Descartes
pernah berkata, membaca buku bagus ibarat bercakap-cakap dengan para pemikir
hebat masa lalu. Lewat untaian kata, buku dapat menjelma sebagai jembatan
kebijaksanaan, tempat khazanah keilmuan dirawat dan diwariskan dari generasi ke
generasi. Oleh karena itu, orang tua yang membacakan buku kepada anak-anak
mereka sejak dini, sedang menyerahkan 'kunci emas' kepada anak-anak mereka
untuk membuka gerbang dunia yang tak terbatas: dunia imajinasi, ilmu
pengetahuan, dan empati. Uniknya, bagi anak-anak, gerbang dunia itu tidak hanya
lewat ensiklopedia, tapi juga fabel. Ada beberapa fabel favorit anak saya,
diantaranya seri franklin karya Paulette Bourgeois dan kisah Benyamin Kelinci
karya Beatrix Potter. Tapi kali ini bahas Benyamin Kelinci dulu.
Jadi
ceritanya Benjamin adalah seekor kelinci cerdik dengan tingkat kepercayan diri
yang baik. Gaya berpakaiannya nyentrik, ia memakai topi rajut wol longgar, tradisional
khas Skotlandia, berbentuk bulat dan agak ceper berwarna hijau tua, yang di
bagian tengah atas topinya terdapat hiasan jambul berwarna merah terang. Ia
juga memakai jaket coklat rajut, yang mengesankan lincah dan berjiwa petualang.
Ia memiliki ayah bernama Old Mr. Benjamin Bunny, dan beberapa sepupu bernama Flopsy,
Mopsy, Cotton-tail, dan Peter. Sepupu-sepupu Benyamin ini tinggal di bawah akar
pohon cemara besar, dekat kebun keluarga McGregor.
Ceritnya
bermula ketika pagi-pagi Benyamin melihat keluarga Mr McGregor pergi
mengendarai kereta kuda. Diceritakan disini, Mrs McGregor mengenakan topinya yang terbaiknya.
Artinya kebun kosong dalam waktu lama, dan ia berkesempatan mengunjungi
sepupu-sepupunya. Namun saat tiba, Benjamin bertemu sepupunya, Peter Rabbit, sedang
duduk sendirian, tampak murung, dan tubuhnya hanya dibungkus saputangan merah
besar. Peter merasa malu dan sedih karena jaket biru dan sepatu kecilnya hilang,
tertinggal di kebun Mr. McGregor. Benjamin kemudian mengajak Peter mengambil
bajunya di kebun Mr McGregor. Alih-alih lewat bawah pagar seperti biasa,
Benjamin mengajak Peter memanjat dinding pembatas melalui pohon pir. Di dalam
kebun, mereka melihat jaket biru dan sepatu Peter dipasang pada orang-orangan
sawah milik Mr. McGregor, lengkap dengan topi tua. Mereka berhasil melepaskan
pakaian tersebut. Peter merasa jauh lebih baik setelah memakai kembali
jaketnya. berjalan dengan dua kakinya, karena ketika tidak memakai baju, ia
berjalan dengan kedua kaki dan tangannya sekaligus, khas hewan pada umumnya.
Setelah
misi utama selesai, Benjamin malah bersantai dan tidak mau langsung pulang. Ia
malah mengajak Peter memetik bawang bombai untuk dihadiahkan kepada bibinya.
Benjamin memperlakukan kebun itu seolah miliknya sendiri, sementara Peter mulai
merasa cemas, ketakutan, dan ingin cepat-cepat pergi karena teringat traumanya
hampir dijadikan pai. Kemudian saat hendak pulang membawa seikat bawang dalam
saputangan merah, mereka tidak bisa memanjat dinding pembatas lagi karena beban
bawaan. Mereka terpaksa berjalan menyusuri papan-papan di bawah dinding. Tiba-tiba,
Peter melihat bahaya besar: seekor kucing peliharaan Mr. McGregor sedang
berjalan di dekat mereka. Saking paniknya, Benjamin dan Peter langsung
bersembunyi di bawah sebuah keranjang anyaman besar yang terbalik. Kucing itu
mencium sesuatu yang menarik, lalu berjalan mendekat, dan dengan santainya duduk
berbaring tepat di atas keranjang tersebut selama lima jam. Benjamin dan Peter
terjebak di dalam kegelapan, ketakutan, dan mencium bau bawang yang sangat
menyengat.
Untungnya,
ketika sore hari, ayah Benjamin datang ke kebun untuk mencari anaknya. Berbeda
dengan kelinci-kelinci kecil yang takut pada kucing, sang ayah digambarkan
sangat tegas dan tidak punya rasa takut. Ayah Benjamin langsung melompat dari
dinding, menerjang kucing tersebut, mencakar dan menendangnya hingga kucing itu
ketakutan dan lari bersembunyi ke dalam rumah kaca. Setelah mengunci pintu
rumah kaca dari luar untuk mengurung si kucing, ia mengangkat keranjang dan
mengeluarkan Benjamin serta Peter. Namun, alih-alih memeluk mereka, sang ayah
yang marah langsung mencambuk Benjamin dan Peter dengan sebatang ranting
sebagai hukuman karena telah nekat masuk ke kebun yang berbahaya tanpa izin.
Setelah itu, ia mengambil bawang bombai dan menuntun mereka berdua keluar dari
kebun.
Sepintas
kisah Benjamin terlihat sekadar cerita fantasi petualangan saja, tapi jika dibaca
lebih cermat, ada banyak hal menarik yang bisa didiskusikan dengan anak. Perlu
diketahui terlebih dahulu, cerita Benjamin terbit pertama kali pada tahun 1904
di Inggris. Dalam sejarah kepemimpinan Inggris, tahun tersebut merupakan masa transisi
dari kepemimpinan Ratu Victoria (era Victorian, 1837–1901) yang terkenal kaku,
religius, dan penuh disiplin; kepada kepememimpinan Raja Edward VII, putra Ratu
Victoria (era Edwardian 1901–1910) yang terkenal lebih santai, dan bebas.
Peralihan
zaman ini tercermin kuat dalam karakter Benjamin sendiri. Berbeda dengan Peter
yang masih membawa "trauma" dan ketakutan khas anak-anak era
Victorian yang terkekang, Benjamin muncul sebagai representasi anak era
Edwardian. Benjamin lebih santai, percaya diri, nekat, dan berani demi
bersenang-senang. Topi wol hijaunya yang longgar seolah menjadi simbol
perlawanan terhadap pakaian kaku anak-anak zaman dulu.
Gaya
kasual Benjamin ini mendobrak tradisi dress code keluarga Inggris kelas
atas masa itu. Pada era tersebut, masyarakat diwajibkan berganti pakaian hingga
empat kali sehari, mulai dari morning dress untuk sarapan, afternoon
dress untuk menerima tamu, hingga gaun atau jas formal khusus untuk makan
malam bersama keluarga. Anak-anak pun dipaksa memakai replika baju dewasa yang
kaku, mencekik, dan menghalangi ruang gerak. Melalui topi wol hijau yang ceper
dan jaket cokelatnya yang longgar, Benjamin melambangkan lahirnya generasi baru
yang menolak tunduk pada formalitas yang mengurung tersebut. Ia adalah simbol
kebebasan anak-anak untuk kembali ke alam, bergerak lincah, dan menikmati masa
kecil tanpa takut merusak lipatan baju mahal mereka.
Tradisi
yang dijaga ketat memang memiliki fungsi sosial dan filosofinya sendiri pada
masanya. Ia diciptakan untuk menjaga keteraturan, struktur, dan penghormatan
terhadap nilai-nilai leluhur. Sama dengan yang terjadi di Inggris, kerajaan-kerajaan
di Indonesia dulu, terutama Jawa, seperti Kasunanan Surakarta dan Kasultanan
Yogyakarta juga memiliki aturan berpakaian yang sangat ketat untuk membedakan
kasta. Motif seperti Parang Rusak, Barong, Udan Liris, atau Slobog
hanya boleh dikenakan oleh raja dan keluarga bangsawan (darah dalem),
sementara rakyat jelata yang nekat memakainya bisa dianggap melakukan
pembangkangan atau kualat. Kehilangan atau penyalahgunaan pakaian berarti
runtuhnya martabat. Runtuhnya martabat dalam dalam kisah Benjamin, dengan tokoh
Peter, ia kembali berjalan dengan empat kaki, khas hewan, dan tidak seperti
manusia yang berjalan dua kaki di cerita sebelum bajunya hilang.
Itu
baru soal baju tokoh-tokohnya. Ada lagi tentang ayah Benjamin, Old Mr.
Benjamin Bunny. Setelah
menyelamatkan Benjamin dan Peter dari ancaman kucing, ia tidak memeluk atau
menghibur mereka yang sudah ketakutan selama lima jam. Sebaliknya,
ia langsung mengambil sebatang ranting pohon dan mencambuk mereka berdua
sebagai hukuman disiplin karena telah melanggar aturan dan nekat masuk ke kebun
yang berbahaya. Secara sosiologis, karakternya mencerminkan figur ayah abad
ke-20 awal (era Victorian/Edwardian) yang sangat otoriter, kaku, namun
bertanggung jawab penuh atas keselamatan dan moralitas keluarganya. Hukuman
fisik pada masa itu dianggap sebagai bentuk kasih sayang yang mendidik agar
anak tidak mengulangi kesalahan yang mengancam nyawa.
Ada
satu lagi yang menarik, Beatrix Potter beberapa kali memunculkan nama-nama teh herbal,
termasuk teh bunga chamomile di akhir cerita. Jadi ceritanya, sebelum
obat-obatan modern mudah diakses, ibu-ibu di pedesaan Inggris mengandalkan domestic
medicine. Obat-obatan ini diracik sendiri dari tanaman di pekarangan rumah
mereka. Tradisi pengobatan berbasis kearifan lokal ini juga sangat kuat dalam kultur
masyarakat kita di Indonesia. Di Jawa misalnya, ada tradisi menyuguhkan segelas
teh manis hangat sebagai "peredam syok" instan saat anak menangis,
atau racikan empon-empon seperti wedang jahe murni dan beras kencur untuk
memulihkan stamina. Bahkan, tindakan intuitif seorang ibu yang membalurkan
parutan bawang merah dicampur minyak telon pada perut anak yang kembung adalah
bentuk nyata dari domestic medicine khas Nusantara.
Di balik narasi sederhana tentang petualangan
kelinci, Beatrix Potter sebenarnya sedang menyelundupkan rekam jejak sejarah,
kritik sosial, hingga potret psikologi pengasuhan zaman dulu yang sangat kaya. Saya
yakin masih banyak yang bisa digali. Di tangan orang tua yang jeli, buku
dongeng tipis sekalipun bisa berubah menjadi ruang kelas kehidupan yang tanpa
batas bagi anak. Selamat membaca, dan selamat menemukan keajaiban-keajaiban.
Comments
Post a Comment