Skip to main content

Not too much, just enough

Ada perbedaan antara rasa malu (shame) dan rasa bersalah (guilt). Sederhananya, "saya buruk" adalah contoh rasa malu, sedangkan "saya melakukan sesuatu yang buruk" adalah contoh rasa bersalah. Perbedaan keduanya terletak pada fokus penilaiannya. Rasa bersalah berfokus pada perilaku, "saya melakukan kesalahan", sehingga mendorong introspeksi, permohonan maaf, dan ruang untuk perbaikan. Sebaliknya, rasa malu berfokus pada identitas, "saya adalah kesalahan", yang secara perlahan menghakimi keberadaan diri, mengikis harga diri, dan memicu dorongan untuk bersembunyi.


Jadi kalau ditanya mana diantara keduanya yang lebih berbahaya, mungkin jawabannya adalah rasa malu. Rasa malu seringkali muncul didasar lubuk hati kita sebagai pertentangan batin kita sendiri, dan menjadi suara batin kita. Menjadikan kita rentan, dan baperan, hehehe.... (Menunjuk diri sendiri).


Jika kamu perempuan yang juga menjalankan peran sebagai pribadi, istri, dan ibu, coba renungkan dan baca pelan-pelan "perasaan malu" yang mungkin saja sedang menghukum dan membebani diri kita sendiri.


Sebagai Pribadi: "Aku belum cukup cantik, langsing, feminim, produktif, ramah, dan kreatif. Aku belum cukup berpenghasilan, belum mencapai puncak karier atau pendidikan, dan belum memberi dampak besar. Aku menyia-nyiakan potensi dan tertinggal jauh dari orang lain."


Sebagai Istri: "Aku belum cukup melayani dengan sempurna, mengelola keuangan keluarga dengan baik, belum bisa menjadi pasangan yang selalu tenang, suportif, dan mengerti semua kebutuhan suami."


Sebagai Ibu: "Aku belum cukup sabar, telaten, cerdas mendidik, dan pandai mengelola emosi ku dan emosi anak."


Coba baca lagi dan renungkan, apakah masuk akal standar-standar yang kita inginkan itu terpenuhi semuanya?


Terkadang kita bisa berempati pada orang lain, tapi bersikap kejam terhadap diri kita sendiri.


Kalau pas lagi gini, lagunya mas Kunto Aji berjudul Sulung kelihatannya pas banget:


Cukupkanlah

Ikatanmu

Relakanlah yang tak seharusnya untukmu


Cukupkanlah

Ikatanmu

Relakanlah yang tak seharusnya untukmu


Yang sebaiknya kau jaga

Adalah dirimu sendiri." (Sulung)


Kita tidak perlu menjadi sempurna di setiap lini kehidupan untuk merasa berharga. Not too much, just enough. Kita perlu mengenal RASA CUKUP.






Comments

Popular posts from this blog

Makhraj Bibir dan Maratibul Ghunnah

Perlu diketahui terlebih dahulu makhraj secara bahasa adalah tempat keluar, sedangkan secara istilah tajwid ia merujuk kepada tempat keluarnya huruf dan pembeda antara satu huruf dengan huruf yang lain. Ada perbedaan pendapat ul ama mengenai Jumlah Makhraj: Pendapat Imam Khalil bin Ahmad & Imam Ibnu al-Jazari: Terdapat 17 makhraj secara khusus. Ini adalah pendapat yang paling masyhur. Pendapat Imam Sibawayh: Terdapat 16 makhraj (beliau menggugurkan makhraj Al-Jauf dan memasukkan huruf mad ke makhraj lain). Pendapat Imam Al-Farra & Al-Qutrub: Terdapat 14 makhraj (menggabungkan makhraj Lam, Nun, dan Ra ke dalam satu tempat). 17 makhraj khusus tersebut dikelompokkan kepada 5 bahagian utama: Al-Jauf (Rongga Mulut & Tenggorokan): Tempat keluar bagi 3 huruf Mad (Alif, Wau, Ya). Al-Halq (Tenggorokan): Terbahagi kepada 3 makhraj khusus (Pangkal, Tengah, dan Ujung tenggorokan). Al-Lisan (Lidah): Bahagian paling banyak, ...

Me Time: Insting Bertahan Hidup atau Keegoisan?

                 Sebagai ibu dengan tiga orang anak, saya tahu pentingnya me time untuk menjaga kewarasan. Saya senang menghabiskan waktu untuk jalan-jalan sendiri, sekedar jogging di lapangan atau jalan-jalan dan membaca di toko buku. Perasaan bebas dan menjadi diri sendiri muncul, tapi anehnya, setelah itu perasaan kualahan kembali muncul ketika berhadapan dengan realitas keriuhan anak-anak. Terkadang muncul pikiran bahwa memberi jarak dengan meninggalkan anak-anak barang sejenak adalah sebuah keegoisan. Namun, setelah saya pikir lagi, rasa bersalah ini mungkin salah satu produk dari benturan nilai zaman. Sebagai generasi milenial, saya mungkin dididik sedikit berbeda dengan generasi sebelumnya (Gen X atau baby boomer), salah satunya lebih terbuka soal mengejar cita-cita dan peran ibu pekerja. Namun faktanya, label "ibu yang baik" adalah ibu yang menghabiskan seluruh waktu, energi, dan pikirannya demi anak dan keluarga tanpa sisa, teta...

Mengapa Surah Al-Kautsar Menggunakan Kata An-Nahr? (Menelusuri kandungan, hubungan dengan surah sebelumnya dan peristiwa di balik ayatnya)

  Surah al kautsar merupakan surat terpendek dalam Al Qur’an. Mengapa bukan surah Al Ashr yang sama-sama tiga ayat? Hal ini karena kata-kata penyusun Al Ashr masih lebih banyak dibandingkan surah Al Kautsar. Dari segi tempat turun, surah ini lebih mashur dikenal sebagai surat Makiyyah, turun di kota Makkah, atau sebelum Rasulullah berhijrah ke Madinah. Sebagaimana karakteristik surat Makiyyah yang cenderung pendek-pendek, surah ini pun begitu. Para ulama menyebut surah ini berkaitan dengan peristiwa meninggalnya putra Rasul yaitu Abdullah. Ketika itu para pemuka kafir Quraish mengejek Rasul “terputus keturunannya”, karena bagi masyarakat Quraish, tidak memiliki anak laki-laki adalah sebuah aib. Hal ini dijawab langsung oleh Allah dengan ayat ketiga: اِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْاَبْتَرُ ࣖ   “Sesungguhnya orang yang membencimu, dialah yang terputus”. Namun sebagian ulama lain menyebut surah ini sebagai surah Madaniyah, turun di Madinah, hal ini karena surah ini berkaitan dengan pe...