Masjid tempatku mengaji dulu dekat dengan sebuah sungai. Pagi sampai malam sering banyak anak-anak punk yang tidur berjejeran di semak-semak pinggir sungai tersebut. Dulu aku berpikir "sekeras apa hidup mereka, kok hidupnya cuma disia-siakan saja". Pertanyaan yang kalau dipikir-pikir lebih ke judgment daripada rasa ibu.
Tapi setelah melihat banyaknya hal semacam itu, perspektifku tentang mereka pun berubah. Banyak orang tidak punya banyak pilihan dalam hidup mereka. Bisa saja hidup menggelandang adalah satu-satunya cara aman mereka untuk hidup. Kita tidak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi pada mereka.
Jerat lingkaran kemiskinan struktural itu nyata adanya. Aku jadi ingat, jaman sekolah MA dulu, sepekan tiga kali aku dan teman-temanku ditugaskan mengajar TPA dikawasan dekat tempat prostitusi. Kalau ada pepatah mengatakan "tidak ada pencuri yang pingin anaknya jadi pencuri" menurutku tidak selalu benar. Aku tahu sendiri, anak-anak yang kami ajarkan ngaji, nyatanya setelah mereka agak sedikit dewasa, pada akhirnya disodorkan kepada mucikari dan dijual dengan harga yang sangat murah.
Ada ambivalensi yang begitu menyakitkan. Anak-anak itu disuruh pergi mengaji di sore hari, namun malamnya dipaksa menjajakan diri. Agama seakan-akan hanya dijadikan penawar rasa bersalah instan atau ritual formalitas di tengah jerat komodifikasi anak.
Tak jauh dari rumahku, kurang lebih jarak 2km, ada terminal bus, dan disana banyak kafe prostitusinya. Berderet tempat karaoke dengan mbak-mbak dan emak-emak LC yang sejak menjelang petang sudah mulai berdandan menor dengan pakaian terbuka, dan paling ramai setiap malam Minggu. Jadi setiap malam, terminal itu tidak sekedar pemberhentian bus, tapi lebih mirip pasar malam "remang-remang". Kadang kalau aku terbangun Jam 1 malam-an, suara musik karaoke bisa terdengar sampai ke rumah.
Tapi, Rasulullah Muhammad tidak pernah menyuruh kita untuk menghardik mereka. Kita justru diperintahkan mendoakan kebaikan dan jalan hidayah untuk mereka. Kita tidak pernah tahu hidup semacam apa yang mereka hadapi. Bahkan mereka sebenarnya lebih rentan mengalami tindakan kriminal dibanding kita yang bisa tidur nyaman di rumah ketika malam hari.
Rasul tidak pernah menyuruh kita menyumpahi mereka sebagai ahli neraka. Bukankah Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang?. Aku pernah membaca keterangan tentang neraka, "khalidina fiha abada" (mereka kekal di dalamnya (neraka). Ibnu Arabi mengatakan, neraka memang kekal, tapi tidak dengan siksanya. Kata ‘adzab (azab/siksa) berasal dari akar kata yang sama dengan ‘udzb(manis/segar). Maka dari itu, Ibn ’Arabi berpendapat bahwa pada akhirnya, Rahmat Allah yang Mahaluas (sebagaimana firman-Nya: "Rahmat-Ku mendahului murka-Ku") akan meliputi seluruh makhluk, sehingga siksaan itu berubah menjadi bentuk kenikmatan atau kenyamanan tersendiri yang sesuai dengan keadaan mereka di neraka. Pendapat itupun juga didukung sebagian ulama seperti Ibnu Qayyim Al Jawziyyah dan Ibnu Taymiyyah.
Pada akhirnya, sebagai seorang ibu aku meyakini bahwa empati adalah warisan penting bagi anak. Anak perlu tahu bahwa masyarakat sering menganggap semua orang punya kesempatan sama untuk sukses, padahal setiap orang punya garis start yang berbeda-beda. Bahkan ada yang sejak dilahirkan, kebebasan pilihan mereka sudah terenggut lebih awal.
Comments
Post a Comment