Skip to main content

Guru Isa, Kim Ji-young, dan Otak Emak-Emak yang Kelebihan Beban

 

Pagi-pagi aku dibikin melow ketika membaca perkataan guru Isa di buku “jalan tak ada ujung”, karya Muchtar Lubis yang isinya begini "Bukankah tiga puluh lima tahun umur yang baik? Orang tidak terlalu muda untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang bisa dibikin menyesal setelah melakukannya, dan tidak terlalu tua untuk tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang jika tidak dilakukan di kemudian hari akan membawa rasa sedikit sayu, sedikit menyesal, dan pertanyaan, mengapa tidak aku lakukan dulu?"

Kebetulan sekali, usiaku di tahun 2026 ini 35th menuju 36th di bulan November nanti. Suamiku tahu betul aku sering merasa “tertinggal” dibanding teman-temanku, utamanya terkait karier, yang kalau dipikir-pikir itu juga atas keputusan dan pilihanku sendiri. Dibalik pencapaian-pencapaianku, dapat menyelesaikan pendidikan doktoral, pendidikan tertinggi, menyelesaikan hapalan quran meskipun masih terus tertatih-tatih, dan hal-hal lain yang senantiasa menghiburku, tapi apalah dayaku ketika teman-teman lain memposting “hal-hal yang aku juga ingin capai” di kemudian hari. Kata suamiku, aku tetaplah guru, aku tetaplah dosen sebagaimana cita-citaku, apapun statusmu. Disaat yang lain, aku senang menjalankan peran menjadi dosen paruh waktu dengan anak-anak yang selalu menempel kemanapun aku berada, tapi terkadang ada kekosongan dan perih yang sulit kudefinisikan sendiri.

Sebenarnya perasaanku secara ilmiah valid. Haha, sambil mengusap air mata ini. Betul, aku melakukannya, suerr.  Usia 35 tahun sering disebut sebagai awal dari gerbang krisis paruh baya (Mid-life Crisis) atau secara lebih spesifik disebut Thirtysomething Crisis (Krisis Usia 30-an Akhir). Kalau sekarang di media sosial anak-anak Gen Z sering menyebut-nyebut istilah Quarter-life Crisis/krisis setengah abad (biasa terjadi rentang usia 20-29 dengan puncaknya di usia 25th), yang dialami generasi Milenial ataupun Baby Bloomers punya karakternya sendiri. Secara umum, krisis diusia 20an cenderung didorong kebingungan memilih arah, sedangkan krisis di usia 35an cenderung didorong oleh benturan antara realitas hidup saat ini dengan ekspektasi masa muda. Dalam teori Daniel Levinson disebut fase settling down atau becoming one’s own man/woman, fase dimana seseorang memiliki urgensi kuat untuk mengukuhkan 'status dan aktualisasi diri' yang konkret. Itulah mengapa benturan dengan ekspektasi masa muda terasa begitu nyata di usia ini, sebelum nantinya benar-benar memasuki mid-life transition di usia 40-an untuk mempertanyakan kembali tujuan hidup yang lebih dalam.

Paparan dunia media sosial memang memicu FOMO (Fear of Missing Out) dan memang secara sah berpotensi menurunkan kepuasan hidup kita. dengan melihat kesuksesan dan kebahagiaan orang lain, secara tak sadar kita akan membandingkan panggung depan (highlight) orang lain dengan ruang belakang (proses domestik) kita yang melelahkan. Haha... ingat isah-isahan yang tidak ada kata kelar, dan rumah yang kembali kotor walaupun setelah 10 menit dibersihkan, hiks-hiks. Yups peran ganda (double burden), atau istilah kerennya the second/ shift kedua. Ah aku jadi ingat kisah di buku Kim Ji-young, Born 1982, kisah tragis perempuan yang kehilangan suara dan jati dirinya. Semoga kita dan perempuan-perempuan lain tidak mengalaminya, amin.. tapi memang ini harus kita antisipasi, karena the second shift ini tanpa disadari menyebabkan kelelahan peran. Tahu kan kenapa emak-emak kadang bawaannya emosian, habis marahin anak, eh, menyesal sendiri kan.. atau yang sering ngejek “emak-emak reteng kanan, belok kiri” ah... sudahlah, dunia kami memang serumit itu, apalagi bagi yang tidak punya teman bicara. Kami tidak sedang menjadi emak-emak bodoh, ini karena otak kami sedang mengalami cognitive overload (kelebihan beban berpikir).

Tiba-tiba mengalun lagu Saudade karya Kunto Aji di kepalaku. Kata "Saudade" berasal dari bahasa Portugis. Maknanya kurang lebih menggambarkan perasaan rasa rindu, melankolis, dan rasa sayu terhadap sesuatu yang telah hilang, atau sesuatu yang dirindukan. Mungkin semacam kerinduan terhadap waktu luang masa muda, idealisme karier yang dulu pernah dibayangkan, dan ekspektasi yang tetap terus dirawat. Liriknya begini:

Hati yang rapuh/ Mencari arah/ Di mana tempat / Tuk bersandarnya?

Kau yang di sana/ Mendengar suaraku/ Janganlah kau ragu/Tuk melangkah maju

Biarkanlah waktu/Yang kan menjawabnya/ Semua tanya/ Di dalam dada

Saudade... saudade.../ Rindu yang takkan pernah usai/ Saudade... saudade.../ Kenangan yang takkan pernah pudar

Biarkanlah waktu/ Yang kan menjawabnya/ Semua tanya/ Di dalam dada

Saudade-Kunto Aji-

Perasaan kecewa, tertinggal, ataupun apalah itu, biarkan saja muncul, rasakan saja, tidak perlu dibantah dengan kalimat-kalimat romantis yang ujung-ujungnya adalah toxic positivity. Terimakasih suamiku yang selalu menjadi jangkar, aku akan tetap mengingat-ingat perkataanmu “kamu tetaplah kamu, apapun statusmu”. Seperti kata Guru Isa, aku juga meyakini ini adalah umur yang baik. Dan di umur yang baik ini, saya memilih untuk berhenti menengok pintu orang lain, menarik napas dalam-dalam, dan berjalan dengan tenang di atas jalan yang telah saya pilih sendiri. Huaaaa... aku benar-benar menangis. Peluk jauh untuk sesama pejuang.

 

 

 

 


Comments

Popular posts from this blog

Makhraj Bibir dan Maratibul Ghunnah

Perlu diketahui terlebih dahulu makhraj secara bahasa adalah tempat keluar, sedangkan secara istilah tajwid ia merujuk kepada tempat keluarnya huruf dan pembeda antara satu huruf dengan huruf yang lain. Ada perbedaan pendapat ul ama mengenai Jumlah Makhraj: Pendapat Imam Khalil bin Ahmad & Imam Ibnu al-Jazari: Terdapat 17 makhraj secara khusus. Ini adalah pendapat yang paling masyhur. Pendapat Imam Sibawayh: Terdapat 16 makhraj (beliau menggugurkan makhraj Al-Jauf dan memasukkan huruf mad ke makhraj lain). Pendapat Imam Al-Farra & Al-Qutrub: Terdapat 14 makhraj (menggabungkan makhraj Lam, Nun, dan Ra ke dalam satu tempat). 17 makhraj khusus tersebut dikelompokkan kepada 5 bahagian utama: Al-Jauf (Rongga Mulut & Tenggorokan): Tempat keluar bagi 3 huruf Mad (Alif, Wau, Ya). Al-Halq (Tenggorokan): Terbahagi kepada 3 makhraj khusus (Pangkal, Tengah, dan Ujung tenggorokan). Al-Lisan (Lidah): Bahagian paling banyak, ...

Me Time: Insting Bertahan Hidup atau Keegoisan?

                 Sebagai ibu dengan tiga orang anak, saya tahu pentingnya me time untuk menjaga kewarasan. Saya senang menghabiskan waktu untuk jalan-jalan sendiri, sekedar jogging di lapangan atau jalan-jalan dan membaca di toko buku. Perasaan bebas dan menjadi diri sendiri muncul, tapi anehnya, setelah itu perasaan kualahan kembali muncul ketika berhadapan dengan realitas keriuhan anak-anak. Terkadang muncul pikiran bahwa memberi jarak dengan meninggalkan anak-anak barang sejenak adalah sebuah keegoisan. Namun, setelah saya pikir lagi, rasa bersalah ini mungkin salah satu produk dari benturan nilai zaman. Sebagai generasi milenial, saya mungkin dididik sedikit berbeda dengan generasi sebelumnya (Gen X atau baby boomer), salah satunya lebih terbuka soal mengejar cita-cita dan peran ibu pekerja. Namun faktanya, label "ibu yang baik" adalah ibu yang menghabiskan seluruh waktu, energi, dan pikirannya demi anak dan keluarga tanpa sisa, teta...

Mengapa Surah Al-Kautsar Menggunakan Kata An-Nahr? (Menelusuri kandungan, hubungan dengan surah sebelumnya dan peristiwa di balik ayatnya)

  Surah al kautsar merupakan surat terpendek dalam Al Qur’an. Mengapa bukan surah Al Ashr yang sama-sama tiga ayat? Hal ini karena kata-kata penyusun Al Ashr masih lebih banyak dibandingkan surah Al Kautsar. Dari segi tempat turun, surah ini lebih mashur dikenal sebagai surat Makiyyah, turun di kota Makkah, atau sebelum Rasulullah berhijrah ke Madinah. Sebagaimana karakteristik surat Makiyyah yang cenderung pendek-pendek, surah ini pun begitu. Para ulama menyebut surah ini berkaitan dengan peristiwa meninggalnya putra Rasul yaitu Abdullah. Ketika itu para pemuka kafir Quraish mengejek Rasul “terputus keturunannya”, karena bagi masyarakat Quraish, tidak memiliki anak laki-laki adalah sebuah aib. Hal ini dijawab langsung oleh Allah dengan ayat ketiga: اِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْاَبْتَرُ ࣖ   “Sesungguhnya orang yang membencimu, dialah yang terputus”. Namun sebagian ulama lain menyebut surah ini sebagai surah Madaniyah, turun di Madinah, hal ini karena surah ini berkaitan dengan pe...