Sebagai orang tua, pernahkah mengalami
kejadian ketika sedang terburu-buru karena ada urusan penting dan mendesak,
anak-anak justru melambat? seakan-akan
mereka sedang menantang ledakan emosi kita sebagai orang tua. Ibarat kartu
domino pertama terjatuh, akan ada rentetan domino lain yang ikut berjatuhan. Kejadian
semacam itu mungkin sering kali terjadi dan sangat menguras energi emosi. Jadi
kalau ada yang menasehati “ngak papa, lima tahun lagi sudah tidak lagi, tinggal
sabar” kayaknya kurang bijak juga, karena ngak mungkin juga kan menyuruh
orang tua menahan napas selama 5 tahun dalam budaya yang menuntut kewarasan
setiap hari. Orang tua juga butuh solusi sistem, bukan sekadar romantisasi masa
depan.
Dari segi
orang tua, mengapa sih keterlambatan terasa begitu mengancam bagi mereka?. Menurut
para sosiolog, manusia modern hidup dalam budaya social acceleration
(percepatan sosial), di mana waktu telah dikomodifikasi menjadi mata uang baru
yang merepresentasikan uang, reputasi, dan profesionalisme. Kondisi ini membuat
orang tua modern mengalami apa yang disebut time poverty (kemiskinan
waktu). Ketika anak melambat, mereka tidak sekadar membuat kita terlambat
secara fisik, melainkan secara tidak sengaja mengancam stabilitas "modal
sosial" dan ego profesional kita di dunia luar. Benturan ini terjadi
karena struktur masyarakat urban menuntut produktivitas yang kaku, sementara
ritme alami tumbuh kembang anak bersifat organik.
Fenomena
ini menurut sosiolog Russell Hochschild, dalam buku terkenalnya, The Time
Bind: When Work Becomes Home and Home Becomes Work, karena institusi
keluarga modern sekarang telah mengalami pergeseran ekstrem akibat tekanan
dunia kerja kapitalis yang menuntut efisiensi tinggi. Tanpa disadari, orang tua
modern membawa "budaya korporat" dan efisiensi pabrik ke dalam ruang
domestik. Rumah tidak lagi menjadi tempat perlindungan yang santai untuk
merayakan ritme organik anak, melainkan berubah menjadi ekosistem yang penuh
dengan timeline, target pencapaian, dan checklist ketat.
Akibatnya, ketika anak melambat di jam-jam kritis, otak bawah sadar orang tua
tidak melihatnya sebagai proses tumbuh kembang yang wajar, melainkan sebagai
sebuah "kegagalan manajemen" atau "cacat produksi" yang
mengancam identitas dan profesionalisme mereka.
Menariknya,
tuntutan efisiensi korporat dari sisi orang tua ini langsung berbenturan dengan
kondisi biologis dari sisi anak. Dalam konsepsi tentang cermin emosional, anak-anak
adalah pembaca energi yang sangat ulung. Ketika kita terburu-buru, otak kita
merilis hormon kortisol (stres). Anak-anak menangkap sinyal stres ini melalui
bahasa tubuh, nada bicara yang meninggi, dan gerakan kita yang serba cepat. Itu
kenapa ketika otak amigdala (pusat emosi) mereka mendeteksi adanya
"ancaman" atau ketidaknyamanan dari orang tuanya, mereka justru
menjadi cemas atau freeze (membeku/melambat).
Respons
lambat akibat kecemasan ini kemudian diperparah oleh keterbatasan kognitif
mereka dalam memproses waktu. Secara neurosains, anak belum begitu mampu mengatur
waktu, memprioritaskan tugas, dan beralih dari satu aktivitas ke aktivitas lain
dengan cepat. Otak bagian depan yaitu Prefrontal Cortex (otak bagian
depan) yang berfungsi mengatur kemampuan ini belum mapan, bahkan hingga usia
20-an. Maka ketika orang tua berkata, "Ayo cepat, Ibu ada urusan
penting!", konsep "penting" dan "waktu" bagi anak
usia dini sangat berbeda dengan orang dewasa. Bagi mereka, yang ada hanyalah
waktu sekarang (here and now). Masalahnya, konsepsi waktu dalam dunia
orang tua dan anak-anak berbeda. Bagi orang tua, waktu berjalan linier,
dihitung oleh jam dinding, penuh dengan deadline, efisiensi, dan
ketergesaan (Chronos). Sedangkan bagi anak, waktu diukur dari kebermaknaan
momen (Kairos). Saat anak melihat semut di tali sepatunya ketika Anda sedang
terburu-buru, bagi anak, semut itu adalah sesuatu yang menarik di momen itu.
Karena
benturan Chronos dan Kairos inilah, maka saat diburu waktu, orang tua cenderung
menjadi sangat direktif dengan memberikan perintah beruntun, entah dalam bentuk
menyuruh, melarang, menyarankan, atau meminta ("Ayo pakai sepatunya,
ambil tasnya, cepat berdiri!").
Pada saat itu, anak akan merasa kehilangan kendali atas dirinya, dan salah
satu cara bawah sadar mereka untuk merebut kembali otonomi atau kendali
tersebut adalah dengan melambat. Ini adalah bentuk protes pasif karena mereka
merasa disetir.
Pola
komunikasi yang serba terburu-buru dan direktif ini tidak bisa disepelekan.
Dalam jurnal kesehatan anak, Amit Agrawal menyebutkan bahwa akumulasi dari pola
asuh seperti ini dapat memicu Hurried Child Syndrome (HCS) atau sindrom anak
tergesa-gesa. HCS berdampak buruk pada tumbuh kembang jangka panjang melalui
disregulasi sistem imun, gangguan metabolisme, serta perubahan neurobiologis
yang merugikan. Studi yang melibatkan 300 anak-anak dan remaja melaporkan
persentase tinggi peserta yang mengalami berbagai penyakit fisik: sakit kepala
(71,29%), otot tegang, sakit leher, dan punggung (74,93%), kelelahan (73,60%),
insomnia (79,82%), dan gelisah (73,69%).
Melihat
paparan di ataas, apa sebenayang bisa dilakukan orang tua? Langkah pertama dan
yang paling krusial adalah memetakan dulu situasinya, apa urgensi dari sisi
orang tua? (Misal: Ujian penting, tenggat waktu pendaftaran, dsb); dan mengapa
kita meledak. Bisa jadi kemarahan kita sebenarnya bukan karena anak melambat,
melainkan karena ketakutan kita akan konsekuensi jika kita terlambat (takut
gagal, takut dinilai buruk, dll). Anak hanyalah menjadi cermin dari kecemasan
itu. Atau bisa jadi, reaksi meledak-ledak kita adalah replika dari bagaimana
orang tua kita dulu memperlakukan kita saat berbuat salah atau terlambat. Ada
banyak lo orang tua yang masa kecilnya hanya dihargai jika mereka tampil
sempurna, patuh, dan tepat waktu. Ketika anak mereka melambat, hal itu memicu
luka lama: "Kalau saya terlambat/gagal, saya tidak berharga."
Di sini, anak sebenarnya sedang menguji apakah cinta kita bersyarat (hanya saat
mereka cepat dan patuh) atau tidak.
Langkah
kedua kita bisa memvalidasi dan mendengarkan sudut pandang anak (The Child's
Lens). Orang tua perlu menurunkkan ekspektasi terlebih dahulu. Mengapa
mereka melambat saat itu? Apakah karena mereka mendeteksi kepanikan kita
sehingga mereka mencari perhatian/koneksi?. Pada dasarnya anak-anak tidak memberikan
kita waktu yang sulit, mereka sedang mengalami waktu yang sulit
menghadapi energi kita. Setelah divalidasi baru kemudian orang tua
berkomunikasi dengan bertatap mata dengan tulus dan diberikan sentuhan non
verbal, misalnya dengan memegang pundak anak, kemudian berbicara menggunakan
kalimat pendek yang jelas.
Menurut
Sarah dalam jurnal anak usia dini, tidak disarankan untuk orang tua menggunakan
strategi bertutur terus terang tanpa basa-basi (bald on-record) ketika
ingin menyuruh, melarang, dan meminta anak, karena strategi yang serbaterangan
dan kaku ini akan dirasakan otak anak sebagai ancaman terhadap otonomi mereka,
sehingga otomatis memicu respons melambat (freeze) atau pembangkangan.
Jadi, alih-alih mengatakan "Ayo pakai sepatunya sekarang! Jangan mainan
terus! Ambil tasnya!", orang tua bisa menggunakan kalimat yang
menekankan kerja sama atau memberikan pilihan terbatas agar anak merasa tetap
memiliki kendali atas dirinya. Contohnya: "Kak, kita tinggal
punya waktu sedikit. Kakak mau pakai sepatu sendiri atau mau Ibu bantu pakaikan
sambil jalan?" atau "Yuk, kita balapan pakai sepatu, siapa
yang siap duluan di depan pintu!". Sebaliknya, untuk tindakan menyarankan,
justru orang tua sebaiknya tidak menggunakan strategi bertutur terus terang
dengan basa-basi yang mengesankan keragu-raguan, atau menggunakan pengandaian
yang terlalu formal. Contohnya alih-alih mengatakan: "Ehm...
Kak, kalau sekiranya Kakak tidak sibuk, bagaimana kalau semutnya ditinggal dulu
saja? Ibu khawatir kita nanti bisa terlambat, lho." Kalimat yang
terlalu bertele-tele dan berjarak ini membuat anak menangkap sinyal bahwa
perintah tersebut bersifat opsional, sehingga mereka akan dengan mudah
menjawab, "Nggak mau, mau lihat semut dulu.". Kita bisa
menggantinya dengan "Semutnya lucu ya, Kak. Yuk, kita simpan dulu
ceritanya di kepala. Nanti pulang sekolah kita tengok lagi semutnya
bersama-sama. Sekarang, kita berangkat dulu!"
Agar
drama di atas tidak sering terjadi, kita juga bisa menerapkan pencegahan
sistem. Salah satunya adalah dengan melakukan buffer time (waktu jeda),
yaitu menyediakan waktu ekstra 15–20 menit dari jadwal seharusnya. Waktu ekstra
ini berfungsi untuk mengantisipasi "kecepatan internal" anak yang
berbeda dengan orang dewasa serta mempermudah proses transisi aktivitas mereka.
Dengan begitu, kita tidak hanya sedang mengejar jadwal, tetapi juga sedang
merawat anak dengan lebih baik.
Comments
Post a Comment