Skip to main content

Menatap Dunia Lewat Jendela Chika: Cara Anak-Anak Menyembuhkan Kedewasaan Kita yang Melelahkan

 

“That window was his view of the world, while to me it was a pane of glass” (baginya, jendela itu adalah caranya memandang dunia, sementara bagiku, itu hanyalah pembatas kaca. Kalimat ini adalah salah satu bagian dari buku mitch albom berjudul Finding Chika: A Little Girl, an Earthquake, and the Making of a Family, sebuah memoar tentang babak kehidupan mitch bersama salah satu anak yang ia selamatkan dari gempa bumi di Haiti, dan anak itu menderita tumor ganas.

 Cerita sedikit tentang buku ini, Mitch menceritakan kejadian-kejadian tak terduga yang justu mengantarkan pada pengalaman-pengalaman baru dalam kehidupannya. Ia membawa Chika dari Haiti ke Amerika untuk mendapatkan pengobatan, tetapi dalam waktu yang sangat singkat, ia menyadari bahwa dengan menjadi “orang tua” (meskipun bukan untuk anak kandungnya), kehidupuan seseorang bisa berubah dan memiliki tujuan hidup sejak saat itu. Mitch Albom memang terkenal dengan tulisan-tulisan sederhana yang begitu menyentuh. Karakter semacam ini juga bisa ditemukan di bukunya yang lain seperti “Tuesdays with Morrie” tentang kebersamaannya dengan Morrie, dosennya yang sekarat.

Dalam bukunya finding Chika ini, ia bercerita bahwa tak pernah sekalipun ia berpikir untuk punya anak. Ia memang menikah, tapi tidak untuk punya anak. Baginya, cukup dirinya sendiri yang menjadi pusat dunianya, tidak dengan orang lain. Tapi memang tidak ada dalam dunia ini yang tidak berubah. Sejak bertemu Chika, dunia yang awalnya hanya milik sendiri, perlahan mulai meluas. Kini ada tiga kursi di bioskop, tiga potong es krim, tiga porsi makanan, dan tiga tiket pesawat. Hidupnya kini juga dipenuhi ritme baru, mematikan lampu saat Chika terlelap, membetulkan selimutnya, hingga menghias rumah dengan gambar warna-warni. Kehadiran Chika secara magis mengalihkan poros dunia Mitch, dari yang semula berpusat pada ego sendiri, menjadi berputar untuk orang lain. Saya jadi teringat perkataan Imam Al Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin: kebahagiaan sejati (sa'adah) tidak akan pernah dicapai oleh jiwa yang terpenjara oleh egonya sendiri. Jiwa itu harus "dibersihkan" dengan cara berkhidmat (melayani) dan menyayangi makhluk lain. Dalam hal ini, Mitch merelakan pikiran dan waktunya sebagai khidmat.

Mitch dengan sangat jujur menceritakan bagaimana melambat sebagai orang tua menjadi sebuah kesadaran baru baginya. Melambat sebagai sebuah konsekwensi, yang terkadang harus dibayar mahal dengan produktivitas yang menurun. Mendekonstruksi definisi 'produktivitas' di tengah dunia modern yang serba cepat dan menganggap melambat sebagai kerugian ekonomis. Namun, lewat lensa Ethics of Care, melambat adalah bentuk investasi emosional tertinggi, karena waktu anak-anak tidak berjalan searah dengan tenggat waktu pekerjaan.

Lewat Chika, Mitch menyadari sebuah kebenaran baru. Bahwa anak-anak bukanlah beban, melainkan sebuah jangkar. Mereka yang menjaga kaki kita tetap memijak bumi saat dunia dan ambisi di luar sana mengancam untuk mengempaskan kita. Menurunnya produktivitas kerja bukanlah kerugian, melainkan cara jangkar tersebut bekerja, yaitu dengan menahan orang tua agar tidak hanyut dalam dunianya yang egois.

Jangkar ini bekerja dengan cara yang unik, ia memaksa orang tua menghentikan langkah buru-burunya untuk menyelaraskan diri dengan ritme anak. Melambat di sini bisa berarti rela menutup laptop demi menjawab pertanyaan acak, atau menahan langkah di trotoar hanya untuk menemani anak mengamati barisan semut. Sebab anak-anak adalah penanya yang handal, ia selalu takjub dengan hal-hal baru di sekelilingnya, yang bagi orang dewasa seperti sesuatu yang remeh dan bisa (ter-habituasi). Dunia anak-anak memang seceria itu, sebelum kedewasaan terkadang merenggutnya. Semua bunyi adalah nyayian yang menarik. Gedoran anak di pintu kamar mandi ketika ibunya sedang mandi, memang terdengar menganggu, meskipun bagi anak mungkin mirip mainan drum gratis.

Pada akhirnya, anak-anak hadir bukan untuk mempersempit ruang gerak kita, melainkan untuk memperluas pandangan kita, sekaligus menyembuhkan kedewasaan kita yang melelahkan. Kembali pada kutipan di awal tulisan ini, “baginya, jendela itu adalah caranya memandang dunia, sementara bagiku, itu hanyalah pembatas kaca” dengan melihat perspektif anak-anak, kita tidak akan lagi melihat dunia luar sebagai selembar kaca yang kosong dan membosankan. Bersama mereka, kita kembali melihat jendela yang sama dengan cara Chika melihatnya, yaitu sebuah gerbang penuh keajaiban, tempat di mana seluruh dunia siap untuk dijelajahi.

Comments

Popular posts from this blog

Makhraj Bibir dan Maratibul Ghunnah

Perlu diketahui terlebih dahulu makhraj secara bahasa adalah tempat keluar, sedangkan secara istilah tajwid ia merujuk kepada tempat keluarnya huruf dan pembeda antara satu huruf dengan huruf yang lain. Ada perbedaan pendapat ul ama mengenai Jumlah Makhraj: Pendapat Imam Khalil bin Ahmad & Imam Ibnu al-Jazari: Terdapat 17 makhraj secara khusus. Ini adalah pendapat yang paling masyhur. Pendapat Imam Sibawayh: Terdapat 16 makhraj (beliau menggugurkan makhraj Al-Jauf dan memasukkan huruf mad ke makhraj lain). Pendapat Imam Al-Farra & Al-Qutrub: Terdapat 14 makhraj (menggabungkan makhraj Lam, Nun, dan Ra ke dalam satu tempat). 17 makhraj khusus tersebut dikelompokkan kepada 5 bahagian utama: Al-Jauf (Rongga Mulut & Tenggorokan): Tempat keluar bagi 3 huruf Mad (Alif, Wau, Ya). Al-Halq (Tenggorokan): Terbahagi kepada 3 makhraj khusus (Pangkal, Tengah, dan Ujung tenggorokan). Al-Lisan (Lidah): Bahagian paling banyak, ...

Mengapa Surah Al-Kautsar Menggunakan Kata An-Nahr? (Menelusuri kandungan, hubungan dengan surah sebelumnya dan peristiwa di balik ayatnya)

  Surah al kautsar merupakan surat terpendek dalam Al Qur’an. Mengapa bukan surah Al Ashr yang sama-sama tiga ayat? Hal ini karena kata-kata penyusun Al Ashr masih lebih banyak dibandingkan surah Al Kautsar. Dari segi tempat turun, surah ini lebih mashur dikenal sebagai surat Makiyyah, turun di kota Makkah, atau sebelum Rasulullah berhijrah ke Madinah. Sebagaimana karakteristik surat Makiyyah yang cenderung pendek-pendek, surah ini pun begitu. Para ulama menyebut surah ini berkaitan dengan peristiwa meninggalnya putra Rasul yaitu Abdullah. Ketika itu para pemuka kafir Quraish mengejek Rasul “terputus keturunannya”, karena bagi masyarakat Quraish, tidak memiliki anak laki-laki adalah sebuah aib. Hal ini dijawab langsung oleh Allah dengan ayat ketiga: اِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْاَبْتَرُ ࣖ   “Sesungguhnya orang yang membencimu, dialah yang terputus”. Namun sebagian ulama lain menyebut surah ini sebagai surah Madaniyah, turun di Madinah, hal ini karena surah ini berkaitan dengan pe...