franz Magnis Suseno, dari situ aku menyadari bahwa perbedaan budaya itu jangan saling dipertentangkan dan dibanding-bandingkan, karena  berangkat dari realitas yang berbeda. Jangan sampai kita silau dengan budaya luar dan merendahkan nilai falsafi kehidupan nyata kita sendiri. Ingat kawan, bukan rumput tetangga yang lebih hijau, tapi rumput yang dirawat dengan baik, atau malah rumput yang hijau itu adalah rumput sintetis, ya kan? Jadi perbedaan budaya tidak hadir untuk dipertentangkan, melainkan untuk dipahami dari realitasnya masing-masing.

Fenomena itu mengingatkanku pada kalimat pengantar di buku parenting yang ditulis Jessica Joelle Alexander dan Iben Dissing berjudul “the danish way of parenting”. Buku itu membahas gaya parenting orang tua Denmark, negara dengan indeks kebahagian tertinggi dunia. Di pengantar, sang penulis mengingatkan adanya parental ethnotheories yaitu pengaruh budaya terhadap pola pengasuhan. Kepercayaan dasar tentang cara yang benar untuk mengasuh sangat mendarah daging dalam masyarakat, sehingga hampir mustahil melihatnya secara objektif. Misalnya, di Italia anak makan malam pukul 9 malam dan masih berlarian hingga tengah malam, bayi Norwegia biasanya diletakkan di luar rumah pada suhu -20 derajat celcius untuk tidur, di Belgia anak boleh minum bir. Coba bayangkan itu terjadi di Indonesia? (Bertanya dengan nada selembut tisu, hehe)

Begitu pula dengan urusan "menjadi otentik", berbeda dengan masyarakat Barat yang mendasarkan kehidupan pada individualisme, masyarakat Timur sudah terbiasa hidup secara kolektif alias bareng-bareng. Sampai ada ungkapan “mangan ra mangan sing penting kumpul” (makan atau tidak makan yang penting kumpul. Prof Magnis Suseno menulis: Masyarakat Jawa mengenal ungkapan sepi ing pamrih, ramé ing gawé, memayu hayuning bawånå. Sepi ing pamrih memuat kerelaan untuk tidak lagi mengejar kepentingan-kepentingan sendiri tanpa perhatian terhadap masyarakat. Ramé ing gawé, kelakuan yang tepat dalam dunia, terdiri dalam kesetiaan dalam memenuhi kewajiban masing-masing, hal mana sekaligus berarti juga memayu hayuning bawånå. Artinya, memperindah dunia dan dengan demikian membenarkan keselarasan kosmos. Sebaliknya, mengejar kepentingan-kepentingan egois harus ditegur, karena mengacaukan keselarasan masyarakat dan kosmos.

Tulisan ini tidak bermaksud untuk mengajak meragukan konsepsi yang ditawarkan dari penulis Barat. Tapi mengajak untuk tetap mempertimbangkan kehidupan nyata kita dalam mengambil motivasi dari mereka. Antara Barat dan Timur keduanya masing-masing punya merit (kedudukan)nya sendiri-sendiri. Pemikiran Barat bisa kita jadikan sebagai jendela untuk melihat perspektif luar, dan falsafah Timur/Jawa sebagai cermin untuk berkaca pada realitas sendiri. Kita tidak perlu menutup jendela, tapi jangan sampai lupa menatap cermin. Konsep otentik ala Barat menjaga kita agar tidak kehilangan diri sendiri, sedangkan cara berpikir kolektif ala Timur menjaga kita agar tidak mencabut diri dari kebersamaan. Dalam Islam pun sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat, dan kebermanfaatkan yang semakin meluas dirasakan lebih baik daripada kebermanfaat untuk diri sendiri.

Comments

Popular posts from this blog

Makhraj Bibir dan Maratibul Ghunnah

Perlu diketahui terlebih dahulu makhraj secara bahasa adalah tempat keluar, sedangkan secara istilah tajwid ia merujuk kepada tempat keluarnya huruf dan pembeda antara satu huruf dengan huruf yang lain. Ada perbedaan pendapat ul ama mengenai Jumlah Makhraj: Pendapat Imam Khalil bin Ahmad & Imam Ibnu al-Jazari: Terdapat 17 makhraj secara khusus. Ini adalah pendapat yang paling masyhur. Pendapat Imam Sibawayh: Terdapat 16 makhraj (beliau menggugurkan makhraj Al-Jauf dan memasukkan huruf mad ke makhraj lain). Pendapat Imam Al-Farra & Al-Qutrub: Terdapat 14 makhraj (menggabungkan makhraj Lam, Nun, dan Ra ke dalam satu tempat). 17 makhraj khusus tersebut dikelompokkan kepada 5 bahagian utama: Al-Jauf (Rongga Mulut & Tenggorokan): Tempat keluar bagi 3 huruf Mad (Alif, Wau, Ya). Al-Halq (Tenggorokan): Terbahagi kepada 3 makhraj khusus (Pangkal, Tengah, dan Ujung tenggorokan). Al-Lisan (Lidah): Bahagian paling banyak, ...

Me Time: Insting Bertahan Hidup atau Keegoisan?

                 Sebagai ibu dengan tiga orang anak, saya tahu pentingnya me time untuk menjaga kewarasan. Saya senang menghabiskan waktu untuk jalan-jalan sendiri, sekedar jogging di lapangan atau jalan-jalan dan membaca di toko buku. Perasaan bebas dan menjadi diri sendiri muncul, tapi anehnya, setelah itu perasaan kualahan kembali muncul ketika berhadapan dengan realitas keriuhan anak-anak. Terkadang muncul pikiran bahwa memberi jarak dengan meninggalkan anak-anak barang sejenak adalah sebuah keegoisan. Namun, setelah saya pikir lagi, rasa bersalah ini mungkin salah satu produk dari benturan nilai zaman. Sebagai generasi milenial, saya mungkin dididik sedikit berbeda dengan generasi sebelumnya (Gen X atau baby boomer), salah satunya lebih terbuka soal mengejar cita-cita dan peran ibu pekerja. Namun faktanya, label "ibu yang baik" adalah ibu yang menghabiskan seluruh waktu, energi, dan pikirannya demi anak dan keluarga tanpa sisa, teta...

Mengapa Surah Al-Kautsar Menggunakan Kata An-Nahr? (Menelusuri kandungan, hubungan dengan surah sebelumnya dan peristiwa di balik ayatnya)

  Surah al kautsar merupakan surat terpendek dalam Al Qur’an. Mengapa bukan surah Al Ashr yang sama-sama tiga ayat? Hal ini karena kata-kata penyusun Al Ashr masih lebih banyak dibandingkan surah Al Kautsar. Dari segi tempat turun, surah ini lebih mashur dikenal sebagai surat Makiyyah, turun di kota Makkah, atau sebelum Rasulullah berhijrah ke Madinah. Sebagaimana karakteristik surat Makiyyah yang cenderung pendek-pendek, surah ini pun begitu. Para ulama menyebut surah ini berkaitan dengan peristiwa meninggalnya putra Rasul yaitu Abdullah. Ketika itu para pemuka kafir Quraish mengejek Rasul “terputus keturunannya”, karena bagi masyarakat Quraish, tidak memiliki anak laki-laki adalah sebuah aib. Hal ini dijawab langsung oleh Allah dengan ayat ketiga: اِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْاَبْتَرُ ࣖ   “Sesungguhnya orang yang membencimu, dialah yang terputus”. Namun sebagian ulama lain menyebut surah ini sebagai surah Madaniyah, turun di Madinah, hal ini karena surah ini berkaitan dengan pe...