Skip to main content

Santri yang Takut Demit

 


Jujur sejak kecil saya takut demit. Walaupun pernah nyantri yang kamarnya bersebelahan dengan kuburan terbesar di Jawa Tengah yaitu kuburan Bonoloyo, tetap saja sampai sekarang saya takut demit. Suamiku sering meledeki “apal Qur’an wedi demit”. Bagiku takut demit bukan soal tipisnya iman, tapi pengalaman masa kecil yang sering ditakut-takuti demit. Dari situ aku berkeyakinan, orang dewasa memang harus berhati-hati dengan apa yang disampaikan kepada anak. Jangan sekali-kali menanggap sepele niatan “bercanda” yang dampaknya bisa dibawa seumur hidup seseorang. Pepatah mengatakan mengajari seseorang di waktu kecil ibarat memahat di atas batu. Begitulah kira-kira jadinya. Kejadian di masa kecil meskipun tidak bisa diingat secara keseluruhannya, menjadi inner voice (suara dalam) anak kecil yang telah tumbuh dewasa, dan berdampak pada laku hidupnya, termasuk bagaimana membuat keputusan besar dalam hidupnya.

Sebagaimana saya pernah menulis tentang demit sebagai cara penanaman kepatuhan ala masyarakat Jawa, sejarah perdemitan memang punya posisi istimewanya sendiri. Sebelum agama Kristen dan Islam masuk ke bumi Nusantara, kepercayaan orang-orang pribumi ya animisme dan dinamisme. Percaya pada roh-roh nenek moyang dan juga benda-benda yang dianggap keramat. Pendirian-pendirian kerajaan Jawa juga tak lepas dari sejarah perdemitan ini. Di buku Islam Jawa karya Mark R Woodward kamu bisa menemukan banyak cerita-cerita semacam itu, salah satunya cerita Hamengkubuwono I ketika akan mendirikan kesultanan Yogyakarta terlebih dahulu mengalahkan jin demit yang ada di wilayah tersebut, konon sebagian demit itu dibawa dan ditahan di dalam keraton. Percaya ngak percaya, itulah keyakinan masa itu.

Selain itu, ada hal yang menarik lainnya, kalau kita dulu belajar Islam disebarkan dengan jalan damai, lewat perdagangan, pendidikan, pernikahan, kesenian, dan budaya. Ada satu hal yang tidak boleh dianggap remeh, yaitu apa yang ditawarkan Islam lewat jalur sufistiknya mewadahi keinginan dan kebutuhan masyarakat Jawa yang kala itu sangat terkesan oleh "kesaktian", karamah, dan hal-hal kasatmata.

Jadi bagaimana, apakah kamu termasuk santri yang takut demit juga?

Comments

Popular posts from this blog

Makhraj Bibir dan Maratibul Ghunnah

Perlu diketahui terlebih dahulu makhraj secara bahasa adalah tempat keluar, sedangkan secara istilah tajwid ia merujuk kepada tempat keluarnya huruf dan pembeda antara satu huruf dengan huruf yang lain. Ada perbedaan pendapat ul ama mengenai Jumlah Makhraj: Pendapat Imam Khalil bin Ahmad & Imam Ibnu al-Jazari: Terdapat 17 makhraj secara khusus. Ini adalah pendapat yang paling masyhur. Pendapat Imam Sibawayh: Terdapat 16 makhraj (beliau menggugurkan makhraj Al-Jauf dan memasukkan huruf mad ke makhraj lain). Pendapat Imam Al-Farra & Al-Qutrub: Terdapat 14 makhraj (menggabungkan makhraj Lam, Nun, dan Ra ke dalam satu tempat). 17 makhraj khusus tersebut dikelompokkan kepada 5 bahagian utama: Al-Jauf (Rongga Mulut & Tenggorokan): Tempat keluar bagi 3 huruf Mad (Alif, Wau, Ya). Al-Halq (Tenggorokan): Terbahagi kepada 3 makhraj khusus (Pangkal, Tengah, dan Ujung tenggorokan). Al-Lisan (Lidah): Bahagian paling banyak, ...

Me Time: Insting Bertahan Hidup atau Keegoisan?

                 Sebagai ibu dengan tiga orang anak, saya tahu pentingnya me time untuk menjaga kewarasan. Saya senang menghabiskan waktu untuk jalan-jalan sendiri, sekedar jogging di lapangan atau jalan-jalan dan membaca di toko buku. Perasaan bebas dan menjadi diri sendiri muncul, tapi anehnya, setelah itu perasaan kualahan kembali muncul ketika berhadapan dengan realitas keriuhan anak-anak. Terkadang muncul pikiran bahwa memberi jarak dengan meninggalkan anak-anak barang sejenak adalah sebuah keegoisan. Namun, setelah saya pikir lagi, rasa bersalah ini mungkin salah satu produk dari benturan nilai zaman. Sebagai generasi milenial, saya mungkin dididik sedikit berbeda dengan generasi sebelumnya (Gen X atau baby boomer), salah satunya lebih terbuka soal mengejar cita-cita dan peran ibu pekerja. Namun faktanya, label "ibu yang baik" adalah ibu yang menghabiskan seluruh waktu, energi, dan pikirannya demi anak dan keluarga tanpa sisa, teta...

Mengapa Surah Al-Kautsar Menggunakan Kata An-Nahr? (Menelusuri kandungan, hubungan dengan surah sebelumnya dan peristiwa di balik ayatnya)

  Surah al kautsar merupakan surat terpendek dalam Al Qur’an. Mengapa bukan surah Al Ashr yang sama-sama tiga ayat? Hal ini karena kata-kata penyusun Al Ashr masih lebih banyak dibandingkan surah Al Kautsar. Dari segi tempat turun, surah ini lebih mashur dikenal sebagai surat Makiyyah, turun di kota Makkah, atau sebelum Rasulullah berhijrah ke Madinah. Sebagaimana karakteristik surat Makiyyah yang cenderung pendek-pendek, surah ini pun begitu. Para ulama menyebut surah ini berkaitan dengan peristiwa meninggalnya putra Rasul yaitu Abdullah. Ketika itu para pemuka kafir Quraish mengejek Rasul “terputus keturunannya”, karena bagi masyarakat Quraish, tidak memiliki anak laki-laki adalah sebuah aib. Hal ini dijawab langsung oleh Allah dengan ayat ketiga: اِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْاَبْتَرُ ࣖ   “Sesungguhnya orang yang membencimu, dialah yang terputus”. Namun sebagian ulama lain menyebut surah ini sebagai surah Madaniyah, turun di Madinah, hal ini karena surah ini berkaitan dengan pe...