Skip to main content

Belajar Mencintai Rutinitas dari Haruki Murakami

 


Karya Haruki Murakami berjudul What I Talk About When I Talk About Running adalah salah satu buku yang menginspirasiku untuk mencintai rutinitas. Kalau Haruki memilih lari dan menulis, maka saya memilih ngaji, berjalan kaki sambil menikmati musik, juga membaca buku dan menulis. Setidaknya ada tiga point yang aku garis bawahi dari buku itu: Pertama, "pain is inevitable. suffering is optional." (rasa sakit itu tidak bisa dihindari, namun, penderitaan adalah pilihan); Kedua, "If I can find a reason not to run, I can find a million. All I can do is keep on running." (Jika aku mencari alasan untuk tidak berlari, aku bisa menemukan sejuta alasan. Yang bisa kulakukan hanyalah terus berlari.) dan ketiga "I just run. I run in a void. Or maybe I should put it the other way: I run in order to acquire a void." (Aku hanya berlari. Aku berlari dalam kekosongan. Atau mungkin sebaliknya: aku berlari untuk mendapatkan kekosongan itu).

Aku mencoba merefleksikan buku itu dalam keseharianku. Memang ada satu masa (dan kadang masih sering muncul sih) aku jenuh dengan rutinitas, dan menganggapnya sebagai beban dan musuh dari kebebasan. Rutinitas mencuci baju dan piring yang tak pernah habis, membersihkan rumah berulang kali dalam sehari, antar jemput anak sekolah dan sederet rutinitas lainnya yang berulang. Tapi belakangan, aku justru menemukan kebalikannya. Rutinitas justru menjadi penyelamat dari banyaknya pilihan yang harus kita buat setiap harinya. Kalau kata Kendra Adachi dalam bukunya The Lazy Genius: decide  once, putuskan sekali, lalu jalankan untuk seterusnya. James Clear dalam bukunya Atomit Habits juga pernah bilang "Habits do not restrict freedom. They create it. In fact, the people who don’t have their habits handled are often the ones with the least amount of freedom." (Kebiasaan tidak membatasi kebebasan. Mereka justru menciptakannya. Faktanya, orang yang tidak mengendalikan kebiasaan mereka sering kali adalah orang yang paling tidak memiliki kebebasan.).

Pelan-pelan rumus decide one dan membangun rutinitas itu membantuku memperingkas dan menyederhanakan hidupku. Apa yang kulakukan di pagi hari, siang, sore, dan malam, meskipun itu-itu saja, rasanya tidak seburuk yang kupikirkan dulu, dan tentu saja dengan bentuk syukur yang baru. Batasan-batasan yang ku terapkan sangat membantuku. Misalnya hanya mengikuti tiga influencer olah raga, yaitu mas bagus body fit, olahraga yuk dan juga mas ade rai.  Belajar tahsin hanya dari chanelnya Dr Aiman dan juga Ustad Al Lail Al Fadhil. Belajar jurnaling dari chanelnya kak Kanaya, yang dari chanel ini aku belajar tentang bullet jurnaling (bujo).  Review film, dan juga tak lupa aku mengikuti chanel humor, koh Edrick. Dan ada beberapa lainnya. Dan dititik ini, aku berkesimpulan bahwa memiliki rutinitas, dan juga membatasi pilihan adalah sebuah keberanian. Sebab kebebasan sejati ternyata bukan tentang memiliki pilihan tanpa batas, melainkan keberanian untuk memilih apa yang benar-benar penting, lalu menjalankannya dengan setia setiap hari.

 

Comments

Popular posts from this blog

Makhraj Bibir dan Maratibul Ghunnah

Perlu diketahui terlebih dahulu makhraj secara bahasa adalah tempat keluar, sedangkan secara istilah tajwid ia merujuk kepada tempat keluarnya huruf dan pembeda antara satu huruf dengan huruf yang lain. Ada perbedaan pendapat ul ama mengenai Jumlah Makhraj: Pendapat Imam Khalil bin Ahmad & Imam Ibnu al-Jazari: Terdapat 17 makhraj secara khusus. Ini adalah pendapat yang paling masyhur. Pendapat Imam Sibawayh: Terdapat 16 makhraj (beliau menggugurkan makhraj Al-Jauf dan memasukkan huruf mad ke makhraj lain). Pendapat Imam Al-Farra & Al-Qutrub: Terdapat 14 makhraj (menggabungkan makhraj Lam, Nun, dan Ra ke dalam satu tempat). 17 makhraj khusus tersebut dikelompokkan kepada 5 bahagian utama: Al-Jauf (Rongga Mulut & Tenggorokan): Tempat keluar bagi 3 huruf Mad (Alif, Wau, Ya). Al-Halq (Tenggorokan): Terbahagi kepada 3 makhraj khusus (Pangkal, Tengah, dan Ujung tenggorokan). Al-Lisan (Lidah): Bahagian paling banyak, ...

Me Time: Insting Bertahan Hidup atau Keegoisan?

                 Sebagai ibu dengan tiga orang anak, saya tahu pentingnya me time untuk menjaga kewarasan. Saya senang menghabiskan waktu untuk jalan-jalan sendiri, sekedar jogging di lapangan atau jalan-jalan dan membaca di toko buku. Perasaan bebas dan menjadi diri sendiri muncul, tapi anehnya, setelah itu perasaan kualahan kembali muncul ketika berhadapan dengan realitas keriuhan anak-anak. Terkadang muncul pikiran bahwa memberi jarak dengan meninggalkan anak-anak barang sejenak adalah sebuah keegoisan. Namun, setelah saya pikir lagi, rasa bersalah ini mungkin salah satu produk dari benturan nilai zaman. Sebagai generasi milenial, saya mungkin dididik sedikit berbeda dengan generasi sebelumnya (Gen X atau baby boomer), salah satunya lebih terbuka soal mengejar cita-cita dan peran ibu pekerja. Namun faktanya, label "ibu yang baik" adalah ibu yang menghabiskan seluruh waktu, energi, dan pikirannya demi anak dan keluarga tanpa sisa, teta...

Mengapa Surah Al-Kautsar Menggunakan Kata An-Nahr? (Menelusuri kandungan, hubungan dengan surah sebelumnya dan peristiwa di balik ayatnya)

  Surah al kautsar merupakan surat terpendek dalam Al Qur’an. Mengapa bukan surah Al Ashr yang sama-sama tiga ayat? Hal ini karena kata-kata penyusun Al Ashr masih lebih banyak dibandingkan surah Al Kautsar. Dari segi tempat turun, surah ini lebih mashur dikenal sebagai surat Makiyyah, turun di kota Makkah, atau sebelum Rasulullah berhijrah ke Madinah. Sebagaimana karakteristik surat Makiyyah yang cenderung pendek-pendek, surah ini pun begitu. Para ulama menyebut surah ini berkaitan dengan peristiwa meninggalnya putra Rasul yaitu Abdullah. Ketika itu para pemuka kafir Quraish mengejek Rasul “terputus keturunannya”, karena bagi masyarakat Quraish, tidak memiliki anak laki-laki adalah sebuah aib. Hal ini dijawab langsung oleh Allah dengan ayat ketiga: اِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْاَبْتَرُ ࣖ   “Sesungguhnya orang yang membencimu, dialah yang terputus”. Namun sebagian ulama lain menyebut surah ini sebagai surah Madaniyah, turun di Madinah, hal ini karena surah ini berkaitan dengan pe...